Ma'had Aly An-Nur II Malang

Anies Baswedan; Belur-Belurnya Babak Berikutnya
Bagikan
Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter

…Secara khusus ini adalah hari terakhir saya bertugas di Jakarta. Bukan hari terakhir kerja…” Kata Anies Baswedan, Jumat (16/10/22). Sebuah kalimat perpisahan sosok negarawan kelas calon presiden. Menandakan jika 23 janji-janjinya di tahun 2017 lalu belum dibayar setuntas-tuntasnya. Tertangkap sedikit hasrat yang naluriah untuk memperluas ekspansi politik di babak berikutnya. Kalau sudah jadi Gubernur. Maka dianggap sudah menjadi tradisi jika tarafnya dinaikkan menjadi calon presiden 2024 kelak.

Siapa yang tak kenal Anies Baswedan? Sosok akademisi berintegritas yang masuk ke dunia politik. Dengan rekam jejak pendidikan yang cukup memukau. Dari fakultas ekonomi UGM, turut serta mendapatkan beasiswa musim panas Japan Airlines Foundation yang diselenggarakan oleh Universitas Sophia hingga merampungkan gelar masternya di bidang keamanan internasional dan kebijakan ekonomi School of Public Affairs, Universitas Maryland. Yang kemudian mengantarkan dirinya menjadi pengendali Kemendikbud di era Jokowi bahkan delapan tahun ia diberi amanah menjadi rektor Universitas Paramadina. Masalah pendidikan. Fix. Ciamik. Masalah ijazah kuliah aman.

Kita tengok melalui kacamata kepemimpinan. Bagi saya Anies Baswedan mampu menerjemahkan dengan cermat sebuah adagium “Sayyidul qaumi khadimuhum.’ Seorang pemimpin tugas utamanya adalah melayani. Dilihat dari seni memimpin yang tidak terlalu emotif dalam mengambil kebijakan layaknya pejabat-pejabat yang lain, ia juga termasuk pemimpin yang dialogis, alias kerap blusukan, pandai menyerap aspirasi dan konsisten mendengar keluhan-keluhan rakyatnya. Mungkin ia sadar, bahwa inspirasi itu didapat melalui interaksi, tidak melalui meditasi. Bahkan saking dialogisnya, ia hampir lupa memperhatikan selokan yang menganga di samping kakinya. Sebab ia paham mengapa interaksi harus dijalin? Ya disinilah letak perbedaan “I Alone Can Fix It-nya” Donald Trump dengan “We Can Fix Together-nya” Anies Baswedan. Ia hafal betul, bahwa Jakarta adalah representasi kecemasan yang bisa ditindak lanjuti secara bergotong-royong dengan para rakyatnya. Ia tidak sendiri merawat Jakarta. Ia bersama rakyatnya membangun narasi positif tentang bagaimana hidup bertahan di Jakarta yang dipenuhi bencana alam dan kasus-kasus megapolitan. Jakarta memang sak upoh, tantangannya yang sebesar tumpeng.

Dari serangkaian janji yang ia kemukakan di awal kepemimpinannya mengemban amanah sebagai Gubernur DKI Jakarta, hanya 5 aspek yang bisa kita jadikan bahan pertimbangan kesuksesan Anies Baswedan. Mengingat, memimpin daerah sak uplek yang sekaligus menjadi ibu kota Indonesia itu terlampau rumit dan kompleks juga tidak bisa kita anggap remeh dan mudah menjadi pemimpin di sana. Hanya orang-orang berkapasitas avatar saja.

Berikut 5 pencapaian Anies Baswedan selama lima tahun menjadi Gubernur DKI Jakarta. Pertama, dari aspek olahraga yang taraf ajang lombanya Internasional, di era Anies, 4 Juni 2022 yang lalu ia berhasil menuntaskan pembangunan Jakarta International E-Prix Circuit (JIEC) di mana sebelumnya tepat pada tanggal 4 April diresmikannya Stadion Jakarta International Stadium (JIS). Terlepas dari biaya konstruksi dan tenaga yang terkuras. Yang perlu kita ingat, Anies benar-benar serius membawa nama baik ibu kota negara ke seluruh dunia. Jakarta sudah menjadi sorotan. Jos. 

Kedua, dari aspek revitalisasi daerah, ia berhasil merekonstruksi ulang dekorasi Kota Tua Batavia, melebarkan dan memodernisasi Halte Trans Jakarta Senen dengan menggunakan empat skala prioritas pembangunan transportasi berbasis jalan raya di Jakarta yaitu pejalan kaki, pesepeda, kendaraan bebas emisi, angkutan umum serta kendaraan pribadi, disusul kemudian pembangunan Fly Over Tapal Kuda, juga terlihat pada sejumlah ruas jalan di mana trotoar yang pelan-pelan diperluas oleh Anies. Dan terakhir yang sempat booming, Kampung Susun Akuarium yang diresmikan bertepatan dengan HUT-RI ke 76. Ia menyulap Jakarta yang sempit dan berhimpit-himpitan itu menjadi susunan yang rapi dan presisi.

            Ketiga, aspek wisata di Jakarta. Anies memang pandai mengenang setiap tragedi yang terjadi, terbukti  dengan adanya penambahan JPO Pinisi di jalan Jenderal Sudirman sebagai tempat wisata di mana jembatan yang terdapat tulisan 37 nama tenaga kesehatan yang gugur akibat COVID-19. Tidak hanya JPO Pinisi, di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman sebelumnya sebenarnya sudah memiliki tiga JPO yang instagramable, yaitu JPO Bundaran Senayan, Gelora Bung Karno (GBK), dan Polda Metro Jaya.

            Keempat, Anies meramba keberhasilan di bidang digitalisasi data dengan menganggas aplikasi JAKI (Jakarta Kini). Aplikasi Jaki diluncurkan ketika kasus COVID-19 sedang merajalela. Dikhususkan hanya untuk warga Jakarta saja, JAKI merupakan pusat informasi penanganan COVID-19 di Ibu Kota. Tak hanya itu, Prestasi Anies selanjutnya berkenaan dengan mobilitas Jakarta yaitu integrasi transportasi. Dia membanggakan pencapaian Tarif Integrasi Transportasi JakLingko.

Dengan JakLingko semua warga dapat menggunakan fasilitas kartu uang elektronik atau aplikasi JakLingko untuk bertransaksi pada seluruh moda. Hal ini mengingat sebelumnya mereka harus butuh kartu-kartu berbeda untuk bisa mengakses transportasi yang berbeda. Tarif JakLingko cukup ekonomis yakni maksimal Rp 10.000 dengan tujuan ke mana saja. 

            Kelima, aspek penanggulangan bencana. Anies memiliki inisiatif yang solutif sekaligus kontroversial. Ya, dikenal dengan program ‘Sumur Resapan’. Ide dasarnya yaitu Pemprov DKI ingin membuat air masuk ke dalam tanah. Namun nyatanya, tidak semua karakter tanah di Jakarta mampu menyerap air. Pada saat pembangunannya juga menuai kritik karena menyebabkan kemacetan di beberapa titik jalan. Maklum. Jakarta memang kecil tapi nggregetno.

            Wajarlah, jika dengan 5 aspek ini Surya Paloh memobilisasi anak buahnya untuk berbondong-bondong menggandeng Anies. Di satu sisi karena Nasdem yang jumlah suaranya tak begitu banyak (dibawah 20%) bersama Demokrat dan PKS sadar bahwa masa depan kesehatan politik nasional sedang dipertaruhkan. Sementara dalam  psikologi politik, efek ekor jas (coat-tail effect) pun difungsikan oleh koalisi Nasdem untuk mengusung Anies sebagai figur berpengaruh atau tokoh eksistensialis dalam meningkatkan suara partai di pemilu 2024 nanti. Dari sinilah, Anies-lah yang diharap-harapkan bisa memberi kejutan baru untuk stabilitas politik nasional. Siapapun cawapres nantinya yang akan digandeng oleh Anies, yang pasti Anies sudah menunjukkan manuvernya sebagai calon presiden 2024 yang layak dipilih. Cuman satu sisi saya agak terkejut dengan sikap Anies yang mengafirmasi sinyal positif dari Nasdem. Kesannya, terburu-buru. 2024 masih panjang, sementara eskalasi politik sedang naik-turunnya. Riskan sekali untuk jejak politik Anies. 

Saya khawatir aja, Kaidah dalam fiqih yang berbunyi “Man ista’jala syai`an qobla awanihi, uuqiba bi hirmanihi” terjadi menimpa Anies. Sebab terburu-buru mengusung semangat menjadi presiden, yang ditakutkan justru sebaliknya, malah jadi menterinya presiden. Masih enak jadi menteri, coba kalau cuma jadi penyesalan seumur hidup. Bisa mati membawa kemurungan legit. Entah bagi partai pengusung atau si Anies sendiri.

Ublek-ublek dari: Wikipedia dan Liputan 6

Penulis: Mohammad Iqbal Imami

Editor: Syachrizal Nur .R.S

Nilai Kami
5/5

Komentar