Ma'had Aly An-Nur II Malang

Melatih Mental dengan Tampil di Depan Publik
Bagikan
Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dakwah diartikan sebagai penyiaran agama dan pengembangannya di kalangan masyarakat. Dari sini dapat disimpulkan bahwa dakwah merupakan suatu sarana untuk menyebarluaskan ajaran agama pada khalayak umum. Maka dari itu, tidak asing lagi jika pesantren memiliki suatu kegiatan pembelajaran dakwah, karena hal ini penting dan harus diamalkan oleh orang yang tepat.

2 Desember 2021 Mahad Aly An-Nur 2 mengadakan suatu kegiatan sebagai penutup rutinan malam Jumat yakni pembacaan selawat diba’ kemudian disusul dengan pelatihan ceramah bagi mahasantri. Tema pada malam itu yakni “Pelatihan dan Praktik Kemasyarakatan ‘Menuju Ulama Muda yang Profesional, Inovatif dan Kompetitif.’”

Kegiatan diawali dengan pembacaan selawat diba’ dengan diiringi al-banjari yang diikuti oleh seluruh mahasantri mulai dari semester satu hingga semester lima. Para mahasantri antusias mengikuti acara tersebut. Terbukti dari ekspresi wajah mereka yang terlihat berseri-seri dan bahagia akan tambahan ilmu yang bakal mereka peroleh.

Setelah pembacaan selawat diba’ rampung, dilanjut dengan pembukaan acara yang disampaikan oleh Abror, mahasantri aktif, sebagai master of ceremony. Pembacaan surah fatihah sebagai pembuka untuk acara tersebut, dengan harapan agar kegiatan lancar dan berkah hingga akhir. Berlanjut ke acara kedua yakni penyampaian ceramah pertama yang disampaikan oleh saudara Ahmad Firdaus dengan tema istikamah. Ia menyampaikan bahwa istikamah merupakan suatu hal yang kelihatannya kecil namun berat untuk diterapkan. Semisal kita melakukan hal baik kecil, ambil contoh saja sedekah seribu rupiah di masjid per hari. Memang minggu-minggu pertama mungkin kita masih sanggup menjalankan, namun setelah beriringnya waktu, belum tentu kegiatan itu terus-menerus kita lakukan. bisa saja karena faktor sibuk, lupa atau entah alasan apalagi. Namun apabila kita dapat menerapkannya secara rutin, maka itu merupakan suatu hal yang patut dipertahankan, karena sangat mahal sekali harganya.

Mungkin demikian sekelumit materi yang disampaikan oleh saudara Firdaus. Kemudian dilanjutkan oleh penceramah yang kedua yakni Moh. Mahfudz Ihsan Az-Zamami dengan tema taat pada pemimpin. Ia menegaskan bahwa kita yang ada di pesantren ini memiliki dua tanggung jawab, yakni tanggung jawab sebagai anak dan sebagai santri. Tanggung jawab kita sebagai anak yakni dengan birrul walidain (berbuat baik pada orangtua). Inti dari birrul walidain itu ada dua, pertama yakni mengerahkan seluruh tenaga untuk melayani orangtua, sedangkan yang kedua ialah taat pada mereka berdua kecuali pada kemaksiatan. Maka jangan sampai kita lupa untuk mendoakan mereka berdua, karena mereka berdua merupakan sosok yang sangat menyayangi anak-anaknya dengan tulus tanpa pamrih.

Kemudian tanggung jawab kita sebagai santri ialah mahabbah (cinta atau bangga) pada kiai, yakni taat, sabar dan menerima segala apa yang diperintah kecuali kemaksiatan. Mahabbah pada kiai merupakan suatu jalan keselamatan bagi seorang santri. Diceritakan bahwa dahulu Imam Bukhari ketika telah merampungkan ngajinya, maka beliau matur pada gurunya perihal kitab apa yang akan dikaji berikutnya. Kemudian gurunya memerintah beliau untuk mendalami ilmu Hadis, padahal kala itu Imam Bukhari memiliki himmah dalam kajian Fikih. Namun, karena itu adalah perintah dari gurunya, maka beliau melaksanakannya, walhasil beliau terkenang namanya sebagai ahli hadis yang sangat masyhur.

Dua penceramah telah merampungkan materinya, maka berlanjut pada acara selanjutnya yakni koreksi dan penyampaian materi pembelajaran ceramah yang disampaikan oleh Kiai Imam Muslim. Beliau memberikan penjelasan bahwa sejak lahir hingga sekarang, kita tidak sadar kalau sudah belajar mengenai dua hal,yakni bergerak dan berbicara. Saat kita sudah pandai bergerak, maka kemana saja kita pasti ingin berkelana. Sedangkan pada saat kita lihai berbicara, bisa jadi kita asyik jagongan sampai lupa waktu seperti tidak kehabisan materi.

Menurut beliau, podium itu bisa menjadi sebuah masalah saat kita berorasi atau sedang menyampaikan sesuatu pada orang banyak, kenapa? Kita yang awalnya gagah perkasa, ketika menghadap podium bisa menjadi tidak percaya diri, ndredek istilah jawanya. Namun tidak semua begitu, adakalanya podium juga bisa menjadikan seseorang lebih percaya diri, karena seakan-akan saat penceramah menggunakan podium, maka para jemaahnya hanya memandang tubuh bagian atas si penceramah itu saja, maka saat bagian tubuh gemetar, para jemaahnya tidak mengetahuinya.

Kiai Imam Muslim bercerita, Kiai Bad dulu itu ingin para santrinya dapat menguasai podium dimana pun berada. Mengapa? Agar orang-orang tepatlah yang menguasai sebuah podium, bukan orang-orang yang nyeleweng. Beliau juga menyarankan untuk menyisipkan sebuah cerita pada saat ceramah, agar terkesan lebih bersahabat dengan mustami’. Jadi, isi ceramah tidak monoton, juga tidak ada kesan menggurui.

Penulis: Syachrizal Nur R.S

Penyunting: Abror

Nilai Kami
5/5

Komentar