Aktualisasi Pemikiran dan Dromologi Peradaban Perspektif Paul Virilio

peradaban

Semua orang seringkali asyik dengan pikiran dan gumaman usilnya masing-masing. Bahkan tak jarang ekspansi besar berawal dari persetujuan-persetujuan petisi yang dinilai sampah. Maka pikiran-pikiran itu jika hanya berdebar bertalu-talu dalam benak tanpa sebuah persembahan yang luar biasa, tunggu saja kemusnahannya. Jangan sampai pemikiran maupun gagasan yang disuguhkan -meminjam istilah Jacques Derridaapokaliptik, hanya menjadi aporia besar namun harus bisa menimbulkan sebuah tindakan. Rupanya ini yang menjadi alasan mendasar Master Ferdinand Magelhaens dan karibnya Enrique el Negro membujuk raja muda Spanyol Carlos untuk sukarela memberi sponsor dan menanggung anggaran operasional armada de Moluccas untuk berkeliling dunia di awal abad 15 memecahkan Terra Incognita dalam erdapfel sekaligus membuka jalur ekspedisi laut dengan kurun waktu yang cukup singkat. Demi melakukan eksploitasi besar-besaran terhadap rempah-rempah. Demi urusan perut. Demi umur yang semakin menyusut. {Novel Clavis Mundi}

Pemikiran-pemikiran itu sejauh pemahaman intuitif kita adalah hasil konkrit suatu perenungan. Disimplifikasi menjadi ide pokok. Namun kita punya seni mengekspresikannya dengan ragam media. Menuangkan dalam tulisan. Puisi, cerpen, prosa, esai, opini, racauan, bunga rampai, resensi, dan lainnya. Menyuarakan lewat orasi. Mengudara di jejaring radio. Mengekspos di bentang media sosial. Lewat cuitan twitter, short story whatsapp, bingkai feed instagram, bahkan ada yang memperagakan idenya di tiktok dan youtube. Inilah bentuk publikasi ide. Sebelum membahas lebih jauh aktualisasinya. 

Rupanya publikasi ide saja tidak cukup. Nah pertanyaannya sekarang adalah seberapa pentingkah aktualisasi pemikiran? Mutakhir ini salah satu dosen yang sekaligus sosok support system saya mengulang berkali-kali tentang hal itu. Sependek pengetahuan saya, mengaktualisasikan pemikiran adalah kemampuan teknokratis. Sebuah kemampuan melihat persoalan, lalu menstrukturkannya, hingga sampai pada rumusan yang tidak berantakan. Karena persoalan yang bejibun itu tidak mampu melihat, dan yang bisa melihat pun belum tentu bisa menstrukturkannya. Setelah kemampuan teknokratis dikantongi. Langkah selanjutnya adalah menyusun strategi penerapan sistemnya. 

Contoh; Sebagai respon maraknya mobil listrik dimana-mana. Saya punya pemikiran untuk mewujudkan mobil listrik yang lebih canggih survive di berbagai medan (pemikiran makro). Maka langkah pertama saya adalah memahami komponen-komponen mobil listrik itu, mulai dari baterai traksi, inverter, traksi motorik, pengontrol, baterai bantu, pengisi daya, sistem termal, dan konverter DC (pemikiran mikro). Langkah berikutnya adalah merekrut para sarjana teknik untuk membuat mobil itu dengan jangka waktu sekian bulan (aktualisasi). 

Saya lapar (pemikiran makro). Saya punya solusi untuk makan pecel di warung Mbok Yem (pemikiran mikro). Kemudian saya bergegas mengambil sepeda motor dan melaju sekencang-kencangnya menuju warung itu (aktualisasi).

Saya ingin menjadi ilmuwan (pemikiran makro). Maka saya belajar hukum, politik, antropologi, ekonomi, filsafat, agama dan lain sebagainya (pemikiran mikro). Baru kemudian saya menjadi pembicara atau misionaris (aktualisasi).

Sesederhana itu bukan? Tapi mengapa pemikiran itu hanya menjadi sarang laba-laba yang mengakar di otak. Mari kita aktualisasikan! Kecut boleh. Jangan lupa mandi dan gosok gigi!

Seberapa Pentingkah Aktualisasi Pemikiran?

Kembali ke pertanyaan mendasar topik esai ini. Seberapa pentingkah aktualisasi pemikiran? Nah, di sinilah saya akan mengawal tesis menarik dari Paul Virilio. Pencetus “dromologi -berasal dari bahasa Yunani Kuno yang berarti pengetahuan tentang (fenomena) kecepatan-”. Simplifikasinya, dromologi adalah seni mengambil sikap untuk memecahkan masalah secara cepat dan tepat. Jika digeneralisasi, dromologi itu tidak melulu soal mengambil sikap (solusi) kalau tertimpa masalah saja melainkan respon kita terhadap perubahan-perubahan zaman yang progresif-represif memaksa kita agar segera beradaptasi. Bahkan buah dari pemikiran cemerlang kita jika tidak di dromologi maka hanya lenyap begitu saja. Di Barat sudah berpikir sudah mengirim konstruksi bangunan ke Mars, kita masih sibuk berpikir bagaimana cara bermain lato-lato. Eropa sudah menciptakan pesawat tanpa awak, kita masih sibuk berpikir bermain truck simulator. Amerika sudah berpikir bagaimana teknologi menjadi bagian dari kehidupan, kita masih berpikir satu tambah satu sama dengan dua. Berpikir memang melalui proses juga ada seninya. Tapi jauh lebih penting bagaimana memfaktualkanya. Ada Chat GPT,AI bahkan cloud computing

Mahasiswa yang kritis terhadap kekuasan dan politik jika tidak diseimbangkan dengan tindakan yang subversif, tidak mungkin Soeharto dengan berat hati menaruh kekuasan otoriter dan kekejaman-kekejaman lainya. Jurnalis yang hanya mengumpulkan sekian ribu teori kejurnalistikan jika tidak dipadu dengan energi menulis berita, mustahil ada platform-platform berita yang tersebar dan sialnya mustahil kita akan tahu keanehan-keanehan yang terjadi di penjuru dunia. Trendsetter yang hanya asyik dengan kekreatifannya, jika tidak disuarakan, mustahil kita mengenal trend-trend yang terkadang merampas budaya dan tradisi kita. Kyai yang ilmunya cukup komprehensif, jika hanya menutup diri, mustahil kedamaian dan pemahaman-pemahaman tentang kebenaran akan tersebar. Nabi jika hanya memikirkan wahyu itu hanya untuknya saja, mustahil ada dakwah dan ekspansi nafas keislaman. Tuhan jika hanya bangga dengan nama-Nya saja, mustahil Ia menciptakan dunia dan seisinya ini. 

Sekali lagi mengaktualisasikan pemikiran itu penting. Sepenting apa? Sepenting kita membaca berita ini. Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), survei kesehatan mental nasional pertama yang mengukur angka kejadian gangguan mental pada remaja 10-19 tahun di Indonesia. Menyatakan bahwa gangguan mental ternyata paling banyak diderita oleh remaja adalah gangguan cemas (gabungan antara fobia dan gangguan cemas menyeluruh) sebesar 3,7%, diikuti oleh gangguan depresi mayor (1,0%), gangguan perilaku (0,9%), serta gangguan stres pasca-trauma (PTSD) serta gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD) masing-masing 0,5%. 

Masih mau menjadi remaja pasif? Rumah sakit mental menunggumu. hiks-hiks-hiks. 

Ublek-Ublek: Novel Calvis Mundi, Wikipedia, dan hasil survei I-NAMHS

Redaktur: M. Iqbal Imami
Penyunting: M. Ihsan Khoironi

Tulisan Lainnya