Ma'had Aly An-Nur II Malang

Surat Untuk Para Teroris
Bagikan
Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter

Dalam suatu kesempatan, Khalid al-Walid memimpin pasukan menuju sebuah daerah yang dihuni Bani Judzaimah. Kedatangan Khalid ke sana untuk mengajak penduduknya memeluk Islam. Ia disambut beberapa penduduk yang membawa senjata. “Apakah kalian telah memeluk Islam?”, seru Khalid kepada mereka. “Kami sudah memeluk Islam”, tegas penduduk kepada Khalid. Bahkan, di antara mereka ada yang menimpali, “Shaba’na, shaba’na”,Kami telah meninggalkan kepercayaan leluhur kami.

Namun, jawaban mereka tak disertai penurunan senjata. Khalid curiga, jangan-jangan hanya omong kosong belaka. “Turunkan senjata kalian!”, perintah Khalid. Instruksi tersebut tak diindahkan, dan justru ditimpali, “Tidak. Tidaklah kami turunkan senjata, kecuali kami akan terbunuh. Kami tidak percaya kepada kalian”. Khalid terus mengklarifikasi, “Apa yang kau inginkan dengan senjata itu?”. “Sungguh, kami dalam pertikaian dengan suatu kaum, dan kami khawatir kalian berafiliasi kepada mereka”. Khalid kembali berujar, “Letakkan senjata kalian, mereka (musuhmu) telah menyerah”.

Melihat sebagian kaum Judzaimah meletakkan senjata, satu diantara mereka menyeru, “Celakalah kalian, dia adalah Khalid, tidaklah dia datang untuk membunuh kalian dan membalas dendam”. Melihat keadaan tersebut, Khalid terpancing emosi dan menginstrusikan menangkap mereka yang lari dan menghasut kaum tersebut. Setelah tertangkap, Khalid memberi instruksi agar mereka dibunuh.

Namun, instruksi ini ditentang keras oleh golongan Muhajirin dan Anshar yang ikut dalam pasukan Khalid. Mereka berkeyakinan bahwa Baginda Rasul hanya menyuruh mereka untuk mengajak mereka masuk Islam, tanpa pertumpahan darah.

Dan benar, instruksi di luar perintah Baginda Rasul tadi sampai kepada beliau. Beliau terhenyak, dan secara spontan berkata, “Sungguh, aku terbebas dari apa yang dilakukan Khalid”, tiga kali beliau berkata demikian.

Ada lagi, sebuah cerita populer dari Usamah bin Zaid, seorang kesayangan Baginda Rasul. Suatu saat Baginda menyuruhnya memimpin suatu detasemen khusus untuk memerangi kaum musyrik. Umat Islam menang. Namun ada suatu berita kurang baik sampai kepada Nabi.

Usamah membunuh seserang yang telah mengucap kalimat tahlil, lailaha illallah. Mengetahui hal ini, Baginda Rasul memanggil Usamah dan berkata, “Celakalah kau Usamah!, Apakah kau bunuh dia yang sudah berucap Laa Ilaaha Illa-l llah?”. Bermaksud membela, Usamah menjawab, “Dia berkamuflase, Baginda”. Baginda Rasul menimpali dengan kata yang sama, hingga membuat Usamah syok. Baginda pun berujar kembali, “Apakah kau telah bedah dadanya, sehingga kau tahu mana yang benar?”

Dua cerita di atas memberikan pesan besar, betapa iman, keyakinan adalah masalah hati. Siapapun tak berhak menjadi hakim akan keimanan seseorang. Selagi zahir tampak menyampaikan kebenaran, tak ada hak untuk mempertegas lagi kebenaran itu. Kesalahan besar, menganggap salah dan berbeda, saudara seiman yang tak berbeda pandangan pada kita.

Penulis: Muhamamad Az-Zamami

Penyunting: Ilham Romadhan

Nilai Kami
5/5

Komentar