Umar Bin Khattab 

umarannur2

Suatu masa dalam kepemimpinan Sayyidina Umar, terjadi “tahun Abu”. Masyarakat arab menderita  masa paceklik berat. Hujan tak lagi turun, pepohonan mengering, hewan-hewan mati. Tanah tempat berpijak hampir menghitam layaknya abu. 

Suatu malam, bersama sahabatnya Aslam, Khalifah ‘Umar berjalan-jalan ke kampung terpencil yang berada di tengah gurun sepi. Tiba-tiba beliau terkaget. Dari sebuah rumah yang sudah rombeng terdengar suara gadis kecil menangis keras. 

Umar Bin Khattab dan Aslam bergegas mendekati kemah itu untuk mengecek bila penghuninya membutuhkan bantuan. Sesampainya di depan tenda itu, Khalifah Umar bin Khattab pun mengucapkan salam. “Assalamualaikum”… “Waalaikumsalam” jawab seorang wanita (sedikit mengabaikan dan kemudian melanjutkan pekerjaannya yaitu sambil mengaduk panci). 

Kemudian Sayyidina Umar berkata : “Boleh aku mendekat ? “Silahkan, jika kau membawa Kebaikan”, jawab wanita itu. 

Perbincangan sang Khalifah

Kemudian Sayyidina Umar mendekati wanita yang sedang mengaduk panci tersebut. “ Siapakah gerangan yang menangis di dalam itu?”, tanya Khalifah Umar.  Wanita itu menjawab. “Anakku…” “Kenapa anak-anakmu menangis? Apakah ia sakit? “Tidak, mereka lapar”.

Sayyidina Umar bin Khattab dan Aslam tertegun. Mereka masih tetap duduk di hadapan kemah dengan waktu yang lama. Gadis kecil itu masih terus menangis. Sedangkan ibunya terus mengaduk-aduk isi pancinya.

Sang khalifah kembali bertanya: “Apa yang sedang kau masak hai ibu? Kenapa tidak matang-matang juga masakanmu itu?”

Sayyidina Umar dan Aslam segera menjenguk ke dalam panci tersebut, alangkah kagetnya ketika mereka melihat apa yang ada di dalam panci tersebut.

Sambil masih terbelalak tak percaya Sayyidina Umar berteriak : “Apakah kau memasak batu?”  “Aku memasak batu ini untuk menghibur anakku, Inilah kejahatan sang Khalifah.

 Ia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi apa belum. Aku seorang janda.  

Sejak dari pagi tadi, aku dan anakku belum apa-apa. Jadi anakku pun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rezeki. 

Namun ternyata tidak. Sesudah magrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut yang kosong.

Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air.

Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku, dengan harapan ia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. 

Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar ia bangun dan menangis minta makan.”

Teguran bagi Sayyidina Umar

Wanita itu diam sejenak, kemudian kembali melanjutkan, “Namun apa dayaku? Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya.”

Mendengar penuturan wanita itu, Aslam berniat menegur perempuan itu. Namun Khalifah Umar sempat mencegahnya.

Dengan air mata yang berlinang beliau bangkit dan mengajak Aslam cepat-cepat pulang ke Madinah. Tanpa istirahat lagi, Sayyidina Umar segera memikul gandum di punggungnya, untuk diberikan kepada janda tua nan sengsara itu.

Sesampainya di sana, Sang khalifah memerintahkan Aslam untuk mengangkat sekarung gandum ke punggung beliau. “Angkatkan ke punggungku.”

Aslam pun berkata : “Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku yang memikul karung itu…”. “Aslam, jangan engkau jerumuskan aku ke dalam neraka, Engkau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau kira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak”, jawab Amirul Mukminin dengan wajah yang merah padam.

Ia pun tertunduk, dengan susah payah Amirul Mukminin berjuang memikul karung gandum itu. Angin berhembus membelai tanah Arab yang dilanda paceklik.

Sesampainya di tempat wanita tersebut sang Khalifah langsung memberikan serantang gandum dan membantu wanita tersebut untuk memasak.  

“Masukan gandumnya dan aku yang akan mengaduknya.” Kata Sayyidina Umar sembari meniup asap menghidupkan apinya.

Setelah masak, Sayyidina Umar pun mengajak keluarga yang miskin itu untuk makan. Wanita itu pun memanggil anak-anaknya : kemarilah, kemarilah anakku, ayo kita makan.

Sambil melihat mereka makan, Sayyidina Umar duduk tersenyum dalam hatinya. Hatinya berasa sangat lega karena melihat anak-anak kecil itu kembali gembira.

Wanita itu berkata : “Semoga Allah membalas kebaikanmu dengan yang lebih baik. Engkau lebih baik dibanding sang Khalifah.”

Sayyidina Umar berkata : “Berkatalah yang baik-baik, besok temui Amirul Mukminin dan kau bisa temui aku juga di sana. Insya Allah ia akan mencukupimu”. 

Kebijakan sang Khalifah

Pada keesokan hari, datanglah ibu itu ke Baitul Mal. Sayyidina Umar pun menyambut dengan senyum bahagia. Ketika ibu itu melihat wajah Khalifah, dia menyadari bahwa orang yang membantunya semalam adalah Umar bin Khattab sang Amirul Mukminin.

Wanita itu gemetar dan terlihat ketakutan, dengan rasa bersalah wanita itu berkata, “Aku mohon maaf! Aku telah menyumpahi dengan kata-kata zalim kepada engkau. Aku sudah siap menerima hukuman yang akan ditimpakan.”

Sayyidina Umar berkata : “Ibu tidaklah bersalah, akulah yang bersalah selama ini. Aku berdosa membiarkan seorang ibu dan anak kelaparan di wilayah kekuasaanku, bagaimana aku mempertanggung jawabkan di hadapan Allah?. Sudi kiranya ibu memaafkan aku?”.

Setelah ibu itu memaafkan sang Khalifah, beliau masih sempat datang membawakan makanannya sendiri sekedar untuk memenuhi kebutuhan makanan dan anaknya yang kelaparan.

Demikianlah kisah Umar bin Khattab, sosok pemimpin tegas namun beliau bersikap lemah lembut kepada rakyat kecilnya. Beliau selalu mengingat akan pertanggung jawabannya kelak di hadapan Allah SWT. 

Redaktur: Jais Kholik
Penyunting: M. Ihsan Khoironi

Tulisan Lainnya

Umar Bin Khattab 

umarannur2

Tulisan Lainnya