Ma'had Aly An-Nur II Malang

Syarat dan Rukun Puasa
Bagikan
Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter

Sebagai sebuah bangsa mayoritas muslim terbesar dengan jumlah penduduk yang kurang lebih 90% beragama islam, tuntutan atau kiat islam dalam bidang peribadahan menjadi sangat relevan. Tidak hanya untuk didakwahkan atau dipublikasikan, melainkan sebagai prinsip yang harus dipegang teguh guna mewujudkan kehidupan yang sesuai dengan syariat.

 Adalah keyakinan umat islam bahwa setiap orang di muka bumi, mempunyai tugas untuk menjalankan syariat sesuai ketentuan-ketentuan yang telah ada. Dalam hitungan hari  ke depan, semua umat muslim akan kedatangan tamu istimewa yang ditunggu-tunggu selama berbulan-bulan. Bertemu Bulan Ramadhan merupakan momen istimewa yang hanya bisa didapatkan satu kali dalam satu tahun, itupun kalau sempat.

Oleh karena itu, dalam menyambut euforia Bulan Ramadhan, selain mempersiapkan kesiapan fisik tubuh agar bisa menjalankan puasa dengan lancar, kita juga perlu megetahui dan memahami mengenai tata cara yang benar dalam melakukan ibadah puasa. Hal ini dianggap penting agar puasa yang kita lakukan saat Bulan Ramadhan bisa dianggap sebagai ibadah yang sah dan sesuai dengan ketetapan syariat.

Seperti yang kita ketahui, bahwa segala bentuk ibadah pasti terikat dengan syarat dan rukun-rukun tersendiri. Begitu pula dalam hal puasa, sempurnanya puasa yang dilakukan seseorang bergantung pada syarat dan rukunnya.

Berikut ini syarat dan rukun (fardhu) puasa versi kitab Fath al-Qarib karangan Ibn Qasim Al-Ghazi.

  • Syarat wajib puasa:
  • Islam, sehingga tidak wajib berpuasa bagi orang yang beragama    nonmuslim.
  • Berakal, yang dimaksud berakal ialah tamyiz (mampu membedakan sebuah perkara yang batil dan haq). Sehingga bagi orang gila ataupun orang yang epilepsi tidak diwajibkan untuk berpuasa.
  • Suci dari haid dan nifas
  • Mampu melakukannya tanpa adanya kesulitan baginya
  • Syarat sah puasa
  • Islam
  • Berakal
  • Suci dari haid dan nifas(bagi perempuan)
  • Rukun puasa

1. Niat

Sahnya suatu ibadah bergantung pada niatnya, hal ini berdasarkan hadist nabi  إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى sehingga bagi orang yang akan berpuasa wajib banginya untuk berniat setiap hari. Akan tetapi Madzhab Maliki mencukupkan niat satu kali pada awal malam Bulan Ramadhan untuk puasa sebulan penuh, dan dalam permasalahan ini imam syafi’I juga mengikuti  imam malik.

Berbeda halnya dengan ibadah lain,  yang niatnya harus bersamaan  dengan ibadah yang di lakukan, pelaksanaan niat puasa dilakukan pada malam hari (tidak bersamaan dengan pelaksanaan puasa), karena sulitnya mengetahui terbitnya fajar secara pasti.

Adapun lafadz niat versi kitab fath al-qarib seperti berikut:

نويت صوم غد عن اداء فرض رمضان هذه السنة لله تعالى

2. Menahan diri dari perkara yang membatalkannya seperti:

  1. Makan dan minum dengan sengaja
  2. Bersetubuh atau istimna’ dengan sengaja
  3. Muntah dengan sengaja

Ketiga hal tersebut bisa membatalkan puasa jika memang si pelaku mengetahui tentang keharaman melakukan hal tersebut.

Setelah terpenuhinya syarat dan rukun yang telah disebutkan barulah ibadah puasa yang kita lakukan akan dianggap sebagai ibadah yang sah dan bernilai di sisi Allah.

Penulis: Muhammad Ihsan Khoironi

Penyunting: Muhammad Abror S

Nilai Kami
5/5

Komentar