Ma'had Aly An-Nur II Malang

Lari Dari Tuhan!
Bagikan
Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter

Hal yang seharusnya, manusia menghamba Allah Maha Pencipta. Ia harus bermain sesuai peran dalam panggung dunia yang lebih mirip pertunjukan wayang orang ketimbang wayang kulit. Seorang aktor diwujudkan dan dididik untuk memperagakan skenario sutradara. Sutradara mengatur segala yang menyangkut kebutuhan, tugas dan hak-hak peraga. Selebihnya tentu ia amanatkan kepada panitia dan orang-orangnya. Dengan demikian, pertunjukan akan selesai seperti keinginan mula.

Adalah pongah, jika masing-masing menjalankan tugas tidak sesuai posisinya. Semua rancangan bakal buyar begitu saja. Begitu halnya dalam kehidupan duniawi ini, manusia lazim berlaku sebagai layaknya makhluk; menghamba. Itu esensinya. Tugas utama ia diwujudkan adalah beribadah, diatur. Urusan mengatur, memimpin dan lain-lain selalu di tangan pencipta. Dan sangat tidak mungkin, secara nalar atau fakta, dua tugas itu dilakukan bersamaan. Dengan frasa lain mustahil Manusia ialah Tuhan atau sebaliknya. Jika tidak (diharuskan) menyembah, berarti (harus) disembah.

Tuhan atau manusia. Dua status itu harus selalu pada porsinya. Dan setiap porsi tentu memiliki identitas yang membedakannya dari yang lain. Akan tetapi bagi sebagian orang, identitas itu tampak buram sehingga berujung pada ambiguitas pencampuran dua identitas sekaligus. Ini yang pernah , dan gawatnya, teralami pada Nabi Muhammad SAW. Orang semisal Al-Bushiri, pengarang Kasidah Al-Burdah, dituduh kafir sebab menyifati Nabi dengan beberapa keistimewaan yang menurut mereka hal itu di luar kewajaran manusia. Sehingga mereka simpulkan Al-Bushiri telah menggabungkan dua identitas dalam diri Nabi; manusia dan Tuhan. Tuduhan itu jelas tidak benar. Apa yang dikatakan Al-Bushiri, begitu halnya para washif (yang mendeskripsikan sosok Nabi), benar adanya dan tidak melanggar syariat Islam. Ketergesa-gesaan itu agaknya didasari kedangkalan pengetahuan dan lemahnya daya pikir mereka terhadap hakikat identitas Tuhan dan manusia.

Memang, Islam tidak membenarkan sikap pengkultusan atau pujian hiperbolis kepada selain Allah. Dia, Pencipta, berhak (juga satu-satunya yang pasti) mendapat ‘hak’ itu. Dia memiliki undang-undang pribadi yang harus manusia taati. Seolah mirip diktator, tapi memang sudah seharusnya, bukan? Pemilik rumah memarkir mobilnya sembarangan di garasi, apa perlu tetangga menegur? Pemilik dan Pencipta berhak mandiri atas segala yang Dia miliki dan ciptakan.

Menjadi muslim berarti patut mengamini hal itu. Dan Allah, Pemilik dan Pencipta tunggal, memilih seorang utusan yang dibekali keistimewaan di antara manusia sejenisnya. Nabi Muhammad adalah utusan terakhir yang menjadi ‘musabab’ penciptaan semesta. Allah memerintah untuk mengagungkannya bahkan dijanjikan pahala besar bagi yang melaksanakan. Oleh karenanya, mengagungkan Nabi (termasuk sanjungan) sama sekali lain dari sikap fanatisme—sepanjang tidak menyeberangi batas. Juga bukan suatu kesyirikan atau kufur. Justru sebaliknya, menyanjung Nabi atau para rasul, nabi, malaikat, orang jujur, para martir, orang-orang salih, akan bernilai ibadah di hadapan-Nya. Seperti firman Allah dalam surat Al-Hajj ayat 30 dan 32:

ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ (32)

ذٰلِكَ وَمَنْ يُّعَظِّمْ حُرُمٰتِ اللّٰهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَّه عِنْدَ رَبِّه (30) 

Juga tuduhan syirik kepada umat muslim karena menyembah batu besar (Ka’bah), mencium Hajar Aswad, salat di depan bekas pijak kaki Nabi Ibrahim AS (maqam Ibrahim), berdiri di Multazam dan sebagainya, tanpa mengerti motif. Semua itu adalah menaati perintah Allah serta tetap menegasikan manfaat atau celaka dari selain-Nya.

Tabik.

Penulis: Ilham Romadhan

Penyunting: Miqdadul Anam

Nilai Kami
5/5

Komentar