Ma'had Aly An-Nur II Malang

Kematian Adalah Suatu Rahmat
Bagikan
Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter

اَوَلَمْ يَهْدِ لِلَّذِيْنَ يَرِثُوْنَ الْاَرْضَ مِنْۢ بَعْدِ اَهْلِهَآ اَنْ لَّوْ نَشَاۤءُ اَصَبْنٰهُمْ بِذُنُوْبِهِمْۚ وَنَطْبَعُ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُوْنَ – ١٠٠

“Atau apakah belum jelas bagi orang-orang yang mewarisi suatu negeri setelah (lenyap) penduduknya? Bahwa kalau Kami menghendaki pasti Kami siksa mereka karena dosa-dosanya; dan Kami mengunci hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran).” (Q.S Al-A’raf: 100)

Nikmat Dunia Tidak Akan Kekal

            Tatkala Allah membinasakan suatu kaum, maka dimasa selanjutnya, ada kaum lagi yang menempati daerah tersebut. Ini selaras dengan firman Allah diatas, yakni beberapa orang yang mewarisi suatu negeri setelah lenyapnya penduduk sebelumnya. Terjadi peristiwa silih berganti antara kaum terdahulu dengan kaum selanjutnya.

            Kematian adalah salah satu rahmat yang diberikan Allah kepada mahluknya, khusunya manusia. Bayangkan semua orang tidak pernah mati yakni orang yang hidup mulai zaman Nabi Adam hingga sekarang. Hal ini akan menyusahkan orang yang hidup di zaman selanjutnya. Semisal orang yang sakit-sakitan namun tidak akan mati, maka akan menjadi suatu bencana bagi orang yang hidup dizaman sekarang. Keadaan mereka pada zaman dahulu pun sudah nampak beda dari manusia zaman sekarang.

            Tatkala manusia sudah mati, sebanyak apapun harta yang dimiliki oleh seseorang, maka tidak akan dibawa ke kuburan, apalagi ke akhirat. Ini selaras dengan maksud hadis Nabi Muhammad SAW, bahwa tatkala seseorang mati, maka ada tiga perkara yang mengikutinya ke kuburan, yakni keluarga, amal dan harta kekayaan. Namun yang mengikuti orang tersebut sampai ke akhirat hanya amalnya, sedang keluarga dan harta bendanya kembali ke rumah. Ini menunjukkan bahwa sebanyak apapun harta benda yang dimiliki oleh seseorang, tidak akan dibawa ke kehidupan selanjutnya, yakni kehidupan akhirat.

            Perlu disadari bahwa kehidupan manusia itu tidaklah kekal. Dunia ini sifatnya fana’ (rusak), pun juga dengan manusia. Manusia memilik sifat rusak. Manusia yang diciptakan oleh Allah SWT sebagai mahkluk yang lemah dan hina tidak sepatutunya berlaku sewenang-wenangnya didunia ini. Sepanjang apapun umur manusia, pasti akan menemui ujungnya, yaitu kematian. Hal ini menjadi pengingat bagi kita bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara. Sehingga kita akan berpikir dua kali ketika akan melakukan suatu kegiatan.

Penulis: Vicky (Mahasantri Semester I)

Penyunting: M. Abror Suriyanto (Mahasantri Semester I)

Nilai Kami
5/5

Komentar