Rihlah Ma’had Aly: Dulin Tetap Mengaji

mahadalyannur2.ac.id-Salah seorang mahasantri yang bernama Firuddin yang sedang menceritakan temannya menyetorkan proposal rihlah kepada Kiai Zainuddin, pengasuh Ma’had Aly An-Nur II, mengatakan bahwa Sang Pengasuh berbicara, “Yo, Ngono Dulin Onok Ngajine (Ya, begitu dong, rekreasi tetap ngaji).”

Senin, 23 Juni (2025), Ma’had Aly An-Nur II mengadakan rihlah. Rihlah merupakan kosa kata bahasa Arab berarti perjalanan. Ini merupakan kali kedua. Sebelumnya sudah ada tapi hanya diikuti oleh angkatan pertama dan kedua. Setelahnya, masih tidak ada sampai menginjak tahun 2025.

Ma’had Aly An-Nur II memiliki ideologi bahwa mengaji dan belajar merupakan hal yang paling esensial. Maka dari itu, rihlah juga tidak boleh terlepas dari kegiatan pembelajaran. Harus ada ilmu yang meresap ke pikiran mahasantri. Inilah manhaj dari Pengasuh yang beliau tanamkan kepada seluruh muridnya.

Rangkaian rihlah sudah bermula di hari sebelumnya, Ahad. Semua mahasantri mengunjungi makam pendiri An-Nur, Kiai Anwar pada sore hari. Di sana mereka membaca tahlil. Kemudian malamnya, mahasantri menerima informasi penting yang harus mereka perhatikan. Baru, setelah isyak, mereka menuju makam pengasuh pertama An-Nur II, Kiai Badruddin Anwar.

Semua peserta yang berasal dari maba sampai yang mau lulus pun ada beberapa dosen yang ikut, sudah menaiki bus sebelum jam tujuh. Ada dua bus untuk menampung semua peserta. Bus yang pertama terdapat para dosen, mahasantri semester dua dan yang mau lulus. Sedang di bus dua sisanya.

Destinasi pertama adalah Ma’had Aly Besuk, Pasuruan untuk menimba ilmu dari Kiai Muhibbul Aman. Beliau adalah guru yang mengajar di Sidogiri dan juga dosen marhalah tsaniyah di Ma’had Aly Lirboyo. Pun beliau adalah aktivis dalam dunia bahtsul masail. Ma’had Aly An-Nur II datang kepada beliau untuk mengkaji salah satu karangan beliau, kitab Ghurorul Baghiyah.

Kitab tersebut merupakan penjelasan dari nazam Faraidul Baghyiah, yang berfokus dalam disiplin kaidah fikih. Latar beliau membuatnya adalah sebagai kurikulum pemula yang ingin mendalami ilmu itu. Hebatnya, karya beliau itu dilirik oleh penerbit Mesir.

Beliau menerangkan tentang perbedaan kaidah fikih dengan kaidah usul dan furu’ (semua hukum yang sudah tercantum dalam kitab-kitab muktabar). Beliau juga menjelaskan maksud dari faqih yang sebenarnya. Bahwa faqih adalah orang yang telah menguasai tiga kajian ilmu; kaidah fikih, usul fikih, dan furu’. Tiga ilmu itu memiliki relasi yang kuat, dan beliau menerangkan hubungan kaidah fikih dengan furu’. Dari hubungan itu, ujungnya beliau menjelaskan maksud istidlal dan istinbath serta perbedaan keduanya.

Selesai beliau menyampaikan materi, moderator berkata, “Serasa ingin Ma’had Aly lagi.” Ucapan ini dimaksudkan bahwa materi yang beliau bawakan begitu intens dan luas. Moderator juga mengaku banyak ilmu baru yang ia dapatkan.

Selepas dari Ma’had Aly Besuk, rombongan menuju makam Sunan Ampel. Lalu, destinasi terakhir adalah makam Kiai Kholil Bangkalan. Uniknya, di sana para mahasantri membaca nazam Alfiyan ibnu Malik. Dan itulah kegiatan terakhir rihlah. Para rombongan pun pulang ke Pesantren Wisata.

Penulis: Ahmad Firman Ghani Maulana/Semester 4

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *