Ma'had Aly An-Nur II Malang

Menjadi Brave Figure dengan Mujahadah.
Bagikan
Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter

Al-Jurjani menjelaskan mujahadah sebagai perang melawan nafsu amarah (yang selalu memerintah kepada keburukan) dengan jalan membebaninya apa yang berat dipikul oleh nafsu itu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh agama. Kita juga dapat berkata bahwa mujahadah adalah upaya menghadapi rayuan nafsu yang sifatnya selalu mengajak kepada keburukan. Atau paling tidak, mujahadah mampu menghalanginya dengan melakukan kebaikan serta upaya melawan setan (kekuatan negatif)  yang berada di luar kendali manusia. 

Ini bisa jadi sosok manusia bahkan teman akrab, bisa jadi juga bisikan-bisikan setan yang tidak terlihat tapi mengembuskan dorongan kejahatannya ke hati atau dalih-dalih keburukan ke pikiran manusia. Mujahadah tercermin juga dalam upaya mempertahankan kesucian jiwa dengan mengendalikan nafsu dalam aneka bentuknya seperti dorongan seks dan emosi yang berlebihan.

Demikian juga yang berkaitan dengan emosi benci (amarah), senang ataupun cinta terhadap keluarga atau teman maupun harta benda dan kedudukan. Mujahadah memerlukan kesabaran ekstra, karena menahan gejolak nafsu bukan saja untuk menghalanginya melakukan atau mendorongnya ke arah yang buruk, tetapi lebih daripada itu, mujahadah memerlukan kesabaran menahan gejolak nafsu untuk meraih yang baik bahkan yang lebih baik daripada yang baik. 

Mujahadah antara lain mendorong kegiatan-kegiatan untuk belajar dan mengembangkan pengetahuan. Selanjutnya, untuk mengamalkannya dilanjutkan dengan mengajarkannya.

Satu hal yang perlu dicatat bahwa dalam perang fisik pun, mujahadah diperlukan agar pelakunya tidak menyimpang dari tata cara dan tujuan yang ditetapkan Allah. Selain itu, mujahadah dilakukan agar sesorang tidak menyimpang akibat dorongan nafsu yang sering kali mengobarkan emosi negatif sehingga menganiaya atau menyimpang dari niat demi karena Allah.

Diriwayatkan dalam suatu peperangan, Sayyidina Ali RA  berhasil menjatuhkan lawan beliau dan siap untuk menghabiskannya. Namun tiba-tiba sang lawan meludahi wajah beliau dan serta merta Sayyidina Ali menghentikan duel. Ketika beliau ditanya mengapa beliau bersikap demikian, Sayyidina Ali menjawab bahwa jika ia membunuhnya ketika itu, maka dorongan untuk membunuhnya adalah nafsu yang lahir dari ketersinggungan akibat diludahi dan itu menjadikan beliau tidak lagi murni demi karena Allah.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW adalah sosok manusia yang paling berani. Sayyidina Ali RA berkata, “Aku melihat diriku pada saat perang Badar, dan saat itu kami berada di belakang Kanjeng Nabi. Kanjeng Nabi itu paling dekat dengan pasukan musuh. Beliau adalah sosok paling pemberani pada saat peperangan ini (Badar)”. 

Sayyidina Ali juga berkata, “Saat perang semakin berkecamuk, kami berlindung pada Kanjeng Nabi Muhammad SAW.” Jadi, pada saat itu tidak ada seorang pun yang paling dekat dengan musuh kecuali beliau.

Imran bin Hushain berkata, “Tidaklah Baginda Nabi bertemu dengan segolongan musuh, kecuali beliaulah yang pertama kali menyerang.” Ada lagi kisah menarik yang menyatakan tentang keberanian beliau. Tatkala segerombolan musuh mengepung Baginda Nabi, maka beliau pun turun dari tunggangannya dan dengan keberaniannya, beliau pun berkata, “Aku adalah benar-benar seorang nabi, dan aku adalah cucu Abdul Muthalib.” Jadi beliau tetap maju dan pantang untuk mundur. Kata “mundur” seakan tidak ada bagi beliau saat berperang, saking dari keberaniannya kepada pasukan musuh. 

Banyak sekali saksi para sahabat yang menyeritakan tentang keberanian Baginda Nabi Muhammad SAW. Maka dari itu, kita sebagai umat tidak boleh menyerah untuk meraih sebuah kesuksesan. Dulu jihadnya dengan perang, namun tugas kita sekarang ialah bersungguh-sungguh untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya, karena itu adalah bentuk jihad kita pada zaman ini. Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu A’lam.

*Catatan ngaji Ihya’ ‘Ulumiddin (Adab Al-Ma’isyah wa An-Nubuwwah)

Penulis: Syachrizal

Penyunting: Muhammad Az-Zamami

Nilai Kami
5/5

Komentar