Ma'had Aly An-Nur II Malang

Salat Jamaah: Kunci Persatuan Umat Islam
Bagikan
Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter

Apa yang membuat An-Nur II menempatkan salat jamaah dalam porsi tersendiri hingga ada petugas khusus dalam menertibkan santri untuk berjamaah? Apa sebenarnya motif Kiai Bad membuat aturan santri wajib jamaah? Tentu kalau dilihat dari segi fadilah (keutamaan) akan banyak sekali. Mulai diampuni dosa hingga mudah diterimanya salat kita di sisi Allah.

Lalu, apakah tidak ada maksud lain? Setelah mencari beberapa referensi, ternyata dalam benak muncul suatu kesimpulan tersediri. Mari kita mulai pembicaraan motif terselubung dalam perintah disunahkannya jamaah bagi umat Islam dengan membaca ulang kisah Nabi Ibrahim, kenapa beliau sampai menyandang gelar Khalilullah, Sang kekasih Allah.

Dari keterangan Gus Baha’, Nabi Ibrahim diangkat menjadi kekasih Allah bukan karena kekhusyukan ibadah beliau, melainkan karena pernah menangis saat sujud. Lalu Allah bertanya pada Nabi Ibrahim, “Kenapa engkau menangis?” 

“Saya menangisi-Mu, wahai Tuhanku. Engakau adalah Dzat yang begitu penting, tepi kenapa tidak ada yang menyembahmu selain aku di bumi ini,” jawab Nabi Ibrahim. Akhirnya Allah menajwab, “Ya sudah, kalau begitu aku kirimkan banyak malaikat untuk menemanimu sujud.”

Dari, kisah ini dapat disimpulkan, kalau Nabi Ibrahim memiliki simpati ke selainnya. Buktinya dengan menangis menyesal karena makhluk di sekitarnya tak ada yang mengingat Allah. Berbeda dengan kita selama ini. Kadang rasa bangga akan menghampiri hati kala sudah mampu beribadah saat yang lain lalai. Padahal dengan mengajak yang lain untuk ingat Allah pun tanpa melakukan apa-apa selain itu pahalanya mungkin akan berlipat.

Mudahnya begini, semisal orang punya harta melimpah, mesti di hatinya akan terbesit, walau sedikit, harapan orang akan mengakuinya kalau dia kaya. Sama halnya dengan jamaah, Allah adalah Dzat yang begitu penting, mestinya kita ingin semua orang mengakui kalau Allah adalah Dzat yang agung.

Makanya, disunahkannya salat jamaah biar sama-sama memperlihatkan kalau Allah itu Dzat yang Maha Digdaya. Selain itu, saat menjadi nabi, mengapa Nabi Muhammad begitu intens mengimami jamaah? Jelas, agar Islam terlihat kegagahannya di mata musuh, agar tidak diremehkan. Dengan jamaah pula orang non-muslim mengakui kalau umat Islam itu kompak dengana danya salat jamaah.

Karena itu, semestinya dalam jamaah ada komitmen untuk bersama dalam menggapainya. Sehingga ulama Nusantara memiliki siasat untuk memastikan masyarakat tidak ketinggalan salat jamaah, yakni dengan membudayakan pujian-pujian sebelum ikamah. 

Komitmen ini pun pernah dicontohkan Nabi Muhammad. Itu terjadi ketika Sayyidina Ali terkena kendala dalam perjalanan menuju masjid. Karena tak ingin mendahului orang tua di depannya, beliau memperlambat jalannya yang bisa saja membuatnya tidak ikut jamaah. Namun, betapa gembiranya Sayyidina Ali saat nabi masih belum menyelesaikan rakaatnya karena ada sayap malaikat yang menahan punggung nabi hingga tak dapat berdiri I’tidal.

Maka, perlu kiranya untuk memunculkan kembali empati kita dalam beragama. Tujuannya satu: untuk menjadikan umat Islam ini bersatu. Tak perlu muluk-muluk lah untuk mencapainya. Mulai dari hal kecil seperti rutin berjamaah seperti yang direncanakan Kiai Badruddin. Toh, usaha yang terlalu keras dan tidak istikamah cuma menghasilkan yang namanya rasa lelah.

Penulis: Miqdadul Anam

Penyunting: Muhammad Az-Zamami

Nilai Kami
5/5

Komentar