Pada malam Jumat, 5 Februari 2026, muktamar mini telah terlaksana. Muktamar ini, rencana akan menjadi bibit awal dari kegiatan diskusi untuk seluruh santri di Pondok Pesantren An-Nur II. Muktamar mini itu memiliki tujuan besar untuk membawa budaya berpikir dan bernarasi di kalangan kaum bersarung.
Sebagai permulaan, peserta hanya berasal dari mahasantri Ma’had Aly An-Nur II. Bertempat di lantai tiga gedung Ma’had Aly. Acara mulai sekitar pukul setengah sembilan. Para peserta duduk sambil membawa naskah yang akan menjadi objek diskusi.
Di setiap meja peserta tersedia konsumsi untuk menemani kala berpikir. Karena itu, para panitia sudah sibuk semenjak bakda maghrib. Sejak waktu itu panitia mulai berkutat untuk merapikan tempat, menyiapkan perlengkapan pemateri, konsumsi, dan lain-lain demi kesuksesan acara.
Dalam muktamar perdana itu, objek diskusi menggunakan naskah jurnal karya mahasantri bernama Bisri. Karya itu merupakan naskah yang dikirimkan ke acara call of paper yang diadakan oleh Muktamar Pemikiran Mahasantri. Karya Bisri berhasil menembus tulisan terpilih dalam acara tersebut.
Para peserta sudah mendapatkan naskah semenjak dua hari sebelum acara dilaksanakan. Hal itu bertujuan agar para peserta memiliki bahan matang untuk forum diskusi.
Acara dibuka oleh moderator yang menjelaskan runtutan acara. Ia juga menjelaskan alur diksusi agar lebih sistematis. Kemudian, acara berlanjut dalam kendali pemateri.
Pemateri adalah Bisri sebagai pengarang dari jurnal itu. Ia mempresentasikan karyanya secara kronologis. Bermula dari kegelisahannya dalam memikirkan peradaban yang lebih baik, hingga berhasil menemukan solusi melalui fikih industri dalam memecahkan masalah pinjol ilegal.
Bisri memperkenalkan karyanya sebagai rekomendasi. Jurnal buatannya menitikberatkan pada saran pembuatan program yang dapat menyelesaikan akar masalah orang-orang terjerat pinjol ilegal. Namun program tersebut tetap berlandaskan fikih industri, menyesuaikan pisau bedah yang ia gunakan.
Seusai penyampaian materi, moderator mempersilakan para peserta untuk memberikan pertanyaan. Sesi inilah yang menjadi inti acara. Pada sesi tersebut diskusi akan mulai terbuka. Pertanyaan akan datang, dan pemateri akan menjawab pertanyaan. Jika pemateri tidak mampu, peserta lain bisa memberikan jawabannya sendiri.
Para peserta bebas untuk mengeksplorasi karya Bisri. Mereka bisa menanyakan dari sisi kepenulisan maupun dari sisi materi. Peserta banyak yang mengangkat tangannya untuk memberikan pertanyaan. Mereka sering membahas dari sisi isi materi dan kritis menanyakan relevansi karya Bisri dengan teori fikih.
Kegiatan terakhir dari acara ini adalah kritik dan saran dari reviewers. Mereka berjumlah dua orang. Satu berfokus dalam menilai penyampaian alias public speaking pemateri. Sementara yang lain lebih menilai pada materi.
Penilaian dari para reviewers menjadi pelajaran tambahan bagi pemateri. Namun, meski ditujukan kepada pemateri, hal tersebut juga menjadi ilmu baru bagi para peserta yang mengikuti. Inilah salah satu manfaat dari diadakannya mukmatar mini ini.
Sebagai penutupan, salah satu penggagas acara, Ustaz Vicky mengucapkan rasa terima kasih kepada seluruh elemen yang terlibat dalam. Ia mengungkapkan rasa bersyukur karena berhasil mengadakan muktamar mini yang semoga menjadi dasar awal dari kegiatan diskusi besar di seluruh kawasan pesantren. Sebelum acara bubar, ia meminta kepada seluruh peserta untuk menuliskan saran dan kritik mengenai acara muktamar mini ini.
Acara diakhiri dengan doa. Para panitia sibuk kembali untuk membersihkan tempat. Semua peserta pun kembali ke kesibukannya masing-masing.
Penulis: Ahmad Firman Ghani Maulana





