Ma'had Aly An-Nur II Malang

Asy’ariah Dalam Denyut Nadi Kita
Bagikan
Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter

Dunia semakin tua, dan zaman tidak menyiapkan cukup ruang bagi kita, sebagai muslim, untuk memahami perubahan udara Islam yang juga tidak kalah purba. Perjalanan syariat sejak hari kenabian Muhammad SAW hingga detik kini tentu telah melewati bermil-mil medan yang begitu kompleks. Meninggalkan peristiwa pada momen tertentu, orang-orang yang hidup bahagia dalam sejarah, atau bahkan nama-nama yang terhapus oleh tangan-tangan rakus milik penguasa. Semua itu ada dan berlalu tapi belum tentu kita tahu.

Beberapa kurun setelah generasi sahabat tertindih angkatan berikutnya, umat muslim tidak lagi menghirup angin segar seperti di zaman nabi. Pengusung syariat, dari golongan ulama, berebut peran menjaga warisan Nabi—sebab semua merasa perlu mengarahkan; menjadi peta umat—sesuai versi masing-masing.

Sejak itu, masyarakat muslim mulai terbagi dalam beberapa kelompok terutama bidang akidah, tauhid. Setiap kelompok memiliki kaidah yang sama sekali berbeda dengan kelompok lain dalam memperoleh rumusan atau tafsiran atas al-Quran hadis. Kelompok-kelompok itu masih bernafas hingga kini. Bahkan sampai beberapa puluh dekade kemarin, lahir kelompok baru yang pada akhirnya meninggalkan sesak di jalan-jalan yang ditempuh umat Islam.

Asy’ariah, satu bagian besar dari rumpun masyarakat Islam, adalah golongan mayoritas. Nyaris setiap sudut daerah (di kawasan Asia utamanya) pernah disentuh ajaran yang berkembang pada 11 M ini. Senyampang demikian, perlu disadari banyak dari masyarakat kita tidak begitu mengenalnya. Misalnya, orang kampung yang bertahun-tahun mengaji di musala-musala atau masjid yang diampu alumni pesantren belum tentu paham bagaimana, apa, atau identitas As’ariyah. Padahal setiap hari mereka menyimak pengajian yang disarikan dari kitab-kitab ulama Asy’ariah. Ini mempertegas kita, bahwa, masyarakat cenderung mudah menerima substansi dan akan merasa terbebani banyak teori.

Untuk itu, kita merasa perlu memahami beberapa poin penting secara badihi[i] terkait Asy’ariah. Pertama tentang siapa yang dimaksud Asy’ariah. Prof. Dr. Ahmad Thayyeb, Grand Syekh Al-Azhar, dalam orasinya pada Muktamar Ahlussunah di Rusia membicarakan identitas Asy’ariah secara universal. Ia mengutip redaksi Syihabuddin Al-Labli (W 691 H) dalam Fahrasat ketika menuliskan biografi Imam Abu Al-Hasan Al-Asy’ari (pendiri), bahwa Al-Asy’ari adalah inisiator berdirinya mazhab Asy’ariah setelah didapuk menjadi pemimpin oleh pemuka Ahlussunah. Setiap yang mempelajari paham Ahlussunah dan mengerti dasar kelompok dalam Islam maka dia Asy’ari, orang Asy’ariah.

Imam Tajuddin As-Subki (W 771 H), ushuli[ii] yang pernah mendaku dirinya mujtahid mutlak independen, dalam Syarh ‘Aqidah Ibn al-Hajib menyematkan Asy’ariyah diantara tiga kubu yang semuanya mengimani satu rumusan tentang sifat wajib-mustahil Allah. Tiga itu antara lain; pertama, ahl al-Hadis (ahli riwayat). Kelompok ini mendasarkan pokok keyakinannya pada trilogi; al-Quran, hadis dan ijmak. Kedua, ahl al-Nadzar dan shina’ah al-Fikriyah (ahli rasio). Kelompok ini meliputi Asy’ariah[iii], Hanafian (penganut Imam Hanafi). Asy’ariah dipimpin Abu Hasan Al-Asy’ari, sementara Hanafian di bawah kendali Abu Mansur Al-Maturidi. Ketiga, ahl al-Wijdan wa al-Kasyf (kaum mistikus) yaitu para sufi. Dasar keyakinan mereka di fase awal (syariat) serumpun dengan dua kelompok sebelumnya. Dan dasar mereka di fase selanjutnya (makrifat) adalah ilham.[iv]

Perihal ‘keluguan’ beberapa anasir yang tidak mengenal ulama Asy’ariah, barangkali cara amat tepat adalah menyuguhkan nama-nama paling populer dan karya-karyanya yang luas seperti, Imam Al-Qurthubi—paus mufassir, pengarang al-Jami’ li Ahkam al-Quran, atau Syaikhul-islam Ibn Hajar Al-Haitami pengarang al-Zawajir ’an Iqtiraf al-Kabair. Lebih-lebih duo muhadis; Imam Al-Bukhari dan Muslim yang masing-masing menulis kitab Sahih yang menjadi rujukan utama kitab hadis.

Jika kemudian ada suatu kelompok ‘prematur’ agama menggunakan kebodohan mereka untuk mencaci dan menjelek-jelekkan nama-nama seperti di atas, sementara kita lazim mengimani kecerdasan dan keahlian mereka, lalu kepada siapa kita mesti bangga? Menjadi Asy’ariah berarti menetap dalam batas Ahlussunah wal Jamaah seperti yang disabdakan Nabi; ma ana ‘alaihi wa ashabi.

Tabik.

Penulis: Ilham Romadhan


[i] Sepintas saja. Tidak memerlukan banyak waktu untuk memahaminya.

[ii] Pakar rumusan hukum islam

[iii] Pada mulanya nama Asy’ariah dimaksudkan sebagai penerus akidah Abu Musa Al-Asy’ari, sahabat nabi yang dikenal memegang teguh paham Ahlussunah wal Jamaah.

[iv] Terjemahan hemat dari sebagian orasi Prof. Dr. Ahmed Thayyeb pada sambutan Muktamar Ahlussunah wal Jamaah di Grozny, Chechnya, Rusia pada 26 Agustus 2016 yang berjudul asli Ahlussunah wal Jamaah.

Nilai Kami
5/5

Komentar