Ma'had Aly An-Nur II Malang

Membunuh Kesakralan
Bagikan
Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter

Berusaha mencapai hakikat mesti dijalankan agar kehidupan dapat menemukan intinya. Alih-alih upaya kritis menjadi keharusan, tetapi kadang kala malah mengaburkan bahkan menghapus hakikat itu sendiri. Dalam Islam, atau semua agama, sikap lewah pada sesuatu harus dijauhi. Alasannya hemat: Agama tidak hendak menyulitkan penganutnya dengan beban yang tak seharusnya dipikul.

Tentu, demikian halnya dalam proses memahami agama, ada batas-batas tertentu yang mengikat atau melepas seseorang dari keharusan dan larangan bersikap. Islam, misalnya, baru memberlakukan syariat bagi orang dengan rentang umur 9-15 (rata-rata manusia balig) berikut syarat-syarat lain seperti berakal normal (‘aqil), kesehatan tubuh (shihhah) dan tersampaikannya ajaran (bulughu dakwah). Yang tidak memenuhi kriteria-kriteria tersebut, tidak dikenai syariat sampai dianggap benar mampu. Hal ini dimaksudkan bahwa ‘pembebanan’ syariat masih melewati jalan kewajaran manusia dengan standar sederhana.

Dalam Islam, orang yang terlalu giat dalam beribadah tidak lantas disanjung tinggi. Bahkan, malah sebaliknya; berlebihan dalam menjalankan syariat—dalam istilah nabi; muthanatti’un, orang yang over ibadahnya—justru dinilai buruk karena berisiko merusak dirinya.

Namun belakangan, dalam prinsip kesederhanaan ini tidak begitu diindahkan. Terutama ketika mulai masuk meja dialog, hal mudah akan dibesar-besarkan dan dibuat demikian rumit dengan dalih menstimulus daya kritis. Untuk keperluan berlatih, hal itu lumrah saja. Akan jadi buruk kalau akhirnya ketagihan. Seorang debator kadang ingin melihat persoalan lebih mendalam namun tak sedikit juga yang kebablasan. Kebablasan semacam ini yang dikhawatirkan malah menghapus pola pikir yang dibangun dengan kesederhanaan.

Menjaga Pola Pikir Sederhana dan Membuang Idealisme Jauh-Jauh

Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dalam judul tulisannya, Haqaiq Tamutu bil Bahts (Esensi Yang Hilang Karena Pengusutan) mengulas beberapa hal yang sudah seharusnya dipikir wajar tapi rawan diterobos. Antara lain, pertama, mengenai bentuk dialog Nabi Musa AS dengan Allah SWT. Dalam surah An-Nisa: 164 disebutkan; Allah berdialog dengan Nabi Musa AS. Telah dimaklumi, al-Kalam (berbicara) ialah sifat Allah. Dan bahwa kalam Allah yang murni (kalamullah an-Nafs) tidak dapat dirupakan suara atau gema. Makna yang cukup sederhana. Namun menjadi tidak sederhana kalau ayat 164 ditafsirkan macam-macam sehingga lahir tanda tanya; bagaimana proses dialog itu berlangsung? Apakah Musa AS menatap Dzat-Nya atau mendengar kalam-Nya? Pertanyaan semacam ini tidak boleh dibiarkan nyaman di kepala. Membayangkan pertemuan Nabi Musa As berarti (diam-diam) juga membayangkan wujud Allah. Sementara telah disebutkan, wa ma khatara bi balika, fa allahu bi khilafi dzalik, apa yang terlintas di benak kalian tentang (rupa) Allah, itu tidak benar.

Kedua, soal interpretasi hadis inni arakum min khalfi; aku melihat kalian di arah belakang. Pemahaman cepat dari hadis itu, dalam imajinasi, cukup tergambar jelas. Namun malah jadi buram jika hadis itu diusut maknanya dan diutak-atik berulang-ulang maksudnya sehingga terasa pas di akal. Ada yang menerjemahkan cara melihat Nabi itu dengan rumit; dua mata Nabi mampu menembus area belakang sehingga dengan mudah menangkap manusia. Ada pula yang memaknai, Allah ‘memasang’ dua mata baru di bagian belakang kepala Nabi agar bisa mengintai orang-orang di belakang. Penafsiran seperti ini justru menghapus kesakralan hadis. Andai kata dibiarkan ala kadarnya—dipahami sesuai imajinasi masing-masing—niscaya nyawa hadis itu tetap mistis.

Ketiga, mengenai fenomena Jibril AS menyaru sosok manusia. Peristiwa pengejawantahan Jibril itu diuraikan secara jelas dalam hadis riwayat Umar bin Khattab[i] yang kemudian dikenal sebagai hadis Jibril (peristiwa tentang Jibril). Ulama mencoba mengulas bagaimana proses perubahan wujud Jibril AS dari jism malaikat menjadi wujud manusia. Sebagian berkata, Allah mencabut identitas malaikat (misal sayap dan lainnya) hingga mirip bentuk seorang manusia. Sebagian lain berkata, identitas itu disembunyikan dalam wujud praktisnya (ini persis film fantasi Transformer; sebuah robot dapat dengan mudah menjadi mobil praktis tanpa menambah atau mengurangi komposisinya).

Usaha-usaha penafsiran semacam itu sepintas tampak mendalam, pelik dan analitik. Namun, di luar sadar, proses kritis tersebut justru membunuh isi sebagian atau seluruh nyawa benda di samping juga diam-diam menggeser pola pikir sederhana seperti naluri manusia pada umumnya.

Tabik.

Penulis: Ilham Romadhan

Penyunting: Miqdadul Anam


[i] Dalam hadis itu Jibril digambarkan sosok yang sedang menggunakan baju putih, rambutnya hitam pekat dan tidak terlihat habis bepergian jauh (bukan pendatang jauh). Kemudian ia mendekat kepada Nabi dan menanyakan tentang trilogi dasar agama; islam, iman dan ihsan, juga terkait tanda dekatnya kiamat. Penulis merasa tidak perlu mencantumkan hadis secara lengkap karena dirasa sudah cukup populer.

Nilai Kami
5/5

Komentar