Banyak dari teman-teman santri yang kelihatanya baik-baik saja, senyum ceria, dan masih beraktivitas seperti kebanyakan orang. Tetapi sebenarnya mereka punya benang kusut di kepala yang perlu diluruskan. Bisa jadi mereka lagi capek, hafalan gak hafal-hafal, minder sama temen yang lebih pintar, dan lain sebagainya.
Menjaga kesehatan mental tak kalah pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik atau tubuh, bukan hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan, sayangnya kesehatan mental masih dianggap sepele oleh kebanyakan santri.
Lalu apa sih kesehatan mental itu? dan apa pengaruhnya?
Kesehatan mental adalah keadaan sejahtera di mana seseorang menyadari potensinya. Orang dengan kesehatan mental yang baik, mampu mengatasi tekanan hidup, dan menyikapi berbagai masalah, bahkan di beberapa jurnal disebutkan, bahwasanya kesehatan metal berpengaruh dengan prokduktifitas, dan kebermanfaatan yang lebih terhadap lingkungannya.
Dikutip dari Halodoc, seorang yang mentalnya sedang tidak baik-baik saja bisa ditandai dengan berubahnya perilaku, seperti sedih berkepajangan, kelelahan, sampai-sampai mereka memisahkan diri dengan komunitas nya. Banyak sih santri yang kayak gini!
Sebagai santri yang setiap harinya berhubungan dengan banyak orang, bertemu teman dengan berbagai gaya hidup, ada yang berasal dari keluarga berada, juga ada yang berasal dari keluarga yang biasa saja, ada yang memiliki pemahaman yang cepat dalam pelajaran ada pula yang yang lambat. Hal ini dapat menjadi ajang pembandingan diri. Fatalnya jika dibiarkan akan mengangu kesehatan mental santri.
Oleh karena itu, menjaga kesehatan mental bisa dimulai dengan hal-hal yang sering kita abaikan yakni menerima diri dan menetapkan tujuan hidup. Dengan menyadari bahwasannya semua orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Maka jangan membanding- bandingkan sesuatu yang seharus nya tak perlu dibandingkan.
Hiduplah dengan versi kita masing-masing. Hidup bukanlah kompetisi. Jangan anggap gambaran hidup seperti kita menaiki tangga, yang mana kita harus mengungguli seseorang untuk kita diangap. Tapi gambaran hidup bagaikan jalan kita masing-masing yang mana kita akan sampai pula pada tujuan bila kita fokus dan bersungguh-sungguh tanpa menghiraukan jalan orang lain.
Pada akhirnya hidup tanpa membandingkan dengan orang lain dapat mengurangi over thinking. Dampaknya akan sangat berpengauh bagi santri dalam hal kegiatan, keilmuan dan, berbagai kemajuan lainnya.
Penulis: Dava Setiawan Mujiono




