Ma'had Aly An-Nur II Malang

Sanubari (Hati yang Abstrak)
Bagikan
Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter

“Dan ingatlah akan karunia Allah kepadamu dan perjanjianNya yang telah diikatkan kepadamu, ketika kamu mengatakan, “Kami mendengar dan kami menaati.” Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Maha Mengetahui segala isi hati.” (Q.S Al-Ma’idah: 7)

Dalam surah Al-Ma’idah ayat 7, redaksi lafadnya menggunakan shadrun yang bermakna dada, tapi yang dimaksudkan bukanlah dada, melainkan adalah hati sanubari yang tidak bisa dideteksi oleh alat apapun, yang tidak seorang pun tahu dimana letaknya.

 Namun, hati sanubari ini ada dan kita bisa merasakannya. Hati yang bisa patah ketika putus cinta, atau hati yang berbunga-bunga ketika berbahagia.

Ada seorang wanita terpikat dengan lelaki yang barusan dilihatnya, dan ketika lelaki tersebut pergi, si wanita berkata “Kau mencuri hatiku, hatiku.” Memang lelaki tersebut tahu letak hati si wanita itu, sampai-sampai ia bisa mencurinya? Atau ketika seseorang dirundung asmara, apakah ketika dirontgen (dipotret dengan sinar x yang dapat menembus bagian-bagian tubuh) hatinya berbentuk daun waru? Tentu tidak, itulah yang dinamakan hati sanubari.

Dalam ilmu balagah, hal tersebut (shadrun yang bermakna hati sanubari) itu dinamakan majas martabatain (majas 2 level). Maksudnya seperti apa? Yaitu lafad shadrun aslinya bermakna dada, tapi yang dimaksudkan adalah hati yang ada dalam tubuh kita. Nah, perpindahan makna tadi itu termasuk tahap awal. Lalu apa yang ada di dalam dada (hati) pindah ke hati sanubari yang abstrak itu, termasuk tahap kedua.

Allah menjadikan hati kita sebagai bejana (wadah) yang bisa menyimpan apa pun. Segala apa pun bisa masuk ke dalam hati. Jadi hati itu sangat luar biasa, bagaimana tidak? Perkara kecil maupun besar, susah maupun senang, benci maupun cinta seluruhnya bisa dimuat di dalam hati. Dan tidak ada orang yang tahu apa yang ada di dalam hati orang lain. Karena kita hanya bisa menghukumi yang zhahir saja. Adapun yang batin, hanyalah Allah dzat yang Maha Kuasa untuk menghukuminya. Wallahu A’lam.

Penulis: Syachrizal Nur R.S

Penyunting: Muhammad Abror S

Nilai Kami
5/5

Komentar