Ma'had Aly An-Nur II Malang

Makna dan Historis Puasa Ramadhan
Bagikan
Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter

Islam adalah salah satu agama samawi yang memiliki berbagai ritual ke-agama-an yang sifatnya universal dan berbeda-beda cara pelaksanaannya. Salah satu ritual yang sering dilakukan oleh umat Islam adalah puasa. الصوم atau الصيام ialah masdar yang diambil dari fi’il madhi صام yang berarti puasa. Puasa secara bahasa ialah menahan dan secara syara’ ialah menahan dari sesuatu yang membatalkan dengan niat yang khusus pada siang hari yang bisa dilakukan untuk berpuasa bagi orang muslim, berakal, suci dari haid dan nifas. Pada saat berpuasa, pasti ada beberapa hal yang dilarang untuk kita. Seperti berkumpul, makan, dan minum.

Puasa baru diperintahkan bagi umat Islam pada bulan Sya’ban dua tahun setelah mereka, yakni Nabi Muhammad Saw dan para sahabat hijrah ke Madinah. Itu artinya ibadah puasa baru disyariatkan lima belas tahun setelah diproklamasikannya agama Islam. Penggembelangan dan penguatan akidah adalah prioritas utama dalam misi dakwah di awal kemunculan Islam. Ini bisa dibuktikan dengan adanya perbedaan karakteristik antar surat-surat yang turun di Mekah dan Madinah. Akidah yang tertancap dengan kuat dapat menjadikan perintah syariat mudah diterima dan dijalankan dengan ketulusan dan ketundukkan. Berbeda ceritanya jika umat sudah diperintahkan menjalankan kewajiban syariat padahal akidahnya masih rapuh.

Alasan kedua, karena situasi dan kondisi pada saat itu kurang kondusif. Ketika masih berada di Mekah, umat Islam masih disibukkan dengan berbagai macam teror yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy. Padahal untuk menjalankan ibadah puasa dibutuhkan suasana yang terang dan aman. Kondisi ini baru dirasakan oleh para sahabat ketika bermigrasi ke Madinah.  

Jika kita menelisik lebih dalam kepada literatur keagamaan, ritual puasa sebenarnya tidak hanya dilakukan oleh umat Islam. Umat Yahudi misalnya. Mereka berpuasa setiap hari ke sepuluh bulan Muharram. Mereka bahkan menjadikan hari tersebut sebagai hari raya agama. Mereka berkeyakinan bahwa hari ke sepuluh bulan Muharram memiliki banyak historis sejarah yang perlu dilestarikan. Salah satu peristiwa sejarahnya adalah diselematkannya Nabi Musa bersama Bani Israil dari kejaran Firaun dan bala tentaranya. Sehingga sebagai ungkapan rasa syukur atas pertolongan tersebut, Nabi Musa melakukan puasa setiap tanggal tersebut.

 Ilmuwan zaman modern memiliki inisiatif untuk meneliti dan mempelajari lebih dalam mengenai hal-hal yang berhubungan dengan puasa. Sebagian ilmuwan mencoba mencari hikmah dari diwajibkannya puasa kepada umat Islam. Para ahli kedokteran memberi isyarat bahwasanya seseorang yang memperbanyak makan dan minum berpotensi besar akan terserang banyak penyakit. Sebagian ahli hikmah berkata, “Barang siapa yang makan dan minum banyak serta tidur dengan durasi yang lama, maka dia sudah menyiakan-nyiakan umur (hidup) nya. Menurut mereka, puasa termasuk salah satu metode yang bisa digunakan seseorang untuk menyehatkan badan. Sehingga orang yang sering melakukan puasa, maka bisa dipastikan dia akan terhindar dari berbagai penyakit yang sering menjangkit tubuh manusia.

Terlepas dari sekian banyak ilmuwan yang mencoba mencari hikmah diwajibkannya puasa bagi umat Islam, tujuan akhir puasa adalah mencari ridho Allah Swt serta menjadi hamba yang bertaqwa. Di lain sisi, puasa adalah salah satu bentuk rasa syukur yang dilakukan oleh manusia kepada Allah Swt. Hal ini meninjau bahwasannya puasa adalah salah satu bentuk ibadah. Dari sini, kita sebagai umat Islam diwajibkan untuk melaksanakan puasa, tidak perlu memandang berbagai hikmah atau alasan kenapa Allah Swt memerintahkan puasa kepada kita. Sehingga ibadah yang kita lakukan memang benar-benar murni kerena Allah Swt semata. Sekian! Semoga bermanfaat!.

Penulis: M. Vicki S. H.

Penyunting: Muhammad Abror S

Nilai Kami
5/5

Komentar