Ma'had Aly An-Nur II Malang

Mewaspadai Kufur Nikmat
Bagikan
Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter

“وَمَآ اَرْسَلْنَا فِيْ قَرْيَةٍ مِّنْ نَّبِيٍّ اِلَّآ اَخَذْنَآ اَهْلَهَا بِالْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُوْنَ – ٩٤

Dan Kami tidak mengutus seorang nabi pun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan agar mereka (tunduk dengan) merendahkan diri.

                Makna kufur menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) yakni tidak percaya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, juga bisa mengandung makna ingkar atau tidak pandai bersyukur. Nikmat yang telah Allah berikan pada semua makhluk-Nya amatlah banyak dan juga tidak bisa terbayarkan. Bahkan andai saja kalkulator berusaha menghitung nikmat Allah, maka sudah pasti angkanya tidak mampu menentukannya.

                Maka darinya, kita harus pandai-pandai bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan-Nya walau hanya sebiji gandum. Jangan sampai kita kufur dan merasa kurang, karena banyak sekali orang-orang yang kesusahan mencari sesuap nasi saja, sedang kita bisa makan tiga kali sehari. Jika kita kufur, maka Allah akan menimpakan azab-Nya.

                Orang yang beriman sekalipun dapat mengingkari pemberian Allah SWT dengan meremehkan berbagai anugerah yang ia terima misalnya. Kita tidak menyadari bahwa nikmat mata adalah sebuah anugerah yang amat besar. Kita bisa melihat keindahan alam dunia ini hanya dengan menggunakan kedua bola mata yang ukurannya kecil, namun dapat menangkap luas alam bumi.

                Tidak hanya mata, anggota tubuh lainnya juga bernilai sangat berharga. Bayangkan saja bila kita lumpuh dan buta, namun harta kita melimpah, apakah kita bisa menikmatinya? Tentu hanya sebuah bayangan semu saja kita bisa menikmatinya.

                Kepintaran, itu juga anugerah dari Allah, maka jangan sampai kita sombong atas kepintaran yang kita miliki. Banyak sekali orang yang rajin belajar namun hasilnya juga tidak sama, ada yang pintar, juga ada yang masih belum pintar. Oleh karenanya, kewajiban kita adalah terus berusaha untuk belajar, sedangkan kepintaran adalah anugerah dari-Nya.

                Begitu juga kaya, ketika kita kaya, maka jangan menyombongkan kekayaan kita, karena itu semua pemberian Allah. Baiknya kita jadi orang kaya yang bermanfaat bagi yang lain, karena sebaik-baiknya manusia adalah yang dapat bermanfaat bagi yang lain.

                Pesan juga dari Dr. KH. Fathul Bari S.S, M.Ag: “Santri lek muleh, didungakne sugeh” (santri kalau pulang, didoakan jadi orang kaya). Maksudnya kalau sudah jadi orang kaya, maka harus bermanfaat bagi yang lain juga. “Ketika sudah pulang dari pondok, jangan bingung cari kerja, tapi bingunglah mencarikan pekerjaan untuk orang lain”. Begitulah pesan beliau untuk para santri, agar mereka menjadi orang sukses yang bermanfaat, juga pandai bersyukur.

Penulis: Syachrizal Nur R.S

Penyunting: Muhammad Abror S

Nilai Kami
5/5

Komentar