Ma'had Aly An-Nur II Malang

Melakukan Sesuatu yang Bermanfaat
Bagikan
Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter

اَفَاَمِنَ اَهْلُ الْقُرٰٓى اَنْ يَّأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَّهُمْ نَاۤىِٕمُوْنَۗ – ٩٧

Maka apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang malam hari ketika mereka sedang tidur? (Q.S Al-A’raf: 97)

اَوَاَمِنَ اَهْلُ الْقُرٰٓى اَنْ يَّأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَّهُمْ يَلْعَبُوْنَ – ٩٨

Atau apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang pada pagi hari ketika mereka sedang bermain? (Q.S Al-A’raf: 98)

Berpikir sebelum bertindak!!!

            Salah satu sifat orang yang tidak beriman adalah sering bermain-main dalam melakukan sesuatu. Mereka juga sering melakukan hal-hal yang jika ditinjau ulang, tidak ada manfaat di dalamnya, baik bagi diri mereka atau orang lain. Sifat seperti itu memang sering terjadi pada diri seseorang pada zaman terdahulu, khususnya orang-orang yang terlampau jauh dari pedoman hidup yang benar.

            Termasuk ciri-ciri baiknya status keislaman seorang mukmin adalah meninggalkan perkara-perkara yang tidak bermanfaat baginya. Seorang mukmin sejati tidak akan menyia-nyiakan waktunya hanya untuk suatu hal  yang tidak bermanfaat baginya, baik di dunia maupun di akhirat. Seorang mukmin sejati akan berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak, karena dia mempertimbangkan apa efek yang akan timbul dari tindakan tersebut di kemudian hari.

            Menjadi seorang santri harus banyak bersyukur. Kenapa begitu? Karena seorang santri hidup di pondok pesantren, dimana kehidupanya sangat jauh dari gejolak kehidupan dunia yang serba moderen dan ajaran-ajaran islami.  Di zaman yang penuh dengan kemaksiatan seperti sekarang, keluar dan menghindar dari hingar bingarnya dunia, kemudian mencari kehidupan yang benar sesuai aturan agama, adalah pilihan yang baik.

            Apa yang menimpa kaum terdahulu sebenarnya bisa kita jadikan sebagai suatu pelajaran, yang bisa menjadi acuan kita dalam menjalani kehidupan selanjutnya di kemudian hari. Ketika ada orang kafir memiliki harta kekayaan yang melimpah, kenikmatan yang begitu banyak dan lainnya, kita jangan heran dan tertipu. Jika kita mau mencari tahu apa yang sebenarnya ada dibalik rencana Allah tersebut, kita akan menemukan bahwa sebenarnya Allah hanya memperdaya dan menipu mereka.

            Suatu musibah yang menimpa seorang mukmin yang menjadikan dia takwa kepada Allah lebih baik daripada suatu kenikmatan yang bisa menjadikan dirinya lalai dari Allah. Keselamatan manusia terletak pada lisanya. Jika dia bisa menjaga lisannya, maka besar kemungkinan dia akan selamat dari segala bentuk keburukan. Di sisi lain, tatkala dia tidak bisa menjaga lisannnya, maka kemungkinan yang ada akan terbalik, dia tidak akan selamat dari segala keburukan yang akan menimpanya.

Penulis: Vicky

Penyunting: M. Abror Suriyanto

Nilai Kami
5/5

Komentar