Ma'had Aly An-Nur II Malang

Nabi Manusia, Manusia Nabi: Lahir dan Akan Kembali Sebagai Hamba
Bagikan
Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter

Alasan mengapa seorang nabi, utusan, justru dari golongan manusia adalah bahwa umat cenderung menimbang kesamaan latar belakang. Sifat paling fundamental dalam diri mereka yaitu rasa bangga pada ras, nasab atau sekurang-kurangnya ada kemiripan pola berpikir tentang kehidupan.

Maka setelah beredar rumor bakal lahir seorang nabi dari kamar suku Arab, orang-orang Yahudi yang tumbuh sebagai bangsa Israel merasa kecewa dan patah. Wacana tentang seorang nabi dari kaum mereka hanya omong kosong. Dari kekecewaan itu kemudian tumbuh tunas kebencian, kecemburuan. Kenyataan ini mempertegas adanya perasaan yang lewah sebagai sifat kodrati manusia.

Seorang nabi, utusan agung, lahir di bawah matahari yang sama dengan manusia lain, pun umatnya. Ia punya kewajaran umum yang berkelindan meliputi dirinya. Seorang nabi bisa sakit atau terluka, bahagia dan emosi sewajarnya. Syekh Ahmad Marzuki dalam ‘Aqidat Al-‘Awam, akidah-akidah untuk pemula, mendendangkan satu bait tentang kewajaran ini; seorang utusan itu punya sifat dasar manusia tanpa mengurani reputasinya, misal sakit ringan.

Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki menyorot lebih dalam ketika mendeksripsikan hakikat Nabi. Kata beliau, Nabi tidak punya pengaruh baik atau buruk termasuk menghidupkan yang mati atau sebaliknya kecuali atas kehendak Allah.[i] Dalam visi dakwahnya, ia bertugas menyampaikan amanat Tuhan, menasehati masyarakat, menyingkap kegundahan dan berjihad hingga akhir hayatnya.

Nabi Muhammad SAW sendiri mengaku bangga lahir sebagai hamba, khusunya manusia. Innama ana ‘abdun, aku hanya seorang hamba. Penyematan status ‘hamba’ ini disambut baik dan dikonfirmasi langsung oleh Allah dalam surah Al-Isra’ ayat 1[ii] dan surah Al-Jin ayat 19.[iii]

Mengaku manusia bukan berarti protes atas ketidakberdayaan atau bahkan aib. Justru dengan itu, derajat seorang nabi terangkat. Sisi ‘manusia’ adalah mukjizat tersendiri; berada di tengah ribuan manusia namun ia punya nilai yang tak bisa diusahakan orang lain. Sabda Nabi Muhammad dalam satu hadis sahih:

إني لست كهيئتكم، إني يطعمني ربي ويسقيني

Aku berbeda dari kalian semua. Aku berada di sisi Allah, ia memberi makan-minum padaku.

Keberadaan mukjizat adalah niscaya bagi semua utusan. Menurut Syekh Ali As-Shabuni dalam Tibyan fi Ulumil Quran, arti mukjizat diambil dari derivasi i’jaz (kuat) bukan ta’jiz (pelemahan) seperti yang diyakini ahlu shirfah.[iv] Sementara penegasian mukjizat bagi para nabi merupakan corak pandang kaum musyrik jahiliah. Al-Quran merekam penafian itu dalam beberapa ayat yang mencatat pandangan umat terdahulu mulai Nabi Nuh As, Nabi Musa As dan Harun As, Nabi Salih As, Nabi Syuaib As hingga masa Nabi Muhammad SAW.[v] Sebagian dari umat mereka menganggap pemimpinnya tak ubahnya manusia biasa yang hidup ala kadar.

Dalam hadis sahih, Nabi Muhammad bersabda:

تنام عيناي ولا ينام قلبي

Mataku mengatup, tetapi (sejatinya) hatiku selalu hidup.

Realita ini tentu di luar kewajaran manusia biasa. Normalnya, seseorang akan benar-benar sadar saat dirinya terjaga. Lain ihwal dengan para Nabi yang sekalipun tertidur (fisiknya) namun batin terus bergerak. Alih-alih wafat, para nabi akan hidup langgeng dan senantiasa mengawasi umatnya. Tidak pernah ditemui haul anbiya karena mereka tidak pernah benar-benar wafat.

Hal ini diteguhkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad pada hadis riwayat ‘Aus Ra, sabda beliau (dikutip lengkap),

عن أوس بن أوس رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: (إن من أفضل أيامكم يوم الجمعة، فيه خُلِق آدم، وفيه قُبِض، وفيه النفخة، وفيه الصعقة، فأكثروا عليَّ من الصلاة فيه فإن صلاتكم معروضة عليَّ قالوا: يا رسول الله وَكَيفَ تُعرَضُ صلاتُنا عليك وقد أرِمتَ – يقولون بليتَ ـ فقالَ: إنَّ اللَّهَ عزَّ وجلَّ حرَّم علَى الأرض أجساد الأنبياء.

Dari sahabat ‘Aus bin ‘Aus Ra, Nabi dawuh, hari terbaik kalian ialah Jumat; hari penciptaan dan wafatnya Adam As, hari peniupan (sangkakala), hari (terjadinya) petir dahsyat, maka perbanyaklah bersalawat kepadaku. Sebab, salawat kalian bakal dihadapkan padaku. Lalu sahabat bertanya, Wahai Rasul, bagaimana dapat diperlihatkan semua itu sementara engkau telah tiada (wafat). Kemudian Nabi menimpali, sungguh! Allah AWJ mengharamkan jasad para nabi dari lapukan tanah.[vi]

Dalam hadis lain, Nabi Muhammad menyatakan akan terus mengkawal umatnya hingga kelak. Kalau saja mendapati amal baik, beliau akan memuji Allah. Kalau malah sebaliknya, beliau akan mintakan ampun. Beliau juga akan menjawab salam dari umatnya, atas kehendak Allah. Tantu hal demikian tak dapat di luar jangkau indera manusia. Nabi juga menjamin, kelak, siapapun yang pernah bersalawat akan diumumkan namanya berikut nama bapaknya.

Hematnya, keistimewaan para nabi adalah kemampuannya di luar kewajaran manusia biasa yang tak mungkin diusahakan bagaimanapun. Di samping itu, ia terlahir dan akan senantiasa sebagai hamba. Ia mengerti, tempat paling tinggi ialah kembali ke tanah.

Tabik.

Penulis: Ilham Romadhan

Penyunting: Miqdadul Anam


[i] Pernyataan ini berdasar surat Al-A’raf ayat 188. Lengkapnya:

قُلْ لَّاۤ اَمۡلِكُ لِنَفۡسِىۡ نَـفۡعًا وَّلَا ضَرًّا اِلَّا مَا شَآءَ اللّٰهُ‌ ؕ وَلَوۡ كُنۡتُ اَعۡلَمُ الۡغَيۡبَ لَاسۡتَكۡثَرۡتُ مِنَ الۡخَيۡرِ ۖ ‌ۛۚ وَمَا مَسَّنِىَ السُّۤوۡءُ‌ ‌ۛۚ اِنۡ اَنَا اِلَّا نَذِيۡرٌ وَّبَشِيۡرٌ لِّقَوۡمٍ يُّؤۡمِنُوۡنَ.

[ii] سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ

[iii] وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا.

[iv] Yakni golongan yang menganggap Allah memberi kelemahan pada musuh nabi sehingga tidak bisa mengkonter mukjizat (utamanya al-Quran) yang diturunkan pada nabi Muhammad.

[v] Secara berurutan terdiri dari surat Hud ayat 27, surat Al-Mukminun ayat 47, surat As-Syuara ayat 154 dan ayat 186, surat Al-Furqan ayat 7.

[vi] Diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam Sahih-nya. Pula oleh Hakim dan ia anggap sahih hadis ini.

Nilai Kami
5/5

Komentar