Ma'had Aly An-Nur II Malang

Imam Nawawi
Bagikan
Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter

Nama lengkapnya adalah Abu Abdul Mukthi Muhammad Nawawi bin Umar bin Arabi bin Ali At-Tanari Al-Bantani Al Jawi As-Syafi’i. Beliau lahir di desa Tanar, daerah Banten Jawa barat sekitar tahun 1230 H atau bertepatan pada tahun 1813 Masehi. Orang tuanya memberi nama depan Muhammad, itu diambil dari nama baginda agung, Muhammad SAW. adapun  nama belakangnya, Nawawi itu diambil dari nama seorang ulama besar yakni Abu Zakaria Yahya bin Syarofuddin An-Nawawi.

Beliau sangat mencintai ilmu agama dan para ulama, sehingga di waktu kecil, beliau memutuskan diri untuk berangkat ke Mekah untuk menuntut ilmu. Di kota Mekkah, beliau bersama Syekh Ahmad Nahrawi, Syekh Ahmad Dimyati berguru kepada Syekh Zaini Dahlan. Setelah dari kota Mekkah, beliau melanjutkan perjalanannya menuntut ilmu ke kota Madinah. Di kota Rasulullah Muhammad SAW itu, beliau berguru kepada Syekh Muhammad Khatib Al-Hambali.

Tatkala beliau belum merasakan puas dengan hasil yang beliau dapat, maka beliau memutuskan untuk mengembara jauh meninggalkan kota Mekkah menuju daerah Kinanah, salah satu daerah di Mesir. Mesir terkenal dengan negara yang aman, kota dari segala ilmu. Imam Nawawi belajar di Universitas Al-Azhar, salah satu universitas yang menjadi kiblat ilmu dan ulama terkenal di zamanya. Tujuannya ke sana tidak lain ingin belajar mengaji kepada para ulama di sana. Perjalanan beliau berlanjut ke tanah Syam untuk beberapa kepentingan yang beliau perlukan.

Syekh Imam Nawawi Al-Batani sesekali pulang ke tanah airnya, Indonesia, untuk menyebarkan ilmu yang sudah beliau peroleh untuk kemudian disampaikan kepada penduduk, masyarakat, dan orang-orang yang beliau cintai. Aktivitas keseharian yang beliau lakukan adalah menyampaikan bejangan ilmu (tutur) dan mendidik pemuda-pemuda di sana yang kelak di kemudian hari akan menjadi seorang tokoh besar dalam organisasi agama Islam. Hal ini bisa dibuktikan dengan  Syekh Hasyim Asy’ari Jombang, pendiri organisasi Nahdhatul Ulama, Mbah Kholil Bangkalan, Sang Guru ulama Indonesia, serta beberapa ulama lainnya.

Setelah beberapa waktu, Syekh Nawawi kembali ke kota Mekah, hal ini diakibatkan beberapa aktivitas yang biasa dilakukan oleh beliau mendapat pembatasan, efek dari adanya penjajahan yang dilakukan bangsa Belanda pada saat itu. Sekembalinya ke kota Mekah, beliau berusaha mengupas kebodohan, kesesatan, dengan ilmu dan iman sebagai gantinya. Beliau rutin beriktikaf di Baitullah di sela-sela beliau mengarang kitab dan belajar-mengajar.

Beliau sangat produktif dalam mengarang kitab-kitab. Hampir dalam setiap fan ilmu beliau memiliki karangan pribadi. Mulai dari fikih, usul fikih, tauhid, tasawuf, nahwu, shorof bahkan pemilik kitab Kasyifa Dunun mengungkapkan bahwa karangan Imam Nawawi kurang lebih 90 kitab dan mayoritas telah dicetak. Namanya terkenal sampai ke berbagai belahan dunia seiring tersebarnya beberapa kitab beliau ke berbagai tempat.

Salah satu julukan yang disematkan kepada beliau adalah “Sayyid Ulama Hijaz” yang diberikan oleh ulama Mesir atas kekagumannya terhadap salah satu karangan kitab beliau yakni “Tafsir munir lima’ail tanzil” yang dikenal dengan sebutan Marahul labid. Imam  Nawawi adalah sosok ulama’ yang tawadhu’, pecinta pekir miskin, zuhud semangatnya yang luar biasa dalam hal urusan ilmu agama. Dulu beliau pernah mempunyai cita-cita hendak menyarahi kitab “Minnhaju tholibin” akan tetapi Allah swt. Telah lebih dulu memanggil beliau wafat di akhir bulan syawal, 1314 H/1897 M. Di kota Mekkah Al-mukarromah. Beliau di kubur di Ma’za, satu tempat dengan makam Asma’ binti abi bakar dan ibnu Hajar al-haetami.

Cerita singakat di atas saya ambil dari muqodimah tausyaikh.

Penulis: Jaiz Kholiq

Penyunting: Abror

Nilai Kami
5/5

Komentar