Ma'had Aly An-Nur II Malang

Narasi Rajab (2): Beriktikad Baik dengan Cara yang Salah. Bagaimana?
Bagikan
Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter

Sejauh penelitian yang dilakukan Ibn Hajar al-Asqalani, tidak ada satu hadis sahih pun yang bisa menjadi hujah terkait puasa, salat, dan ragam ritual khusus dalam bulan ini. Namun, seakan sudah menjadi mutual agreement (kesepakatan bersama) dalam khazanah keislaman, para ulama mentolerir periwayatan hadis dhaif (lemah) dalam Fadhailu-l ‘Amal, ritual ibadah yang motifnya hanya untuk menambah pahala dan tidak bersifat wajib. Selama tidak palsu, riwayat-riwayat tersebut bisa diamalkan.

Namun, sebelum proses melakukan ritual ibadah tadi, seseorang harus menanamkan dalam dirinya bahwa hadis yang ia amalkan statusnya lemah. Selain itu, dia dianjurkan untuk tidak menyebarkan riwayat-riwayat tersebut. Hal ini dilakukan untuk mencegah potensi melakukan ibadah non-syar’i. Dalam daripada itu, agar tidak adanya anggapan bahwa ritual-ritual tersebut disunnahkan.

Hal tersebut sudah diperhatikan betul oleh Izzudin Ibn Abdissalam. Beberapa cendekia juga memberikan catatan tentang kebolehan pengamalan hadis dhaif; (dengan syarat) tingkat kelemahan tidak parah, hadis lemah tersebut harus mempunyai muqabil (pembanding)dengan hadis asal yang lebih umum, dan tidak meyakini kesunahan hadis tersebut.

Dari sini, siapapun harus mengingat dan memperhatikan pesan Baginda Rasul SAW;

مَنْ حَدَّثَ عَنِّي بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ

“Siapapun mereka yang menyebarkan informasi atas namaku dan ternyata berbohong, maka mereka telah berada di antara para pendusta.” (HR. Muslim. Disampaikan di Pembuka Shahih Muslim).

Bagaimana dengan mereka yang telah terlanjur mengamalkan hadis lemah?

Pada dasarnya, mengamalkan hadis Ahkam (hukum-hukum syariat) dan Fadhail (ritual-ritual yang baik) sama saja, karena kedua hal tersebut adalah bagian dari syarak.

Mungkin, kita perlu tengok ke belakang, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Nasa’i, dari Usamah bin Zaid; Suatu hari Usamah bertanya kepada Baginda Rasul SAW, “Baginda, aku tak pernah melihatmu puasa di hari-hari biasanya layaknya puasa di Bulan Syakban, apa gerangan? Baginda Rasul pun menjawab, “Di bulan itu, banyak yang lupa (akan keutamaan) di antara Rajab dan Ramadan. Pada bulan itu, semua amal diangkat ke langit, dan aku suka jika amalku diangkat dalam keadaan puasa. [i]

Hadis tersebut seakan mengabarkan bahwa posisi Rajab serupa dengan Ramadan. Pada kedua bulan tersebut, orang-orang semangat beribadah layaknya di saat Ramadan, namun melupakan keberadaan bulan Syakban. Dari situ, sebagai usaha menyerupakan posisi Syakban sebagai bagian dari Asyhuru-l Hurum.

Mengapa harus dengan puasa? Ini menunjukkan bahwa puasa Rajab berada dalam posisi yang diperhitungkan. Dan secara de facto, ketetapan puasa ini adalah di antara keputusan religion law para ulama.

Selain itu, ada riwayat dari Abu Dawud.[ii] Riwayat tersebut menceritakan tentang seorang Bahili yang mengalami perubahan setahun setelah bertemu dengan Baginda Rasul. Dalam pertemuan kedua tersebut, ia menyapa Baginda Rasul, “Baginda, bukankah Baginda mengenalku”, beliau menjawab “Siapa kamu?”, “Saya seorang Bahili yang tahun lalu menemuimu?. Melihat ada perubahan dalam dirinya, Baginda Rasul bertanya, “Apa yang membuatmu berubah menjadi lebih baik?”, “Sejak pertemuan pertama itu, aku berpuasa tiap hari” jawabnya. Melihat apa yang dilakukan si Bahili, Baginda menimpali, “Mengapa kau menyusahkan dirimu”? sebelum pertanyaan tersebut terjawab, Baginda melanjutkan, “Puasalah Ramadan dan sehari tiap bulannya”, “Tambah saja Baginda, saya kuat”. 

Dalam riwayat tersebut Baginda Rasul menambah hingga tiga hari, dan si Bahili masih ingin menambah. Hingga pada akhirnya, “Baiklah, berpuasalah di tiap bulan haram, mulia; (Muharram, Rajab, Dzulqaidah, dan Zulhijah), dan tinggalkan yang tiga tadi”. Rasul berkata demikian sebanyak tiga kali.

Riwayat tersebut, meskipun sanadnya tidak diketahui, dapat dipastikan mengarah ke anjuran berpuasa di bulan Rajab.

Sebagai penutup, Ibn Hajar al-Asqalani menutup dengan sebuah hadis dhaif;

مَنْ صَامَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ شَهْرٍ حَرَامٍ الْخَمِيسَ وَالْجُمُعَةَ وَالسَّبْتَ كُتِبَتْ لَهُ عُبَادَةُ سَبْعِمِائَةِ سَنَةٍ

“Siapapun mereka yang berpuasa tiga hari di Bulan Haram; Kamis, Jum’at, dan Sabtu, mereka telah mendapat ganjaran setara beribadah 700 tahun” (HARI. Al-Baihaqi dalam Fadhailu-l Awqat, No. 538).

Kesimpulannya sederhana, kita harus seleksi dulu riwayat-riwayat yang mendasari segala ritual ibadah tadi. Jika riwayat tersebut lemah, bolehlah kita amalkan. Namun dengan pertimbangan yang sudah ditulis di depan. Dan jika riwayat tersebut palsu, tak ada kebolehan bagi kita untuk mengamalkannya.

Sekian.

Penulis: Muhammad Az-Zamami.

Penyunting: Ilham Romadhan


[i] Bunyi lengkap hadis tersebut;

. ٢٦٧٨ أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، قَالَ: حَدَّثَنَا ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ أَبُو الْغُصْنِ، شَيْخٌ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنِي أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، لَمْ أَرَكَ تَصُومُ مِنَ شَهْرٍ مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ، قَالَ: «§ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبَ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ»

ص176 – السنن الكبرى للنسائي – صوم النبي صلى الله عليه وسلم بأبي هو وأمي وذكر اختلاف الناقلين في ذلك – المكتبة الشاملة الحديثة

[ii] Bunyi lengkap hadis tersebut:

٢٤٢٨. حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، عَنْ سَعِيدٍ الْجُرَيْرِيِّ -[323]-، عَنْ أَبِي السَّلِيلِ، عَنْ مُجِيبَةَ الْبَاهِلِيَّةِ، عَنْ أَبِيهَا، أَوْ عَمِّهَا، أَنَّهُ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَأَتَاهُ بَعْدَ سَنَةٍ، وَقَدْ تَغَيَّرَتْ حَالُهُ وَهَيْئَتُهُ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَمَا تَعْرِفُنِي، قَالَ: «وَمَنْ أَنْتَ؟» قَالَ: أَنَا الْبَاهِلِيُّ، الَّذِي جِئْتُكَ عَامَ الْأَوَّلِ، قَالَ: «فَمَا غَيَّرَكَ، وَقَدْ كُنْتَ حَسَنَ الْهَيْئَةِ؟»، قَالَ: مَا أَكَلْتُ طَعَامًا إِلَّا بِلَيْلٍ مُنْذُ فَارَقْتُكَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَ عَذَّبْتَ نَفْسَكَ، ثُمَّ قَالَ: «§صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ، وَيَوْمًا مِنْ كُلِّ شَهْرٍ»، قَالَ: زِدْنِي فَإِنَّ بِي قُوَّةً، قَالَ: «صُمْ يَوْمَيْنِ»، قَالَ: زِدْنِي، قَالَ: «صُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ»، قَالَ: زِدْنِي، قَالَ: صُمْ مِنَ الحُرُمِ وَاتْرُكْ، صُمْ مِنَ الحُرُمِ وَاتْرُكْ، صُمْ مِنَ الحُرُمِ وَاتْرُكْ “، وَقَالَ: بِأَصَابِعِهِ الثَّلَاثَةِ فَضَمَّهَا ثُمَّ أَرْسَلَهَا

ص322 – سنن أبي داود – باب في صوم أشهر الحرم – المكتبة الشاملة الحديثة

Nilai Kami
5/5

Komentar