Ma'had Aly An-Nur II Malang

Di Balik Kucing Manis, Ada Harimau Mengaung.
Bagikan
Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter

Kitab al-Mafahim Yajibu an Tusahhah (Beberapa Perskpektif Yang Perlu Disegarkan), dianggit seorang ulama top tanah suci; Sayyid Muhammad bin Aalwi Al-Maliki, atau Sayyid Muhammad. Sesuai pandangan penulis, kitab ini harus—karena memang perlu—dikaji terlebih karena banyak tawaran jalan pikir yang seharusnya diimani. Pernyataan ini agaknya berlebihan, tapi begitulah adanya. Selain itu, narasi yang dipakai pengarang cukup ‘menikam’.

Dalam banyak kalimatnya, beliau Sayyid Muhammad memuji tinggi dan memberi feedback mewah kepada pemerintah atau golongan tertentu. Secara zahir hal itu lumrah, wajar-wajar saja. Akan tetapi bagi sebagian pembaca yang menekuni tiap titik-koma kalimatnya barang tentu akan menangkap ‘ketidakwajaran’ yang penulis ibaratkan ‘menikam’.

Ketidakwajaran dalam istilah penulis tidak dimaksudkan buruk, justru sebaliknya. Dalam pengantar, misalnya, pengarang secara diam-diam melancarkan kritik pada anasir tertentu (untuk tidak mengatakan bahwa yang dimaksud adalah pemerintah/kelompok bersangkutan) lewat satire-satire. Mula-mula pujian kepada pejabat-pejabat (pemerintah) Saudi, tempat tinggal pengarang, yang dianggap sempurna menegakkan syariat sesuai al-Quran hadis. Sehingga dengan itu keamanan negara dan penduduknya terjamin. Usaha itu agaknya bermula sejak kepemimpinan King Abdul Aziz yang dikenal dedikasinya menyatukan hampir seluruh semenanjung Arab di bawah satu bendera La ilaha illa Allah.

Di masa keemasan itu, negara berjalan seperti remaja meninggalkan masa bocah; mulai wujud prinsip-prinsip bernegara. Hingga kemudian pendatang asing mulai memasuki wilayah dengan ragam topeng yang mereka pakai; topeng penyusup dan topeng agen, melempar kail di air keruh berharap misi mereka terwujud. Maka sejak kehadiran mereka wajah islam mulai tercoreng akibat fitnah/hoax yang mereka layangkan diam-diam.

Namun, kata pengarang, negara tetap memberi ruang kepada siapapun selama masih dalam motif ilmiah seperti penelitian dan hal-hal lain tanpa menghiraukan agama mereka; muslim atau non muslim. Tindakan demikian didasarkan pada nas al-Quran dalam al-Baqarah ayat: 111 atau as-Saba’ ayat: 46 perihal perintah bertoleransi (dalam makna memberi kesempatan) terhadap masyarakat.

Satu hal lagi yang patut diapresiasi, bahwa pengarang menampilkan sifat keterbukannya terhadap kritik konstruktif lebih-lebih dari orang-orang semisalnya. Menjelang akhir pengantar, pengarang merasa perlu adanya sidang dari pemuka Ulama atas semua pemikiran-pemikiran yang beliau susun dalam kitab ini. Seperti kaidah yang lazim, manusia selalu mondar-mandir antara benar-salah, pahala dan dosa. Apa yang dilakukan beliau adalah bentuk kehati-hatian dalam proses ilmiah atau yang lebih urgen di atas itu yakni soal kebenaran paham. Selebihnya, akhlak seperti yang dicontohkan beliau adalah nilai dari kerendahatian.

Tabik.

Penulis: Ilham Romadhan

Nilai Kami
5/5

Komentar