Ma'had Aly An-Nur II Malang

Ngomongnya Begini, Penginnya Begitu
Bagikan
Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter

Suatu kata tidak melulu diartikan tekstual, apa adanya. Ada kala ia bisa, bahkan harus, dimaknai lain. Ketika akal tidak mampu menjangkau maksud kata, mendadak ia akan dengan sendirinya mengutak-atik tafsir lain sampai ditemukan arti yang, menurutnya, masuk nalar.

Akal bekerja nyaris setiap waktu, kecuali saat tidur. Akal itu pula yang mengendalikan gerak tubuh. Ia pintar menandai karakter seseorang atau menebak pola pikir orang lain. Hematnya, akal punya pengaruh luas dalam menentukan perilaku empunya.

Saat proses penyerapan makna, utamanya bahasa, akal bekerja sama dengan tradisi. Orang Jawa tulen akan kewalahan sehari saja menginap di rumah Madura yang cerewet. Atau transmigran Sasak tinggal di kampung Malang yang tidak jarang memakai bahasa walikan (terbalik). Telinganya akan dipaksa mendengarkan kalimat yang tak dipahami sedikit pun. Maka benar apa kata pepatah arab, al-Insanu a’dau ma jahilah, bahwa manusia membenci ketidaktahuan, kebodohan.

Kejadian serupa yang sering terjadi adalah penggunaan kata dan meninggalkan makna awal[i]. Bilang begini, maksudnya begitu. Akal telanjur menganggap makna hakikat namun yang dikehendaki malah majas. Yang demikian ini tidak hanya ditemui dalam dialog harian. Bahkan dalam al-Quran atau hadis fenomena itu terjadi berulang kali. Dalam disiplin ilmu Balagah, semantik, termasuk satu sub awal dari trilogi yang tersusun atas; ma’ani, bayan dan badi’. Fokusnya mengenai isnad al-aqli (pengkaitan terhadap akal). Pengkaitan itu kadang bersifat hakikat kadang pula majas. Namun yang kedua ini tidak banyak dipakai. Dalam Al-Qur’an terjadi pada beberapa ayat seperti pada surah Al-Anfal ayat 2:

وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا

Nisbah ayat-ayat Al-Qur’an (yang dimaksud) terhadap fluktuasi iman adalah nisbah majas karena sejatinya yang menaik-turunkan iman adalah Allah SWT semata.

Surah Al-Muzzamil ayat 17,

يَوْمًا يَجْعَلُ الْوِلْدَانَ شِيبًا

Kaitan tumbuhnya uban dengan hari (kiamat) adalah kaitan majas. Wujud uban tak ada hubungannya dengan hari kiamat atau hari biasa. Penumbuh hakiki tak lain Allah SWT.

Atau surah An-Nuh ayat 23,

وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا (23) وَقَدْ أَضَلُّواْ كَثِيرًا

Penyesatan berhala Yaguts, Ya’uq atau Nashr hanya majas belaka. Karena hanya Allah yang dapat menyesatkan atau memberi petunjuk hambanya. Selain-Nya, nonsense.

Dan dalam surah Ghafir ayat 36,

يَا هَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا

Perintah Firaun kepada Haman, katakanlah mandor/arsitektur, untuk membuatkannya bangunan juga majas. Karena pada faktanya, Haman tidak benar-benar ikut membangun. Pekerja/kuli yang sejatinya pembangun itu.

Contoh lain yang lumrah dipakai dalam kitab-kitab Balagah adalah أنبت الربيع البقل (Musim semi menumbuhkan sayur-sayur) yang diucapkan seorang muslim, muwahhid[ii]. Karena pada hakikatnya, sesuai paham agama Islam, semua hal terjadi karena takdir dan kuasa Allah. Namun hakikat makna itu dialihkan pada hukum akal—mendekatkan makna agar mudah ditangkap—sehingga dapat diterima sepenuhnya.

Sementara pemaknaan majas dalam hadis terbilang banyak dan karenanya dapat dirujuk pada kutub mu’tabarah. Pesan ulama mengenai hal ini, adalah, anjuran memperkuat akidah tauhid bahwa segala fenomena terjadi atas kehendak Allah. Orang yang paham tauhid tentu mengimaninya. Karena keyakinan yang murni akan menolak pengaruh entah baik atau buruk dari selain Allah.

Tabik.

Penulis: Ilham Romadhan

Penyunting: Miqdadul Anam

Sebagian isi mengambil dari Taqrirat Jauhar al-Maknun.


[i] Dalam tradisi sastra fiksi di Indonesia, utamanya perpuisian, hal serupa kerap kali muncul. Yang paling timbul dari sastrawan lain adalah Sutardji Calzoum Bahri, presiden penyair Indonesia. Ia menginisiasi paham baru mengenai pemaknaan; bahwa suatu kata harus lepas dari muatan makna, arti. Keduanya boleh tidak berkelindan. Paham ‘nyeleneh’ seperti ini sering diistilahkan sebagai avantgardisme atau avant-garde.

[ii] Yang meyakini keesaan Allah, orang-orang tauhid.

Nilai Kami
5/5

Komentar