Ma'had Aly An-Nur II Malang

Khalil al-Farahidi; Pencetus Arudl yang Kompetitif.
Bagikan
Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter

Mungkin kita sering merasa berkecil hati saat kalah bersaing dengan teman. Kemudian putus asa muncul menghujam. Sehingga kalau mental tidak kuat menerima, tubuh akan menyerah dari keadaan. Terlebih, orang yang posisinya di bawah kita yang mengalahkan. Tentu akan lebih sakit bukan?

Mungkin perlu kiranya kita berkaca pada Imam Khalil bin Ahmad Al-Farahidi (100-170 H). Beliau adalah perintis mazhab Bashrah yang begitu produktif. Salah satu karyanya yang terkenal adalah kitab Mu’jamu Al-‘Ain, sebuah kamus Arab yang berisi lebih dari dua belas juta kosa kata. Beliau pula yang menyempurnakan pengharakatan Al-Qur’an, yang sebelumnya hanya berupa titik. 

Ada kisah menarik yang butuh direnungkan mengenai jiwa beliau yang sangat kompetitif. Dikisahkan, beliau memiliki murid super cerdas nan masyhur, Imam Sibawaih (137-177 H). Saking dalamnya keilmuan Imam Sibawaih, banyak orangtua yang memondokkan anaknya ke beliau. Bahkan, satu hal yang  menurut penulis rasanya begitu menyayat hati, santri Imam Khalil pun banyak yang pindah belajar ke Imam Sibawaih. 

Sebab itu, Imam Khalil kemudian melaksanakan ibadah haji ke tanah haram. Beliau berdoa kepada Allah supaya diberi ilmu baru yang tak dimiliki seorang pun di dunia saat itu. Dari sini, jiwa kompetitif Imam Khalil tampak. Kalah dari santrinya tak lantas membuat putus asa atau malah memarahi si santri, malah ingin bersaing secara sehat.

Agaknya, jiwa kompetitif Imam Khalil timbul sebab konsekuensi atas semangat luar biasa beliau dalam masalah ilmu. Tentu, sebagai guru dia ingin muridnya bisa menguasai ilmu secara mendalam. Juga guru akan selalu mendoakan muridnya agar mendapat dapat mudah menyerap ilmu, dan kelak bisa meneruskan perjuangannya dalam menyebarkan agama Islam, layaknya kiai yang senantiasa mendoakan santrinya.  

Perjuangan Imam Khalil tak sampai situ, dalam proses pencarian ilmu baru tersebut banyak kendala yang beliau terjang. Salah satunya kisah saat beliau mulai merancang rumus pembuatan syair, yang kelak akan lahir ilmu baru bernama ilmu ‘Arudl. saat itu, beliau sedang memukul wadah sejenis baskom dengan kayu sambil berdendang, “Faa’ilun… mustaf’ilun… fu’uulun.” 

Suara Imam Khalil terdengar oleh temannya, yang kemudian berlari ke masjid dan memberi tahu orang di sana kalau Imam Khalil telah gila. Pendengar lantas beramai-ramai menuju rumah beliau dan benar, mereka menjumpai Imam Khalil sedang memukul-mukul baskom. Mereka lantas bertanya, “Wahai aba Abdillah (Imam Khalil)! Apa ada masalah yang menimpamu? Bagaimana kalau kami mengobatimu?”

Imam Khalil yang bingung lalu bertanya, “ Ada apa ini?” 

Mereka menjawab, “Temanmu mengira bahwa engkau telah mengalami gangguan mental.” Begitu kerasnya perjuangan Imam Khalil dalam penciptaan imu baru itu. Sampai dikira gila, lho!.

Maka, beberapa lama setelah itu, lahir lah ilmu ‘Arudl  dan Imam Khalil sebagai inisiatornya. Ilmu baru itu pun menyebar luas. Dan kabar baiknya, orang-orang pun kembali ramai yang nyantri kepada beliau, ingin belajar ilmu baru tersebut.

Mengenai ilmu ‘Arudl, ilmu ini adalah ilmu tentang aturan atau rumusan yang digunakan untuk mengetahui benar atau salahnya suatu syair Arab. Penisbatan namanya berasal dari tempat Imam Khalil dalam berkreasi. Yakni tempat antara Mekkah dan Thaif, yang bernama Arudl. Salah satu jasa dirintisnya ilmu ini di antarnya adalah untuk membedakan antara mana yang syair dan mana yang hanya sekedar prosa.

Penulis: Muhammad Miqdadul Anam

Penyunting: Muhammad Az-Zamami

Nilai Kami
5/5

Komentar