mahadalyannur2.ac.id-“Jika kalian ingin aku menulis sebuah karangan yang memuat berbagai persoalan beserta jawabannya dan perselisihan pendapat ulama bahkan antar mazhab dilengkapi dengan dalil-dalilnya, niscaya akan kulakukan dengan pertolongan Allah. Karena tiada daya dan upaya kecuali dari-Nya,” ucap ulama bernama as-Suyuthi yang menunjukkan keluasan samudra ilmunya.
Dalam salah satu kitabnya, Husnu Al-Muhadlarah, beliau sudah menghafal Al-Qur’an pada usia delapan tahun. Tak puas dengan itu, kitab lainnya seperti Alfiyah, Minhaj Ath-Thalibin, Minhaj Al-Wushul dan Umdah pun sudah masuk ke otaknya yang masih dini.
Di zaman sekarang, baru hafal delapan juz saja sudah masuk televisi. Lantas bagaimana kiranya tanggapan masyarakat sekarang kalau mendengar anak secerdas Imam As-Suyuthi tadi? Hmm…
Ayah beliau merupakan ulama besar pada masanya. Dari beliau, Imam As-Suyuthi mewarisi perpustakaan pribadinya yang mengoleksi banyak kitab. Belum puas, As-Suyuthi tak segan-segan, juga sering mengunjungi perpustakaan madrasah Mahmudiyyah yang didirikan oleh Mahmud bin Ali Al-Istadar. Perpustakaaan ini memiliki banyak koleksi kitab-kitab langka dan menjadi salah satu perpustakaan terbesar di Kairo saat itu.
Untuk menunjukkan betapa akrabnya dengan perpustakaan tersebut, beliau mendata semua kitab di sana dalam karyanya yang berjudul Badzlu Al-Majhud fi Khazanati Mahmud (Sebuah upaya keras dalam perpustakaan mahmudiyah).
Kemahirannya dalam bidang formal maupun nonformal beliau buktikan dengan banyaknya karangan dengan bermacam-macam bentuknya. Karya perdananya, berjudul Syarah Al-Istiadhah wa Al-Basmalah yang dikoreksi oleh guru beliau, Imam Al-Bulqini. Beliau menulisnya saat masih umur 17 tahun. Pada usia tersebut beliau juga diberi wewenang untuk mengajar bahasa Arab. Baru pada umur 27, beliau diperbolehkan untuk mengajar ilmu lainnya dan berfatwa.
Namun, tak ada gading yang tak bengkok, ada satu ilmu yang beliau keluhkan karena sulitnya dalam memahami, yaitu ilmu hisab (matematika). Hingga, beliau umpamakan saat mempelajarinya serasa memikul gunung.
Tak kalah menarik, beliau berharap menjadi mujaddid kurun 900 Hijriah. Dalam karyanya yang berbentuk nazam, dengan pede-nya beliau menyebutkan,
و َهَذِهِ تَاسِعَةُ الْمِئِيْنَ قَدْ # أَتَتْ وَ لَا يَخْلُفُ مَا الْهَادِي وَعَدْ
وَ قَدْ رَجَوْتُ أَنَّنِي الْمُجَدِّدُ # فِيْهَا فَفَضْلُ اللهِ لَيْسَ يُجْحَدُ
“Sekarang ini, telah lewat tahun 900
Dan Allah takkan mengkhianati janjinya
Sungguh aku berharap agar menjadi mujaddid kurun ini
Maka anugrah Allah tak bisa untuk ditolak”
Nah, ini menurut pendapat beliau sendiri dengan menimbang kedalaman ilmu, kecerdasan, dan kejeniusan yang beliau miliki. Sedangkan menurut versi yang lain, ada yang mengatakan bahwa mujaddid kurun sembilan ratus hijriah adalah gurunya, Imam Jalal Ad-Din Al-Mahalli.
Imam As-Suyuthi hidup kira-kira selama 62 tahun. Pada sekitar umur 40 tahun, beliau mulai mengurangi aktivitas mengajar dan berfatwa. Sebagai gantinya, beliau berdiam di rumah untuk menulis karya dan mendekatkan diri kepada Allah.
Mengutip dari kitab Kasyfu Ad-Dhunun, karangan Imam As-Suyuthi mencapai 450 kitab dalam berbagai fan. Di antaranya: Jam’u Al-Jawami’ (nahwu), Durr Al-Mantsur (tafsir), Jami’ As-Shaghir (hadis) Alfiyah As-Suyuthi (ilmu hadis), ‘Uqud Al-Juman (balaghah) dan lain-lain.
Beliau juga dinobatkan sebagai pamungkas para ulama ahli tahqiq. Pernyataan ini dapat dibenarkan dengan melihat setelah masa beliau, kitab-kitab yang muncul kebanyakan adalah hasyiyah atau catatan pinggir berupa kutipan dari pendapat atau kitab karangan ulama sebelumnya yang mu’tabar. Akan tetapi, bukankah tidak mungkin kalau kita dapat “mematahkan” adagium tadi?
Penulis: Muhammad Faiq Fasya





