Ma'had Aly An-Nur II Malang

Khiyar Dalam Muamalah
Bagikan
Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter

Secara harfiah, khiyar artinya adalah pilihan. Dalam fikih, khiyar adalah pilihan seseorang antara meneruskan atau merusak transaksi jual beli. Adanya khiyar ini ditujukan untuk memudahkan kedua belah pihak, pembeli mengembalikan barang  yang dirasa tidak sesuai dengan yang diinginkan, dan penjual bisa memastikan barang yang dijual.

Proses adanya khiyar ini telah ditetapkan oleh syariat agar tidak ada unsur kerugian dari kedua belah pihak. Syariat ini berdasarkan hadist Nabi yang berbunyi.

عن عبد اللّه بن الحارث قال: سمعت حكيم بن حزام رضي اللّه عنه عن النبي صلى اللّه عليه وسلم قال: البيعان بالخيار مالم يتفرقا، فان صدقا وبينا بورك لهما بيعهما وان كذبا وكتما محقت بركة بيعهما (رواه البحاري)

 Dari Abdullah bin Harits ia berkata: saya mendengar Hakim bin Hizam r.a dari Nabi Saw beliau bersabda: “penjual dan pembeli boleh melakukan khiyar selama mereka berdua belum berpisah. Apabila mereka berdua benar dan jelas, maka mereka berdua diberi keberkahan dalam jual beli mereka, dan apabila mereka berdua berbohong dan merasiakan, maka dihapuslah keberkahan jual beli mereka berdua. (HR. Al-Bukhari).

Perlu diketahui, khiyar sendiri dibagi menjadi tiga:

  1.  Khiyar majelis (satu lokasi) adalah hak untuk memilih melanjutkan atau membatalkan transaksi saat  kedua belah pihak masih bersama di satu lokasi. Satu lokasi ini menimbang adat ( kebiasaan ), ketika kedua belah pihak berada di toko biasa, maka pisahnya ketika keluar dari toko tersebut, atau diluar bangunan, maka pisahnya ketika berpaling. Contoh : saat membeli sesuatu ditoko, maka selama orang itu masih didalam area toko, barang yang sudah dibeli boleh diurungkan(tidak jadi membeli). Contoh lagi, ketika melakukan COD maka sebelum berpaling dari bertatap muka, maka boleh untuk dikembalikan. Jika salah satunya sudah pergi dari toko atau dari bangunan, maka batal hak khiyar-nya.
  2. Khiyar syarat ialah khiyar yang mensyaratkan adanya tenggang waktu untuk memilih melanjutkan atau  membatalkan akad. Didalam khiyar syarat oleh syariat membatasi waktu tenggang dengan tiga hari setelah adanya perjanjian, baik disaat akad atau disetelah akad, dengan koridor masih di satu lokasi. Seperti orang membeli baju ditoko, kemudian setelah akad, pembeli mengatakan,” saya akan mengembalikan baju ini dalam waktu tiga hari mendatang”. apabila pembeli dihari kedua merasa kurang cocok dengan barang itu, boleh untuk dikembalikan.  Penting diingat, barang yang boleh diberi khiyar syarat ini barangnya harus yang tidak berubah seperti makanan dan minuman yang mana dapat membusuk dengan hitungan waktu atau hari. Jika barangnya dapat berubah, maka khiyar syarat tidak berlaku.
  3. Khiyar aib (cacat dalam barang) adalah hak pembeli untuk mengembalikan barang yang sudah dibeli apabila ada kecacatan dalam barang yang biasanya tidak ada pada barang tersebut. Dan kecacatan itu ada sebelum akad terjadi. Suatu barang itu dikatakan aib, apabila harganya berkurang dan hilangnya tujuan untuk membeli barang itu, misal membeli handpone untuk main game, ternyata saat dipakai tidak bisa menginstal, maka boleh dikembalikan. contoh lagi, beli buku yang halamannya kurang, kambing yang sakit, mobil yang tidak bisa hidup dan lain lain.

berlakunya khiyar aib ini ada tiga perkara, pertama, hilangnya tujuan pembelian. kedua, ada syarat yang tidak terpenuhi, misal membeli kambing yang hamil, ternyata tidak ada janin didalamnya. ketiga, unsur penipuan dan bukan kecerobohan dari pembeli, contohnya, penjual mengatakan barang itu seperti ini tapi berbeda dengan kenyataannya. Perlu diingat, barang yang sudah diketahui kecacatannya harus sesegera mungkin untuk dikembalikan dan barang itu tidak boleh dimanfaatkan oleh pembeli.

Penulis: Affan Abdillah

Penyunting: Ari Abdi

#fikihindustri #ngajisakkuliahe

Nilai Kami
5/5

Komentar