Ma'had Aly An-Nur II Malang

Interpretasi Miring Soal Takzim
Bagikan
Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter

Kadang kala perbedaan argumen lahir dari hal paling fundamental, dasar. Yakni menyangkut pendeskripsian objek. Kemungkinan suatu benda punya makna lebih dari yang dibayangkan sebelumnya, juga banyak diawali perbedaan mengenai gambaran atas benda bersangkutan. Contoh kecil, pengalaman Penulis, sewaktu bocah pernah digertak ibu karena keliru beli merica yang anggap saya itu yang dimau. Padahal ibu menginginkan kemiri, memang agak mirip tapi bentuknya lebih kecil. Kesalahan itu mula-mula dari kekeliruan proyeksi dalam bayangan saya yang kemudian saya klaim (memang) itulah maksudnya.

Dalam proses berpikir sehari-hari, tidak jarang pula yang ‘terjangkit’ hal serupa. Bahkan perihal keimanan, ketauhidan, masih saja ada yang luput menangkap maksud-maksud nas; Al-Qur’an-hadis. Contoh yang agak eksklusif, mengikut paparan Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki, adalah soal penghormatan pada makhluk. Seorang muslim yang taat tentu mengerti penuh tugas utama di dunia ini hanya menghamba sebagai service kepada Allah akan eksistensi hidup. Kita mendapat kunci ‘menghamba’ sejak dari sini. Lalu, apa kemudian tafsir kata itu?

Menghamba, atau menyembah, ialah pengabdian penuh dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangannya. Jika sejak dini sudah ‘tertipu’ dengan bayangan sendiri dan melalaikan maksud hakiki, maka tahap berikut dan seterusnya adalah kesalahan. Untuk membangun argumen yang benar harus didasarkan pada deskripsi yang benar pula. Maka, seorang ulama berpesan, alhukmu ‘ala syai’ far’un min tashawwurihi, bahwa klaim atau justifikasi kita pada suatu hal ditentukan oleh cara kita mendeskripsikannya. ‘Menghamba’ bisa saja menuai ragam tafsir. Itu niscaya. Dan tafsir itu yang menunjukkan beberapa arah kita ke depan.

Sementara perbedaan tafsir ada dua kemungkinan yang diambil—karena ini menyangkut hukum akal—kalau benar berarti tidak salah. Kalau tidak benar, maka salah. Dengan kata lain tafsir ada kala ia mengarahkan atau menyesatkan. Sayyid Alawi mencontohkan jenis kedua dengan persoalan takzim pada selain Allah. Takzim termasuk bagian dari penghambaan sesuai makna di atas. Lantas, ada sebagian kelompok kecil menuduh syirik orang yang menaruh hormat pada makhluk. Dalihnya cukup serius; karena satu-satunya Dzat yang berhak dihamba ya cuma Allah.

Kita uraikan dengan hemat apa ada yang tidak baik-baik saja dari pemahaman itu, sesuatu yang perlu diarahkan. Mula-mula pertimbangan terpenting bahwa praktik penghambaan kepada Allah tidak selalu ‘kembali’ kepada-Nya. Ada beberapa anasir yang sepintas tidak tampak saling terhubung antara Tuhan dengan hamba-Nya namun sejatinya ada relasi, saling berkontak. Salat, puasa, haji, iman pada qada-qadar  dan lain-lain adalah contoh penghambaan yang murni ‘kembali’ pada Allah. Sementara, ambil misal, takzim kepada seorang rasul, utusan, tidak ada kaitannya dengan menghamba kepada dzat Allah. Tapi akan menjadi ada jika takzim itu didasari perintah tegas dari Allah.

Paham yang menganggap bahwa menghormati kanjeng Nabi Muhammad SAW adalah praktik syirik jelas tidak benar. Pasalnya, takzim yang dimaksud ada sesuai perintah Allah dan hormat padanya juga dalam rangka menjalankan titah-Nya. Keharusan salat menghadap ka’bah apa kemudian dituduh syirik karena (terlihat) menyembah bangunan? Mencium hajar aswad, mengagumi maqam Ibrahim AS atau multazam, apa benar dikata syirik? Klaim adanya penyekutuan Allah dengan benda mati di atas sangat disayangkan. Penghakiman itu agaknya menafikan perintah Allah, bahwa syariat menetapkan cara peribadatan tertentu yang harus dipatuhi penganutnya. Dengan begitu, penghambaan terus ada dan tidak pernah lepas dari ibadah mana pun bagaimana pun praktiknya.

Beberapa ayat dalam Al-Qur’an berindikasi kuat ke anjuran takzim, terlebih kepada Nabi Muhammad, seperti surah Al-Fath ayat 8-9,

إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا (8) لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ (9)

Inti dua ayat ini adalah motivasi hormat kepada kanjeng Nabi karena dedikasi penengah (lantaran) antara Allah dan hamba-Nya. Dan narasi lebih tegas pada surah Al-Hujurat ayat 1-3,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (1) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ (2) إِنَّ الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَاتَهُمْ عِندَ رَسُولِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَىٰ ۚ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ (3)

Ayat pertama larangan untuk mendahulukan kepentingan personal dari urusan Allah dan rasul. Ayat kedua, larangan mengeraskan suara (urakan: Jawa) melebihi normalnya nabi berbicara. Mereka yang menaati isi perintah tersebut akan diganjar pahala serta ampunan.

Kejadian purba yang menjadi bagian sejarah Nabi Adam AS bahwa iblis enggan bersujud hormat[i] kepadanya sekalipun diperintah. Alih-alih mau bersujud, iblis malah mengejeknya. Katanya, seperti momen yang terekam pada surah Al-Isra ayat 61-62,

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ قَالَ أَأَسْجُدُ لِمَنْ خَلَقْتَ طِينًا (61) قَالَ أَرَأَيْتَكَ هَٰذَا الَّذِي كَرَّمْتَ عَلَيَّ لَئِنْ أَخَّرْتَنِ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَأَحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهُ إِلَّا قَلِيلًا (62)

Juga kepongahan iblis yang tampak pada ayat 76 surah Al-Shad,

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

“Aku lebih baik darinya (Adam), Kau (Allah) ciptakan aku dari api dan Adam dari tanah.”

Ketika Allah menyuruh bersujud kepada Nabi Adam—setelah demonstrasi nama-nama (asma)—semua malaikat mengimaninya. Hanya iblis, senior mereka, pongah dan menolak sujud karena menganggap dirinya tidak pantas melakukan hal serupa. Kesombongan telah menutup kesadaran bahwa isi perintah tidak lebih penting dari Yang Memerintah itu sendiri.

Uraian singkatnya, ayat-ayat di atas dapat disitir sebagai konfirmasi wenangnya takzim kepada selain Allah (makhluk) dalam rangka perintah. Tentu Allah tidak memerintah syirik, hanya saja Dia menghendaki sebagian dari hamba terpilih entah dalam wujud seorang nabi, kekasih atau benda mati untuk dipuji dan dihormati.

Tabik.

Penulis: Ilham Romadhan

Penyunting: Miqdadul Anam


[i] Perintah bersujud pada Nabi Adam As artinya perintah untuk mengambil gerakan seperti sujud dalam salat. Yakni tidak sekadar merunduk rukukseperti lumrah terjadi orang Jepang; Ojigi. Namun iblis tidak mau model sujud ini, ia mengira (paling mentok) disuruh membungkuk. Dari situ iblis menjadi pelopor yang menakwil syariat sesuai akalnya.

Nilai Kami
5/5

Komentar