Ma'had Aly An-Nur II Malang

Narasi Rajab (8): Dusta Puasa di Bulan Rajab (II)
Bagikan
Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter

Agaknya narasi tentang kebohongan-kebohongan di Rajab masih berlanjut. Jika diteliti lebih dalam lagi, narasi kebohongan banyak berhubungan dengan puasa. Di antara sekian ibadah, puasa menjadi dagangan laris. Secara pasti, penulis tidak tahu apa yang menjadikan puasa menjadi hal yang paling sering dijadikan modal. Namun, jika dilihat dari latar belakang munculnya hadis palsu kemarin, dominasi apresiasi terhadap ilmu menjadikan suluk-kebatinan kurang mendapat perhatian dari khalayak. Dari situ muncul anggapan bahwa rohani manusia mengering karena kurangnya asupan rohani dengan laku suluk. Maka muncul kemudian puasa sebagai “solusi”.

Dalam kajian ini, ada beberapa hadis lagi yang secara redaksional mempunyai kemiripan dengan hadis-hadis sebelumnya tentang puasa Rajab. Namun, atas nama tanggung jawab ilmu, Ibn Hajar perlu mengkaji beberapa hadis tersebut agar tak menyesatkan khalayak.

Kajian pertama diawali dengan hadis Anas bin Malik;

Siapapun yang berpuasa selama tiga hari di Rajab, Allah akan menulis ganjaran puasa sebulan untuknya. Yang berpuasa selama tujuh hari, tujuh pintu neraka akan ditutupkan untuknya. Yang berpuasa selama delapan hari, akan dibukakan delapan pintu surga untuknya. Yang berpuasa di pertengahan Rajab akan mendapatkan anugerah besar dari-Nya dan terbebas dari azab. Dan yang berpuasa Rajab secara keseluruhan, Allah akan permudah hisabnya kelak.[i]

Hadis ini tertulis di Fadlu Rajab milik Abi Qasim al-Samarqandi dari Abu Rauq al-Hazani dari jalur Umar bin al-Azhari dari Aban bin Abi Iyasy. Dalam jalur tersebut, Umar al-Azhari dinilai sebagai pembohong.

Selanjutnya adalah hadis yang bermuara kepada Abdullah bin Zubair;

Siapapun yang menyelesaikan (baca: membantu) masalah seorang mukmin di bulan Rajab, Allah akan beri dirinya surga di surga (yang luasnya) sejauh matanya memandang. Maka, muliakan bulan Rajab, Allah akan beri seribu kemuliaan padamu. [ii]

Hadis di atas adalah karangan al-Siqthy. Dan menurut Ibn Hajar al-Siqthy juga membuat jalur riwayat palsu. Dia mengklaim telah menerima informasi dari Abu Ghanim Muhammad bin al-Hasan dari Ali Ibn Washif dari al-Baghawi dari Khalaf bin Hisyam dari Abu al-Ahwash dari Abi Ishaq dari Atha’ dari Abdullah bin Zubair.

Kemudian hadis yang bermuara kepada Said al-Khudri;

Rajab salah satu bulan mulia. Hari-harinya telah tertulis secara pasti di langit ke enam. Maka, siapapun yang berpuasa dan memperhatikan betul puasanya tadi dengan takwa kepada Allah, pintu surga dan hari dimana ia berpuasa akan berkata; Ya Tuhan, ampuni dosanya. Dan jika puasa tak disempurnakan dengan takwa kepada Allah, dia tak akan mendapat ampunan.

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Said Muhammad bin Ali al-Ashbahani al-Naqqasy dari Said al-Khudri. Menurut para ulama, dalam riwayat tersebut terdapat Ismail bin Yahya al-Taimi, terkenal sebagai pendusta.

Terdapat hadis dalam Fadhoilu-l Awqat milik al-Baihaqi dan Fadhailu Rajab milik Abdul Aziz al-Kattani, serta al-Targhib wa al-Tarhib milik Abu Qasim al-Taimi. Hadis tersebut diriwayatkan dari jalur Usman bin Mathar dari Abdul Ghafur dari Abdul Aziz bin Sa’id dari Said al-Khudri;

Siapapun yang berpuasa sehari di bulan Rajab, ia seperti berpuasa setahun. Yang berpuasa seminggu, pintu-pintu neraka ditutup untuknya. Yang berpuasa selama delapan hari, pintu surga dibuka untuknya. Yang berpuasa sepuluh hari, permintaannya pasti dikabulkan oleh Allah. Yang berpuasa limabelas hari, dosa-dosanya yang lalu akan diampuni. Siapa yang menambah puasanya, Allah akan menambah pahalanya. Dulu, Nabi Nuh menahkodai kapalnya di bulan Rajab dan menyuruh para penumpang untuk berpuasa.

Menurut Ibn Hibban, Usman bin Mathar adalah pendusta. Para pemuka ulama hadis juga sepakat akan kelemahannya. 

Imam Bukhari dalam al-Dhu’afa’ menuliskan hadis dengan redaksi yang sama namun terdapat penambahan. Ia menerima hadis tersebut dari Ibrahim yang menerima informasi dari ayahnya dari Abdurrahman bin Muhammad al-Maharibi dan bersambung kepada Usman bin Atha’. Redaksi tersebut bertambah dengan;

Perahu itu kemudian berlayar dan berlabuh di al-Judhy di bulan Asyura. Dalam bulan Rajab, Allah menerima taubat Nabi Adam AS dan kaum Nabi Yunus AS. Di bulan itu pula laut terbelah untuk Nabi Musa AS, Nabi Ibrahim AS dan Isa AS dilahirkan”.

Masih dari jalur yang sama, Usman bin Mathar meriwayatkan hadis palsu lainnya;

مَنْ صَامَ يَوْمًا مِنْ رَجَبٍ كَانَ كَصِيَامِ سَنَةٍ

Siapapun yang berpuasa sehari di bulan Rajab, ia seperti berpuasa setahun.

Ala kulli hal, seperti yang sudah penulis ungkap sebelumnya, kita sah-sah saja berpuasa, sebagai penghormatan kita terhadap bulan Rajab. Namun, tindakan tersebut menjadi tidak benar jika disertai keyakinan-keyakinan tentang pahala di tiap puasanya.

Sekian.

Penulis: Muhammad Az-Zamami.

Penyunting: Ilham Romadhan.


[i]  Teks lengkap hadis tersebut adalah: 

عنْ أنس بن مالك قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: “من صَام ثلاثة أيام من رجب كتب الله له صيام شهر، ومن صام سبعة أيام منْ رجب أغلق عنه سبعة أبواب من النار، ومنْ صام ثمانية من رجب فُتح له ثمانيةُ أبواب من الجنة، ومن صام نصف رجب كتَب الله له رضوانَه، ومن كتب له رضْوانه لم يعذبه، ومن صام رجباً كله حاسبه الله حساباً يسيراً”.

——–

ص47 – كتاب أداء ما وجب من بيان وضع الوضاعين في رجب – رد الألباني على المؤلف – المكتبة الشاملة الحديثة

[ii]  Teks lengkap hadis tersebut adalah;

2504 – عن عبدِاللهِ بنِ الزبيرِ، عن النبيِّ صلى الله عليه وسلم أنَّه قالَ: «مَن فرَّجَ عن مؤمنٍ كُربةً في رَجبَ وهو شهرُ اللهِ الأَصمُّ أَعطاهُ اللهُ تَعالى في الفردوسِ قصراً مَدَّ بصرِهِ، أكرِموا رجبَ يُكرمْكم اللهُ تَعالى بألفِ كَرامةٍ».

——–

ص347 – كتاب الإيماء إلى زوائد الأمالي والأجزاء – الأطعمة – المكتبة الشاملة الحديثة

Nilai Kami
5/5

Komentar