Ma'had Aly An-Nur II Malang

Kenapa Perahu Nabi Khidir Tidak Dirampas?
Bagikan
Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter

Karena… Sebentar, saya mau bercerita.

            Ada kisah dalam Surah Al-Kahfi yang begitu masyhur di kalangan umat Islam selain cerita intinya, Ashabul Kahfi. Kisah tersebut adalah peristiwa perjalanan Nabi Musa yang berguru pada Nabi Khidir. Dari awal Nabi Khidir sudah mewanti-wanti Nabi Musa agar tidak menyangsikan apa yang diperbuat ketika melakukan perjalanan bersamanya. Perjalanan pun dimulai.

            Di awal perjalanan, Nabi Musa dan Nabi Khidir menumpangi sebuah perahu milik orang-orang miskin. Tak lama, Nabi Khidir tiba-tiba berlaku jazab. Beliau seketika merusak perahu yang ditumpanginya. Melihat hal itu, Nabi Musa memperingatkannya. Hal ini terekam jelas pada ayat 71 surah Al-Kahfi.

فَانْطَلَقَا حَتَّىٰ إِذَا رَكِبَا فِي السَّفِينَةِ خَرَقَهَا ۖ قَالَ أَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا إِمْرًا

“Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidir melubanginya. Musa berkata: ‘Mengapa kamu melubangi perahu itu (yang bisa) mengakibat kamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.’”

Nabi Khidir pun menegur karena tidak mengindahkan peringatan di awal sebelum melakukan perjalanan. Berlayar lama, ternyata perahu tersebut tidak tenggelam seperti yang diperkirakan Nabi Musa. Sehingga mereka berdua pun melanjutkan perjalanan. Berikutnya Nabi Musa kembali melanggar kesepakatan awal untuk tidak menanyakan perbuatan Nabi Khidir.

 Kelakuan Nabi Musa, yang melanggar perjanjian hingga tiga kali itu, membuat Nabi Khidir gerah dan mengatakan akan berpisah. Sebelum perpisahan, beliau memberikan tiga alasan mengapa berbuat perilaku yang dipertanyakan oleh Nabi Musa. Penjelasan pertama inilah yang akan menjawab pertanyaan di judul.

Kembali ke judul, “Kenapa Perahu Nabi Khidir Tidak Dirampas?” Padahal dalam Al-Quran dijelaskan,

…وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا

            “…karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.”

            Dari penggalan ayat tersebut dapat diambil pemahaman kasar bahwa dalam perahu yang ditumpangi Nabi Khidir tadi dipantau oleh seorang raja. Raja tersebut dikenal sebagai penguasa yang sangat zalim. Sebab setiap ada perahu yang melintasi daerah kekuasaannya akan dirampas.

Lalu, kenapa perahu yang ditumpangi Nabi Khidir tersebut tidak dirampas oleh sang raja? Padahal dalam Al-Quran jelas-jelas menggunakan kata كُلَّ, yang –seharusnya— bermakna setiap. Apakah ada kesalahan pemilihan diksi dalam Al-Quran yang terkenal tak memiliki celah?

Nah, di sinilah letak pentingnya memahami ilmu mantiq. Bagaimana kita mempelajari perbedaan kalimat kulliyah dan juziyyah. Apakah kata كُلَّ selalu bermakna ‘setiap’? Nyatanya tidak. Bila kita menengok ke beberapa kitab tafsir, semuanya sepakat bahwa perahu yang dirampas oleh sang raja bukan seluruhnya, melainkan hanya yang bagus-bagus saja. Hal ini dipertegas dengan perkataan Nabi Khidir,

أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا …

“Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu…”

Jelaslah di sini tujuan Nabi Khidir merusak perahu tersebut agar tidak dirampas oleh sang raja. Beliau tahu bahwa sang raja hanya merampas perahu yang bagus saja, yang memiliki aib tidak dirampas. Karena itu, kata كُلَّ dalam surah Al-Kahfi ayat 79 tersebut bisa dibilang bermakna sebagian, atau paling tidak maknanya tetap tapi dikhususkan, “… setiap perahu (yang bagus).”

Dan argumen di atas, bisa juga digunakan untuk memahami hadis kullu bid’atin, kan, Kang Wahaboy?

Penulis: Muhammad Miqdadul Anam

Penyunting: Muhammad Abror S

Nilai Kami
5/5

Komentar