Ma'had Aly An-Nur II Malang

Tanda Kebesaran Tuhan
Bagikan
Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
الٓرۚ تِلۡكَ ءَايَٰتُ ٱلۡكِتَٰبِ ٱلۡحَكِيمِ

“Dengan menyebut nama Allah SWT Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Alif Lam Ra. Inilah Al-Qur’an yang mengandung hikmah.” (Q.S Al-Yunus: 1-2).

Kandungan Ayat Al-Qur’an

            Al-Qur’an sebagai kalam Tuhan, memiliki fungsi yang penting bagi kehidupan manusia. Nabi Muhammad SAW, dalam hal ini adalah perantara Tuhan, mencoba menyampaikan kandungan isi Al-Qur’an. Sehingga, Al-Qur’an memang layak dijadikan pedoman hidup manusia. Maka, siapa pun orang yang mencari petunjuk melalui perantara Al-Qur’an, bisa dipastikan akan mendapat petunjuk yang benar. Sebaliknya, orang akan tersesat ketika salah dalam menentukan pedoman hidupnya.

            Pembahasan kali ini adalah lanjutan dari kajian Tafsir Al-Qur’an yang diampu langsung oleh KH Fathul Bari, pengasuh utama Pondok Pesantren An-Nur II Al-Murtadlo. Kitab yang digunakan adalah Tafsir Jalalain karangan Imam Jalaluddin As-Suyuthi dan Imam Jalaluddin Al-Mahalli. Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas mengenai kajian surah Al-Yunus ayat ke-1 dan ke-2. Mari kita simak!

            Surah Yunus, menurut Imam Hasan, Imam Ikrimah, Imam Atha’ dan Imam Jabir, termasuk kategori surah Makkiyah. Sedang menurut Imam Ibnu Abbas, surah ini memang kategori surah Makkiyah, namun tidak semua ayat. Ada sekitar tiga ayat, mulai ayat ke-94 hingga tiga ayat setelahnya, termasuk kategori surah Madaniyyah. Sedang menurut Imam Kalbi, surah Al-Yunus adalah surah Makkiyah, kecuali satu ayat saja yakni ayat ke 40. Jadi ulama sendiri masih berbeda pendapat mengenai status surah Al-Yunus, apakah murni surah Makiyyah atau Madaniyyah.

            Sekilas info mengenai Makkiyyah dan Madaniyyah. Dalam memahami ayat-ayat Makiyyah atau Madaniyyah, masih terdapat perbedaan di antara kalangan ulama. Hal ini dilatar belakangi oleh tidak adanya penjelasan langsung dari Nabi SAW. Umat Islam saat itu juga tidak membutuhkan keterangan mengenai Makiyyah dan Madaniyyah karena mereka langsung menyaksikan sebab, waktu dan tempat turunnya wahyu.

            Setidaknya, dalam mengartikan ayat-ayat Makiyyah atau Madaniyyah, ulama meninjau ada tiga aspek yang digunakan. Pertama meninjau aspek waktu. Kedua, aspek tempat dan ketiga aspek sasaran pembicaraan. Ketiga aspek ini yang menjadi pangkal dari perbedaan definisi mengenai ayat-ayat Makiyyah dan Madaniyyah di kalangan ulama.

            Ulama yang mengacu pada waktu turunnya ayat, mendefinisikan Makiyyah dengan ayat atau surat yang turun sebelum Nabi SAW hijrah ke Madinah, baik itu turun di Makkah maupun di tempat lainya. Definisi ini mencakup ayat yang turun pada saat Nabi SAW melakukan perjalanan menuju Madinah. Sedang definisi Madaniyyah adalah ayat atau surat yang turun setelah Nabi SAW hijrah ke Madinah meskipun turun di Makkah atau di daerah lainya. Sehingga ayat yang turun di saat peristiwa haji wada’, termasuk kategori ayat Madaniyyah.

            Definisi di atas, menggunakan hijrah Nabi SAW sebagai pemisah dan dianggap sebagai definisi yang paling mumpuni dan banyak dianut oleh mayoritas ulama. Hal ini dikarenakan bisa mencakup semua ayat Al-Qur’an yang ada. Sedang dua definisi setelahnya dianggap kurang bisa mengakomodir semua ayat Al-Qur’an yang ada.

            Kembali ke surah Al-Yunus di atas. Ayat pertama menyebutkan, “Alif Lam Ra”. Dalam memahami tafsiran ayat seperti ini, bisa meninjau pembahasan yang ada di dalam ayat pertama surah Al-Baqarah. Di ayat tersebut, bisa ditemukan beberapa ragam penafsiran. Ulama sendiri berbeda pendapat dalam menanggapi ayat sejenis ini. Ada yang tidak berani menafsirkannya, sehingga mereka lebih memilih dengan penafsiran “Wallahu a’lamu bi muradihi (Allah lebih mengetahui maksudnya). Ada juga ulama yang mencoba menafsiri dengan berbagai ragam bentuk tafsiran.

            Ayat semisal, “Alif Lam Ra” biasa dinamakan sebagai permulaan surah (awail surah). Ulama yang tidak berani menafsirkan ayat tersebut mengatakan bahwa ini adalah pengetahuan yang tertutup dan rahasia yang hanya bisa dipahami oleh Allah SWT, pemilik kalam. Sahabat Abu Bakar As-Siddiq berkata, “Di setiap kitab suci yang ada, Allah SWT memiliki rahasia di dalamnya. Dan rahasia Allah yang ada di Al-Qur’an adalah permulaan surah (awail surah).

Ketika Imam As-Sya’bi ditanya mengenai huruf-huruf sejenis “Alif Lam Ra” (permulaan surah), maka beliau mengatakan, “Ini adalah rahasia Allah SWT. Janganlah kalian mencari maksud yang dikandungnya.” Imam Abu Dhaiban juga pernah meriwayatkan keterangan yang berasal dari sahabat Imam Ibnu Abbas. Beliau mengatakan, “Para ulama tidak mampu memahami permulaan ayat Al-Qur’an ini.”

            Sedang ulama yang mencoba memberanikan diri untuk menafsirkan permulaan surah (awail surah) memiliki beragam corak penafsiran. Pendapat pertama, yakni berasal dari ulama mutakallimin, juga Imam Khalil dan Imam Sibawaih. Mereka mengatakan bahwa maksud dari permulaan ayat semisal “Alif Lam Ra” adalah nama surah itu sendiri. Pendapat kedua, diriwayatkan dari sahabat Ali bin Abi-Thalib, bahwa beliau menafsiri permulaan ayat sebagai salah satu nama bagi Allah SWT.

            Pendapat ketiga, muncul dari pendapat Imam Kalbi, Imam Sudi dan Imam Qatadah. Mereka mengatakan, permulaan surah adalah salah satu nama dari Al-Quran. Pendapat keempat, berasal dari Imam Mubarrid dan kebanyakan ulama muhaqqiq mengatakan bahwa Allah SWT sengaja menyebutkan beberapa permulaan surah sebagai bentuk penentangan terhadap orang-orang kafir. Ketika Nabi SAW menantang orang kafir untuk menciptakan sesuatu yang sepadan dengan Al-Qur’an, maka mereka tidak menyanggupinya. Bahkan hanya satu surah saja, mereka tidak bisa.

            Kemudian Allah SWT mendatangkan permulaan surah untuk menegaskan bahwa Al-Qur’an itu memang murni berasal dari Tuhan bukan dari manusia. Padahal saat itu, masyarakat Arab yang kebanyakan dihuni oleh orang kafir, sangat lihai dan pandai dalam masalah syair, ke-fashih-an suatu kalam dan lain sebagainya. Tapi kenyataannya, ketika ditantang oleh Allah mereka diam tidak bisa berbuat apa-apa. Malahan yang ada, mereka dibuat tercengang dengan keindahan Al-Qur’an.

            Nah, kesimpulan sementara adalah ulama memiliki titik perbedaan dalam memahami permulaan surah. Namun menurut KH. Fathul Bari, penafsiran dengan (wallahu a’lamu bi murodihi) lebih berhati-hati dan lebih banyak dipilih oleh ulama. Termasuk kitab Tafsir Jalalain memilih pendapat ini. Jadi daripada bingung mencari makna yang cocok untuk menafsiri ayat di atas, lebih baik dengan penafsiran tersebut. Mungkin lebih simpel.

Pembahasan selanjutnya adalah ayat kedua, yang artinya, “Inilah Al-Quran yang mengandung hikmah.” Dalam menafsiri lafad “Al-Hakim,” lagi-lagi ulama memiliki perbedaan yang beragam. Normal saja ketika ulama berbeda, karena otak dan pola atau cara berpikir yang dimiliki ulama berbeda satu dengan yang lainya. Di lain sisi, memang nas yang ada sangat berpotensi menimbulkan pemahaman yang berbeda. Jadi tidak usah heran ketika melihat perbedaan seperti ini.

Pendapat pertama mengatakan bahwa makna “Al-Hakim” adalah sesuatu yang memiliki hikmah. Jadi mengikuti pendapat pertama ini, Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang di dalamnya terkandung banyak hikmah. Pendapat kedua, bermakna sesuatu yang menghukumi. Jadi Al-Qur’an berfungsi sebagai kitab suci yang menghukumi suatu keyakinan (untuk membedakan keyakinan yang benar dan salah), menghukumi suatu pekerjaan (untuk membedakan yang baik dan buruk, benar dan salah). Al-Qur’an juga sebagai sesuatu yang menghukumi bahwa Nabi Muhammad SAW memang benar-benar sebagai seorang utusan Allah SWT.

Pendapat ketiga, makna “Al-Hakim” diartikan sebagai sesuatu yang akan senantiasa lestari, tidak lekang oleh waktu, dan selamanya akan eksis bisa dijadikan pedoman hidup manusia. Ini adalah pendapat yang juga diikuti oleh pengarang Tafsir Jalalain. Dan mungkin ini pendapat terakhir. Allah SWT menyifati Al-Qur’an dengan Al-Hakim karena di dalamnya, Allah SWT memberlakukan hukumnya. Mulai dari menghukumi seseorang yang taat dengan hadiah surga, juga neraka bagi seseorang yang melanggar syariat-Nya.

Mungkin cukup sampai di sini kajian Tafsir surah Al-Yunus. Semoga pemaparan yang ada bisa menambah pengetahuan kita serta menambah kecintaan kita terhadap Al-Qur’an. Dan yang paling penting, semoga kita bisa mengamalkan apa-apa yang terkandung di dalamnya, dan bisa menjadi umat Islam yang pandai bersyukur atas nikmat Al-Qur’an yang begitu besar. Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada KH. Fathul Bari, atas ilmu dan didikan beliau terhadap kami, santri yang merindu akan doa Kiai. Sekian! Terimakasih!

Sumber: Kitab Tafsir Al-Jalalain, Tafsir Al-Kabir Imam Ar-Razi, Tafsir Al-Qurtubhi

Penulis: M. Vicky Shahrul H

Penyunting: Syachrizal Nur R. S

Nilai Kami
5/5

Komentar