Mencintai adalah Memberi

mencintai

Cinta merupakan salah satu istilah yang sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Entah dalam hubungan keluarga, persahabatan, maupun asmara. Ketika kita berbicara tentang cinta, pastinya kita mempunyai perspektif masing-masing tentang kata tersebut. Namun pada intinya akan tetap sama, bahwa cinta memiliki makna kasih sayang.

Ketika sudah kita ketahui, bahwa secara umum cinta memiliki makna kasih sayang. Maka, alangkah baiknya bagi kita, untuk mengetahui esensi cinta yang sebenarnya (hakikat mencintai). Karena tidak jarang dari kita mengaku, bahwa kita telah mencintai seseorang, lawan jenis misalnya. Namun apakah pengakuan tersebut sudah sesuai dengan hakikat mencintai itu sendiri?

 Tidak jarang pula kita mendengar, bahwa tuhan mencintai hambanya yang baik. Dan juga banyak sekali anjuran bagi kita (para hamba) untuk selalu mencintai serta merindukan tuhan nya. Lantas bagaimana perwujudan cinta seorang hamba kepada tuhanya yang maha sempurna?, ketika kita memaknai hakikat cinta itu memberi, dan juga apa yang kita berikan kepadaNya, padahal Ia merupakan dzat yang Maha sempurna.

Imam A’thoillah dalam kitab Al-Hikamnya mengatakan, bahwa pecinta (orang yang mencintai) ialah, orang yang selalu memberi dengan tulus (tidak mengharapkan balasan apapun). Dari penuturan imam A’thoillah, dapat kita pahami bahwa ketika kita tidak memberi, maka kita tidak bisa mencapai hakikat mencintai. 

Sedangkan menurut imam Al-Ghozali dalam Ihya’ Ulumuddin mengatakan bahwa cinta, ialah sebuah ungkapan rasa suka terhadap suatu hal (seseorang). Dengan syarat hal (seseorang) tersebut, itu dapat menjadikan kita bahagia. Dari pengertian di atas, dapat kita pahami bahwa cinta itu tidak akan lepas dari subjek (pelaku), serta objek (hal yang kita cintai). 

Bukti Cinta

Setelah kita ketahui, bahwa cinta menurut imam Al-Gozhali ialah sebuah ungkapan rasa suka terhadap suatu hal. Dan juga tidak terlepas dari subjek serta objek. Maka perlu kita ketahui pula, bahwa manusia hanya bisa mencintai suatu hal, yang ia ketahui melalui panca inderanya saja. Baik berupa indra yang dzohir yang meliputi mata, telinga, dan lain-lain. Ataupun indra batin, yang berupa mata hati. 

Adapun bukti bahwa manusia mencintai suatu hal melalui indra batin ialah, banyaknya manusia yang suka terhadap hal yang tidak bisa diketahui oleh indra dzohir. Seperti; akhlak atau yang biasa kita kenal budi pekerti, karakter yang bagus misalnya. Begitu pula cinta hamba kepada tuhannya, itu hanya bisa diperoleh melalui indra batin (mata hati) saja.

Karena tidak bisa kita pungkiri, bahwa manusia adalah hamba dari segala keindahan (sesuatu yang enak). Terbukti dengan realita yang terjadi, bahwa manusia hanya suka sesuatu yang indah-indah saja. Seperti; rasa suka manusia terhadap suara yang merdu, paras yang cantik, dan juga pemandangan yang indah misalnya. Yang semuanya diperoleh melalui indra dhohir. Lantas apa alasan kita tidak mencintai tuhan dengan segala kebagusan serta keindahanya. Yang dibuktikan dengan sifatnya berupa al-kamal (yang Maha Sempurna), dan juga al-jamil (yang Maha Indah). Dari keterangan di atas, dapat kita pahami bahwa tidak alasan bagi kita. Yang berstatus hamba, untuk tidak mencintai tuhan nya. Lantas bagaimana perwujudan cinta hamba kepada tuhannya? Ketika kita katakan bahwa hakikat cinta adalah memberi, sedangkan tuhan sudah memiliki sifat al-kamal (yang maha sempurna).

Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin imam Al-Ghozali mengatakan, bahwa perwujudan cinta hamba kepada tuhannya ialah, dengan mengabdikan dirinya kepada tuhan. Dengan selalu melakukan segala perintah, serta anjuranya. Dan juga menjadikan tuhan sebagai prioritas utama dalam kehidupanya. Adapun perwujudan cinta tuhan kepada hambanya ialah, dengan memberikannya rasa taqwa, serta mendekatkan hamba-Nya kepada-Nya.

Kesimpulan

Maka dapat kita pahami bahwa antara imam Al-Ghozali dan juga imam A’thoillah tidak ada kontradiksi. Karena keduanya sama-sama setuju bahwa esensi cinta (hakikat cinta) adalah memberi. Dengan bukti cinta hamba kepada tuhannya, ataupun sebaliknya.

Redaktur: M. Rikza
Penyunting: M. Ihsan Khoironi

Tulisan Lainnya