Ma'had Aly An-Nur II Malang

‘Wajah’ Asli Syekh Muhammad bin Abdul Wahab dan Pembelaan Buya Muhammad Alawi
Bagikan
Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter

Tak dapat dipungkiri, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab mendapat kursi bintang mengenai akidah Wahabi yang pertama kali—sekaligus penyematan pada namanya—tersebar dan berkembang di negara Saudi. Akibatnya, Wahabi tumbuh optimal laiknya anak-anak sedang mengalami evolusi yang begitu cepat.

Ketika Wahabi mengakar kuat di negara Saudi, bahkan berhasil merenggut hampir seluruh keyakinan masyarakatnya, bagaimanapun Wahabi memperoleh otoritas penuh. Wajar saja jika kemudian negara mengadopsinya sebagai ideologi resmi yang patut dibanggakan. Maka sejak saat itu duka cita Wahabi adalah duka dan cita Muhammad bin Abdul Wahab sebagai satu-satunya inisiator berdirinya paham tersebut.

Namun, seperti kata adagium ‘tak ada gading yang tak retak’, di luar kehendak Syekh Muhammad ada beberapa ‘pengecut’ mencoba memorakporandakan ideologi dengan mengutak-atik kode-kode tertentu yang, tapi anehnya, diimani banyak penganutnya. Termasuk perubahan itu, yakni, budaya kafir-mengafirkan muslim yang beramal di luar ajaran mereka. Padahal, sikap tersebut tidak pernah diajarkan—apalagi dianjurkan—oleh Syekh Muhammad.

Penolakan Syekh Muhammad terhadap oknum ini terlihat jelas dalam surat yang dialamatkannya pada penduduk Qashim; tak dapat disangkal lagi, risalah (surat) Sulaiman bin Suhaim telah sampai pada kalian. Dan ternyata sebagian dari pegiat ilmu mengimani isi surat itu. Demi Allah, apa yang disampaikan surat itu penuh dusta. Dengan mengatasnamakan profil saya, sosok di balik surat melancarkan apa-apa yang tidak saya katakan bahkan yang tak pernah terlintas sedikit pun di benak saya.

Isi surat itu antara lain; menolak mazhab empat, bahwa perjuangan selama enam abad terakhir belum apa-apa dibandingku, kata Sulaiman. Aku ‘jijik’ untuk bertaklid[i], perbedaan ulama itu musibah—bukan rahmat, orang yang tawasul pada salihin ialah kafir dan Al-Bushiri[ii] termasuk si kafir itu karena ia telah mengatakan (pada satu baitnya); ya akramal khalqi (Wahai ciptaan paling istimewa). Aku ingin sekali—seandainya kuasa—merobohkan tungkup makam Nabi atau mengganti talang Ka’bah (yang terbuat dari emas itu) dengan kayu. Aku mengharamkan ziarah makam Nabi dan menolak ziarah kubur orang tua. Siapa saja yang bersumpah selain nama Allah, kafir. Ibnu Farid dan Ibnu Arabi keduanya sama kafir. Aku telah membakar kitab Dalail Al-Khairat dan Raudh Al-Rayahin kemudian kunamai Raudh Asy-Syayathin.

Pernyataan ini dikecam penuh oleh Buya Muhammad Alawi rahimahullah. Di akhir ulasannya beliau bertasbih ‘Subhanaka, ini semua adalah kebohongan besar’[iii]. Beliau menolak keras Sulaiman serta orang-orang dusta yang mengatakan Nabi Muhammad mencela Isa As bin Maryam dan yang mencela para salih. Hati mereka begitu petang oleh kebohongan dan perkataan buruk yang mereka dengungkan.

Syekh Muhammad adalah seorang dari ‘korban’ oknum-oknum seperti di atas. Sebagian paham Wahabi yang kini tersebar—termasuk budaya takfiri—merupakan eksploitasi atas motif tertentu dengan memanfaatkan profil Syekh Muhammad. Terlepas dari benar-tidaknya ideologi yang beliau gagas, bagaimanapun tindakan manipulasi seperti ini sangat jauh dan melawan ajaran agama khususnya Islam yang mendamaikan ini.

Tabik.

Penulis: Ilham Romadhan

Penyunting: Miqdadul Anam


[i] Suatu bentuk peniruan terhadap paham atau keyakinan tertentu tanpa mengerti dasar-dasar atau alasannya.

[ii] Pengarang Qasidah Al-Burdah. Nama lengkapnya Syarafuddin Muhammad Al-Bushiri.

[iii] Beliau mengutip ayat 16 surat An-Nur.

Nilai Kami
5/5

Komentar