Ma'had Aly An-Nur II Malang

Melogika “Naum” Saat Puasa
Bagikan
Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter

Ramadan adalah bulan istimewa. Maka, sebuah kelaziman jika semua yang bersinggungan dan berhubungan dengan bulan ini juga istimewa. Jika kita berlaku baik, maka amal dan pahala akan menjadi stimewak dengan diperbanyak bilangannya. Bahkan, bau mulut orang yang berpuasa juga mendapat status istimewa, lebih harum dari bau misik.

Berangkat dari narasi di atas, banyak kemudian suatu aktivitas yang jika dilakukan di luar Ramadan bernilai biasa, ia akan menjadi istimewa saat memasuki Ramadan. Di antara banyak aktivitas, tidur mendapatkan porsi yang besar. Sayangnya, semua hanya berhenti di frasa “tidur” sebagai ibadah yang bisa dilakukan saat puasa.

Bagaimana sebenarnya maksud tidur dan ibadah dalam hadis yang jamak kita kenal, naumu shaim ibadah? Mari kita cobai urai hadis tersebut melalui lensa mantik. Meminjam pernyataan Al-Ghazali, ketika seseorang belum benar-benar teruji kapabilitasnya tanpa mantik, maka suatu pernyataan belum benar-benar teruji bobotnya tanpa mantik juga.

Melogika

Dalam khazanah mantik, tashawwur atau konsepsi merupakan inti. Ia adalah penyangga utama sebuah argumen. Sebuah argumen dibangun melalui susunan premis-premis, dan premis-premis itu terdiri dari konsep-konsep. Maka analisis terhadap suatu argumen berarti juga analisis terhadap setiap konsep yang menyusunnya.

Dalam perjalanannya, suatu konsepsi berguna untuk mengurai, dari suatu konsep, mana yang merupakan poin, mana yang merupakan luaran, mana yang harus ada, dan mana yang hanya berupa atribut atau tambahan. Analisis semacam ini dirasa penting karena banyaknya pemahaman dan cara pandang yang kurang benar dalam memahami sebuah teks atau ungkapan. 

Bagaimana alat tersebut bekerja? Kita coba contoh klasik tentang konsep manusia dalam mantik. Manusia, ghalib didefinisikan sebagai hewan atau makhluk yang berpikir, hayawanun nathiq. Melalui definisi ini, manusia terbentuk dari unsur inti, unsur hewani. Bergerak, bernapas, dan butuh makanan ditambah dengan kemampuan berpikir rasional adalah unsur tersebut

Di samping memiliki sifat inti itu, manusia juga memiliki sifat “atribut” lain. Tinggi/pendek; besar/kecil; tampan/jelek adalah sekian sifat yang disandang oleh manusia. 

Apa perbedaan dalam dua hal tersebut? Unsur inti manusia disebut dengan esensi atau bahasa mantiknya dzaty. Sedangkan, unsur atribut dan sifat-sifat yang biasa disandang manusia dikenal dengan nama aradhy, aksiden. 

Bagaimana jelasnya? Esensi adalah penyusun utama dalam suatu hal. Suatu hal bisa disebut A misal, jika unsur-unsur A masih ada. Jika unsur A hilang, ia tak bisa disebut A. Lain dengan aksiden, ia hanya berupa atribut yang dinisbatkan kepada A. Jika atribut ini hilang, ia masih disebut A. Dalam konteks di atas, kita tidak bisa menyebut manusia jika kemampuan berpikir rasional dihilangkan. Namun, penisbatan tampan, tinggi, dan lain sebagainya tidak begitu berpengaruh pada konsep manusia. Ia tetap manusia meskipun tanpa status tampan atau tinggi. 

Dapat ditarik benang merah bahwa unsur hewani dan kemampuan berpikir adalah unsur esensial, dzatiy. Namun, unsur atribut dan sifat-sifat yang bisa hilang tanpa merusak konsep manusia adalah unsur eksidental, aradhy.

Mengenai Hadis Tidur Orang Puasa

Mari kita urai hadis naumu-s Shaimi Ibadatun. Jika dinarasikan, hadis tersebut berbunyi; Tidurnya orang berpuasa bernilai ibadah. Hadis tersebut menawarkan tidur sebagai salah satu opsi ibadah dalam berpuasa. Laku ibadah adalah faktor utama yang membedakan status seseorang yang berpuasa dan yang tidak. Maka dapat diambil kesimpulan sederhana, status seseorang yang tidak beribadah saat puasa sama saja seperti saat ia tidak berpuasa. Ibadah adalah unsur esensial, dzaty.

Kemudian, naum atau tidur adalah salah satu atribut yang bisa menjadi media ibadah seseorang. Artinya, tanpa tidur sekalipun seseorang masih bisa melakukan aktivitas-aktivitas lain yang bisa menjadi media ibadah. Tanpa tidur sekalipun, ia tetap bisa melakukan ibadah.

Dari situ, “Ibadah” menjadi unsur esensial. Keberadaan ibadah harus melekat dalam diri orang yang berpuasa. Namun, tidur adalah atribut atau media yang tanpa dilakukan pun, tidak merusak konsep ibadah dalam berpuasa. 

Karena tidur hanya sebuah media, banyak media lain yang bisa dilakukan untuk memperbanyak ibadah. Membaca, mengkaji kitab, membersihkan rumah, dan deretan kegiatan lain yang bernilai positif. Mungkin, tidur bisa menjadi solusi terakhir jika kita tidak ditemui kegiatan lain

Maka, sebagai umat Islam yang rasional dan berpengetahuan, jangan hanya berhenti di frasa “tidur”. Terlalu eman jika waktu puasa malah diprioritaskan memperbanyak ibadah dengan tidur. 

Penulis: Muhammad Az-Zamami

Penyunting: Muhammad Miqdadul Anam

Nilai Kami
5/5

Komentar