Ma'had Aly An-Nur II Malang

Narasi Rajab (4): Analisis Hadis Dhaif di Sekitar Bulan Rajab (II).
Bagikan
Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter

Dalam setahun, Ramadan termasuk salah satu  bulan yang dinantikan kedatangannya. Islam membenarkan hal itu. Sebelum bulan itu tiba, ada dua bulan yang dipersiapkan oleh Allah agar manusia melatih diri, mempersiapkan bekal untuk menyambut bulan tersebut. Dengan memperbanyak puasa dan ibadah apapun, bulan Rajab dan Syakban menjadi mukaddimah  acara inti, bulan Ramadan.

Maka, banyaklah kemudian yang mempunyai keinginan besar agar bisa “bersinggungan” dengan ketiga bulan tersebut. Dan berdoa adalah cara sederhana yang paling ampuh. Ada doa “musiman” yang sangat beken terdengar, اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَب، وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ.

Dalam bagian ini, Ibn Hajar akan menganalisis kelemahan hadis tersebut; dalam Musnadnya, Abu Bakar al-Bazzar menerima informasi dari Malik al-Qusyairi dari Zaidah bin Abi al-Raqqad dari Ziad al-Namiri dari Anas Bin Malik bahwa; “tiap kali memasuki bulan Rajab, Baginda Rasul selalu berdoa, اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَب، وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ, Ya Allah, Berkahilah kami di bulan Rajab dan Sakban serta sampaikan kami hingga bulan Ramadan.

Riwayat ini mempunyai jalur lain dari. Yaitu dari Abu al-Hasan bin Abi Majid yang menerima informasi dari Sulaiman bin Hamzah dan Isa bin Ma’ali secara ijazah dari Jakfar bin Ali al-Hamdani dari al-Hafiz Abu Thahir al-Salafi dari Abu Bakar bin Muhammad bin Abdul Wahid dari Abu al-Qasim bin Basyran dari Abu Bakar Muhammad bin Ismail al-Warraq dari Abdullah bin Muhammad bin Abdul Aziz (al-Baghawi) dari Abdullah bin Umar al-Qawariri dari Zaidah bin Abi al-Raqqad dari Ziyad al-Namiri dari Anas bin Malik.

Berikut beberapa komentar terkait jalur kedua ini; dalam al-Awsath ath-Thabrani menyatakan bahwa Zaidah mempunyai jalur sendiri.

Al-Baihaqi dalam Fadhailu-l Awqat mengambil riwayat dari al-Qawariri dari Zaidah. Namun, Zaidah juga mempunyai jalur tersendiri selain dengan Ziyad yang tidak kuat.

Yusuf al-Qadhi mengambil riwayat dari Zaidah melalui jalan Muhammad bin Abi Bakar al-Muqaddami. Menurut Ibn Hajar, riwayat jalur Zaidah bin Abi al-Raqqad banyak diambil oleh para rawi. Menurut Abu Hatim, Zaidah sering mengambil riwayat dari Ziyad al-Namiri dari Anas bin Malik secara marfu’. Sehingga, terkadang hampir sulit diketahui, mana riwayat darinya dan mana yang dari Ziyad. Namun menurut al-Bukhari, hadisnya munkar (tertolak).

Menurut al-Nasai, setelah mencantumkan riwayat ini, tidak diketahui siapa Zaidah tadi. Dalam al-Dhu’afa’, ia juga menyatakan; hadis Ziyad adalah munkar. Dalam al-Kuna, dia diberi status dengan laisa bitsiqqatin, maksudnya tidak terpercaya. Ibn Hibban juga menyatakan, khabar darinya tidak bisa dijadikan hujjah.

Dalam daripada itu, Ibn Hajar memberikan sirine lebih keras. Dalam catatan al-Hafiz Abi Thahir dinyatakan bahwa status riwayat ini palsu. Sehingga Ibn Hajar memperingatkan agar tidak terkecoh dengan riwayat ini. Jalur yang dicatat oleh al-Hafiz tersebut adalah dari Abu al-Barakat al-Shiqthy dari Muhammad bin Ali bin al-Muhtadi dari Isa bin Ali bin al-Jarrah dari al-Baghawi dari al-Qawariri dari Hamad bin Salamah dari Tsabit dari Anas bin Malik.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dari riwayat tersebut adalah;

  1. Riwayat tersebut disampaikan oleh al-Shiqthy, dan kefatalan tentang riwayat yang disampaikan olehnya pernah diulas di tulisan sebelumnya. (Baca: Analisis Hadis Dhaif di Sekitar Rajab; 1)
  2. Al-Qawariri tidak pernah bersinggungan dengan Hamad bin Abi Salamah. Dia hanya meriwayatkan dari Zaidah bin Abi al-Raqqad, seperti yang dijelaskan di muka.

Sekian.

Penulis: Muhammad Az-Zamami

Penyunting: Ilham Romadhan

Nilai Kami
5/5

Komentar