Ma'had Aly An-Nur II Malang

Hatiku, Hatimu, dan Hati Kita
Bagikan
Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter

Berbincang tentang hati seringkali membuat kita meraba-raba lagi kepada diri kita. Bagaimana kita bersikap kepada orang lain, bagaimana kita kita bersikap sebagai hamba. Intinya hati sebenarnya memiliki kekuatan penyadar tersendiri dalam diri kita masing-masing. Di dalam kitab Ihya’ ulumuddin, Imam Ghozali membuatkan sub khusus untuk membahas tentang keajaiban-keajaiban hati. Diantaranya ialah keterikatan hati dengan ilmu.

Imam Ghazali mencoba membedakan cara atau proses seseorang untuk mencari ilmu dengan membaginya menggunakan istilah ta’allum dan ilham. Karena ilmu yang tidak bersifat pasti hanya bisa didapatkan melalui dua usaha tersebut. Adakalanya nanti ilmu tiba-tiba datang memasuki hati tanpa tau dari mana asalnya, adakalanya bisa diusahakan melalui cara menggali sebuah dalil dan mempelajarinya. Dan ilham adalah sebuah proses mencari ilmu yang tanpa diusahakan atau semacam tidak diraih melalui belajar dan mencari dalil. Dan proses yang menggunakan pencarian dalil dinamakan i’tibar dan istibshar.

Nah, dalam penggambarannya tentu saja masih abstrak bagaimana sebuah ilmu itu bersinggah di hati. Karena hati sendiri merupakan perkara abstrak yang tak kasat mata, jadi dibutuhkan analogi yang tepat dan bersifat konkret, sehingga bisa diterima dengan mudah dan mampu dipahami dengan baik. Imam Ghazali Memiliki dua analogi dalam Ihya’ Ulumuddin yang akan dipaparkan di bawah ini.

Analogi pertama, kita bayangkan ada telaga yang digali di dalam tanah dan dituangkan air dari atas telaga yang berasal dari sungai dan sisi bawah dari telaga tersebut digali dan diambil debunya sampai ada air jernih yang keluar dari dalam galian tersebut. Dan pastinya air galian dari dalam telaga itu lebih jernih dan lebih lama mengalirnya bahkan alirannya lebih deras juga lebih banyak. Jadi, beliau Imam Ghazali menyamakan hati dengan telaga, ilmu dengan air, dan lima panca indra kita seperti sungai. Menurut beliau, mungkin saja ilmu-ilmu itu merasuk dalam hati dengan perantara sungai yang berupa panca indra kita tersebut dan bisa pula melalui persaksian kita dengan mata kepala kita langsung sehingga hati kita penuh dengan ilmu. Bisa juga dengan membendung aliran-aliran sungai tersebut dengan mengasingkan diri kita dari hiruk pikuk dunia dan menyendiri serta menjaga pandangan kita dari dunia luar. Dan kita menyelam ke dalam hati kita dan menghilangkan hijab-hijab yang telah menghalangi kita untuk mendapatkan ilmu sampai di titik di mana sumber-sumber ilmu itu mengalir deras dari hati kita.

Lalu Imam Ghazali berkata “Tentunya kalian pun akan bertanya-tanya, bagaimana bisa ilmu muncul dari hati sedangkan hati saja tidak punya ilmu?”. Jadi perlu kita tahu, inilah salah satu rahasia keajaiban hati yang mampu untuk mengeluarkan ilmu karena pada hakikatnya segala sesuatu sudah tertuliskan di lauh al- mahfudz bahkan sudah tertulis di hati para malaikat muqarrabin.

Hal ini dianalogikan oleh Imam Ghozali dengan seorang arsitek yang menggambar sebuah konstruksi rumah di atas kertas putih kemudian mewujudkannya dalam sebuah bentuk konkret dan menyesuaikannya dengan naskah. Begitu juga pencipta langit dan bumi yang telah menuliskan naskah dunia ini mulai awal sampai akhir di lauh al- mahfudz kemudian mewujudkannya sesuai dengan naskah. Dunia yang muncul menjadi bentuk nyata juga mampu mewujudkan bentuk yang lain dalam penglihatan dan khayalan. Seperti ketika seseorang pasca melihat langit dan memejamkan matanya maka dia akan melihat gambaran langit dan bumi dalam khayalannya tersebut persis seperti yang ia lihat. Andai kata langit dan bumi itu tidak ada dan hanya tersisa orang tersebut, maka ia akan tetap melihat gambaran langit dan bumi di khayalannya persis seperti yang disaksikan sebelumnya, hingga kemudian jejak khayalan tersebut meringsek ke dalam hati dan menjadi beberapa hakikat dari sesuatu yang masuk ke dalam indra dan khayalan.

Kesimpulannya, apa yang didapat oleh hati itu cocok dengan dunia yang dihasilkan dari sebuah khayalan, dan apa yang di dalam khayalan itu cocok dengan dunia yang ada (tidak melihat khayalan yang ada di dalam hati manusia). Dan dunia yang ada saat ini sesuai dengan naskah yang sudah ada di lauh al- mahfudz.

Penulis: A. Choirul Anam

Penyunting: Syachrizal Nur R.S

Nilai Kami
5/5

Komentar