Ma'had Aly An-Nur II Malang

Agama yang Bertauhid
Bagikan
Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter

Agama itu dalam bahasa arab digunakan dengan beberapa kata di antaranya  ad-Din, Millah, Syara’ , dan Syariat. Menggunakan Syar’an dan Syariat dari segi Allah menyariatkan sesuatu tehadap kita melalui lisan nabi. Menggunakan Millah dari segi Allah mendiktekan sesuatu kepada rasul sedangkan rasul mendiktekannya terhadap kita. Menggunakan Din (inilah yang paling sering didengar) dari segi bahwa kita meyakini serta terikat, dan menetap.

Pondasi agama itu ada tiga yaitu islam, iman, ihsan. Pengertian islam secara etimologi itu yakin, secara terminologi adalah meyakini hukum-hukum syar’iat. Pengertian iman secara etimologi itu pembenaran, secara terminologi kerela’an hati dengan pemantapan baik pemantapan terhadap dalil disebut dengan istilah makrifat atau sebatas taklid saja maksudnya keyakinan yang didapat dengan mengikuti pendapat ulama. Pengertian ihsan itu ikhlas atau bersungguh-sungguh dalam melakukan amal.

Penjelasan di atas diambil salah satunya dari hadits jibril yang ceritanya dulu saat para sahabat njagong dengan nabi tiba-tiba saja ada orang tidak dikenal yang datang,  kemudian ia njagong dengan nabi setelah terjadi perbincangan panjang ia tiba-tiba pergi. Kata nabi itu jibril ia datang umtuk mengajari sahabat tentang agamanya. Jika dibandingkan mana yang lebih utama antara iman dan islam dalam kitab Kasyifah As-Saja karya syekh Nawawi al-Bantani dijelaskan ibadah batin lebih afdal daripada ibadah lahir dan yang paling utama adalah iman.

Islam itu sangat identik dengan tauhid yaitu kepercayaan satu. Ada sejarah unik, dimulai dari Nabi Adam diciptakan setelah melewati proses yang panjang kemudian lahirlah generasi-generasi selanjutnya sampai tiba waktunya Nabi Muhammad SAW untuk terutus. Dari keseluruhan generasi tersebut terdapat suatu aturan hidup dari tuhan untuk ditaati oleh manusia. Aturan tersebut  dititipkan kepada manusia pilihan-Nya untuk disebarkan atau digunakan untuk diri sendiri biasa dikenal dengan istilah syariat. Pengkategorian syariat secara umum dibagi menjadi 3, yakni: Akidah, Akhlak, Fikih

Syariat pra-islam dan pasca islam secara garis besarnya ditemukan suatu titik temu dalam ajarannya dan ditemukan perbedaan-perbedaan di antara keduanya. Diantara titik yang sama ialah pada masalah akidah secara  umum. Baik Pra-Islam maupun Pasca Islam sama-sama berakidah tauhid yakni mempercayai “lailaha illa allah” dan tiada suatu makhluk apapun yang dapat membandinginya dalam segala aspek.

Akidah secara literal adalah sebuah kepercayaan. Setiap individual mahluk secara pasti mempunyai akidah masing-masing. Akidah sangat plural sekali, jika dibagi dengan garis besarnya maka akidah dibagi menjadi dua: Akidah Haq dan Akidah Bathil. Akidah haq adalah akidah tauhid yakni akidah monotesime yang meyakini bahwa tuhan esa adalah Allah swt. Akidah bathil adalah selainnya. Akidah haq itu islam yang ada kaitan erat dengan keimanan. Akidah bathil banyak ragamnya diantaranya Akidah Tastlist-Nasrani, Akidah Yahudi, Akidah Majusi, dan banyak yang lainnya.

Dulu di Nusantara Pra-Islam terdapat suatu ajaran atau agama yang dikenal dengan nama Kapitayan. Salah satu ajarannya  dalam aspek akidah ialah sebuah kepercayaan yang menuju sesembahan utama yang disebut “sang hyang taya” yang bermakna hampa atau kosong. Ajaran ini termasuk monotesime walaupun dalam kabut sejarah. Belanda menyalahpahami bahwa ajaran Kapitayan adalah Animisme-Dinamisme. Animisme adalah kepercayaan pada roh halus. Dinamisme adalah kepercayaan magis dari benda pusaka

Dari aspek pendidikan bidang yang paling fundamen ialah pengajaran dalam bidang tauhid guna meningkatkan spiritualitas dan menjadi landasan utama untuk menjadi dasar mengembangkan segala aspek kehidupan. Biasanya dalam dunia pesantren dalam mengajarkan tauhid terhadap santri kecil guru menerangkan tentang akidah lima puluh secara global serta diselingi cerita para ulama atau para nabi, tujuannya agar tidak bosan dan membentuk karakter.

KH. M. Hasyim Asy’ari pendiri NU dalam kitabnya Adabul ‘Alim wal Muta’alim mencantumkan perkataan sebagian ulama, “Tauhid membawa iman.  Barang siapa yang tidak memiliki iman, berarti tidak mempunyai tauhid. Iman mendatangkan syariat. Barang siapa yang tidak mempunyai syariat, maka tidak memiliki iman dan tauhid. Syariat menyebabkan munculnya akhlak. Barang siapa yang tidak berakhlak sama dengan tidak mempunyai syariat, iman, dan tauhid.”

Dari potret perkataan ulama tersebut bisa diketahui bahwa tauhid sangatlah fundamen, karena diletakkan pada bagian pertama serta keseluruhan aspek dibangun di atasnya.

Penulis: Ibrahim

Penyunting: Muhammad Abror S

Nilai Kami
5/5

Komentar