Ma'had Aly An-Nur II Malang

Ibnu Malik Lupa Alfiyyah-nya?
Bagikan
Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter

Idza uthliqo Alfiyah, pasti semuanya akan merujuk kepada al-Khulasoh atau yang biasa dikenal dengan Alfiyyah, milik Ibn Malik, putra Andalusia. Padahal dalam disiplin ilmu Gramatika Bahasa Arab, Nahwu, kitab bernama nama Alfiyyah tidak hanya milik Ibn Malik saja, apalagi dalam lintas disiplin ilmu. Kitab Alfiyyah Ibnu Malik ini memilki ciri khas dalam penyampaian maupun susunannya, yang jarang ditemukan pada kitab sesamanya.

Alfiyyah merupakan masterpiece Imam Ibnu Malik yang sangat melegenda sejak tujuh abad lalu.  Kitab itu adalah ringkasan dari kitab beliau sebelumnya yang berjumlah dua kali lipat lebih banyak, yakni Al-Kafiyah Asy-Syafiyah. Dari susunannya yang ringkas, menyimpan makna yang begitu kaya, al-Khulasoh memiliki daya tarik tersendiri. Banyak ulama yang tertarik untuk memberikan komentar (syarh) seperti Ibnu Hisyam -sang master Nahwu dari Mesir, Ibnu Aqil, dan masih banyak lagi. 

Bahkan putra beliau turut memberikan kritik atas karangan bapaknya tersebut. Ia mengarang kitab yang bernama Syarah Ibnu Nadhim. Pun juga ulama Indonesia seperti KH. Abul Fadhol Senori, KH. Iqbal Amin Muhaimin dan lainnya. Dan menurut satu riwayat, Syaikhona Kholil Bangkalan berjasa besar dalam publikasi kitab tersebut.

Disusun oleh ahli nahwu dari daratan Spanyol, Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah bin Malik Al-Andalusi. Beliau merupakan murid Ibnu Hajib -seorang ahli bahasa dari Spanyol- sekaligus guru Imam Nawawi -seorang pemuka mazhab Syafii. Beliau dilahirkan pada tahun tujuh ratus hijriah. 

Kehidupan beliau dimulai di kota Jayyan. Tak lama di sana, beliau kemudian pindah ke Damaskus sebab serangan dari pasukan Tartar. Ibnu Malik menjadi salah satu rujukan dalam ilmu Nahwu. Hal ini karena kepakaran beliau dalam menggali sebuah hukum bahasa yang mendalam. Seperti halnya Fikih, penggalian hukum dalam Nahwu beliau mulai dari Al-Qur’an, dilanjut dengan Hadis, dan prosa-prosa bangsa Arab terdahulu. 

Aliran nahwu yang beliau ikuti berasal dari Andalusia, sebuah aliran ilmu Nahwu yang dipelopori oleh Abu Musa Al-Hawi, guru putra khalifah Muawwiyah. Ciri khas aliran ini adalah mengadopsi sebagian hukum dari mazhab Bashrah, Kufah dan Baghdad. Di samping juga memiliki hukum sendiri yang belum dicetuskan oleh mazhab lainnya.

Dari paparan di atas kita mengetahui seberapa hebat kitab Alfiyyah Ibnu Malik dan pengarangnya. Lantas apa gerangan yang menyebabkan beliau lupa pada karangannya sendiri? Kejadian bermuara ketika beliau menulis kitab Al-Alfiyyah-nya dan baru sampai pada bait,

و تقتضي رضا بغير سخط  #  فائقة الفية ابن معطي

Kitab ini menuntut kerelaan tanpa kemarahan, melebihi kitab Alfiyah-nya Ibnu Mu’thi

فائقة منها بلف بيت #  …

Mengunggulinya [karya Ibnu Mu’thi] dengan seribu bait

Lantas Alfiyyah yang sudah terancang di benaknya menghilang. Kemampuan untuk melanjutkan pun dikerahkan tetapi tidak berpengaruh sama sekali, seakan tak terpikir sebelumnya. Akhirnya penulisan Alfiyyah sempat tertunda beberapa hari, bahkan menurut sebagian riwayat hingga dua tahun.

Hingga pada suatu malam beliau bermimpi didatangi orang tua. Dalam mimpi itu, orang tua tadi bertanya, “Dengar-dengar Anda sekarang lagi membuat nazam nahwu?”

Nggeh,” jawab Ibnu Malik. 

“Sudah dapat berapa nazam?” tanya orang tadi.

“baru lima nazam setengah, tapi tertunda.”

“Kenapa tidak anda lanjutkan saja?”

“Entah kenapa tiba-tiba otak saya nge-blank.”

“Siapkah Anda mau melanjutkannya.”

“Tentu, wahai syaikh.”

“Lanjutkan dengan nazam ini, …و الحيُّ قَدْ يَغْلِبُ اَلْفَ مَيْتٍ (terkadang orang hidup mampu mengalakan seribu orang yang sudah mati).”

Merasa tersindir, Ibnu Malik pun bertanya, “Apakah Anda Ibnu Mu’thi?”

“Iya, saya lah Ibnu Mu’thi, pengarang Alfiyyah sebelum Anda,” jawab orang tua tadi. Ibnu Malik pun merasa malu atas perbuatannya mengunggulkan Alfiyyahnya dan meminta maaf kepada Ibnu Mu’thi. Setelah terbangun, Ibnu Malik mengganti sepenggal bait nomor enam dengan sanjungan dan doa kepada Ibnu Mu’ti. Ingatan beliau pun menjadi pulih seperti sedia kala.

Setelah lewat dua abad pasca peristiwa di atas, Imam Suyuthi mengarang Alfiyyah. Dalam karangannya ia juga menyebutkan kalimat yang menyatakan keunggulan Alfiyyahnya dari milik Ibnu Malik. Disebutkan,

فائقة الفية ابن مالك  #  لكونها واضحة المسالك

Kitab ini menungguli Alfiyyahnya Ibn Malik. Karena metodanya lebih jelas dan lugas.

Ternyata di kemudian hari ada yang mengungguli Al-Alfiyyah Imam Suyuthi, yaitu karangan Alfiyyahnya Al-Ajhuri. Di dalamnya beliau cantumkan, فائقة الفية السيوطي… Sayyid Ahmad Zaini Dahlan berkomentar, “Mahasuci Allah, dzat yang maha sempurna dan tidak bisa diserupai.”

Walhasil, sebenarnya keutamaan orang sekarang takkan dapat melampaui para pendahulunya. Sesuai dengan hadis terkenal,“Sebaik-baik masa adalah masa aku hidup, kemudian setelahnya dan seterusnya.” Dalam riwayat yang lainnya disebutkan, “Bapak kalian lebih baik dari anak kalian hingga hari kiamat.” 

Orang terdahulu menjadi mulia karena dua hal, menjadi pelopor dan jalur (sanad keilmuan). Tanpa pelopor tidak akan terbangun yang namanya negara, sekolah dan lainnya. Begitu pula tanpa adanya jalur, keilmuan Nabi Muhammad tidak akan sampai pada kita. 

Sumber: Hasyiyah Ibnu Hamdun ‘ala Syarh Makudi li Al-Alfiyyah Ibnu Malik

Penulis: Muhammad Faiq Fasya.

Penyunting: Muhammad Az-Zamami. 

Nilai Kami
5/5

Komentar