Ma'had Aly An-Nur II Malang

Sayyidina Umar yang Lucu dan Ideologis
Bagikan
Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter

Tak ada yang paling ditakuti setan dari kalangan sahabat selain Sayyidina Umar. Bahkan hal tersebut menjadi guyonan meme di Instagram: kalau menggoda manusia setan sok garang, melihat Umar malah kabur. Ada kisah menarik bagaimana setan begitu takut dengan putra kebanggaan Pak Khattab ini.

Setelah memeluk Islam, ketegasan Umar ini tak hilang bersama kekafirannya, masih sama dengan sebelumnya. Saat yang lain salat dengan sembunyi, Umar malah terang-terangan salat di depan Ka’bah. Begitu juga saat hijrah, kala yang lain hijrah malam hari, Umar berangkat terang-terangan dengan segerombolan muslim lain, dan tak ada yang berani mengusik.

Hingga nabi pun mengakui keberanian Sayyidina Umar ini.

إِيهٍ يَا ابْنَ الخَطَّابِ ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ ، مَا لَقِيَكَ الشَّيْطَانُ سَالِكًا فَجًّا إِلَّا سَلَكَ فَجًّا غَيْرَ فَجِّك

Wahai anaknya Al-Khattab. Demi Dzat yang memegang jiwaku, sungguh setan tak akan menemuimu dalam satu jalan kecuali ia akan lewat jalan yang lain.” (HR. Tirmidzi).

Namun, jika membahas keberanian Umar kesannya seperti biasa saja. Sebab orang-orang banyak yang tahu bagaimana ketegasan beliau, yang saat masih muda memiliki hobi bergulat. Lalu, bagaimana jika dalam tulisan ini kita membahas sisi lain dari sahabat Umar? Mungkin akan lebih menarik.

Pertama, sedikit orang tahu kalau sahabat Umar pernah berbuat lucu. Kejadian itu terjadi saat perjanjian Hudaibiyah berlangsung. Semua umat Islam sepakat kalau perjanjian itu sangat merugikan mereka. Bagaimana tidak merugikan, kalau ada orang Islam kembali kafir tidak boleh dilarang tapi kalau orang Makkah ingin masuk Islam harus dikembalikan ke Makkah. Dan anehnya, Nabi mengiyakan.

Kecewa lah para sahabat, namun tak ada yang berani membantah. Hanya ada satu yang lantang bersuara. Bisa dipastikan itu sahabat Umar. Lucunya beliau berkata pada nabi, “Nabi, apakah sampai detik ini Anda masih utusan Allah?” Seolah pertanyaan ini hanya main-main belaka. Namun di redaksi hadisnya jelas.

ألست نبي الله حقًّا

Apakah engkau masih nabi Allah?” (HR. Bukhari).

Betapa kucluk-nya Sayyidina Umar berkata demikian, pikir orang yang pikirannya tak jernih. Namun, jika diangan-angan lebih jauh, hal tersebut tak berlebihan mengingat tabiat Umar yang keras. Mungkin itu bentuk komunikasi yang sudah biasa ia lontarkan. Itu dibuktikan dengan kesantaian nabi dalam menjawab. Beliau menjawab singkat, “Iya (Saya masih utusan Allah).”

Selain kisah itu, ada lagi hadis yang menceritakan keunikan Sayyidina Umar ini. Berikut hadisnya yang dapat ditemui di kitab Shahih Bukhari hadis No. 1597 dan No. 1605 serta dapat dijumpai di kitab Shahih Muslim No. 1270 (saya sebutkan nomornya biar pengecekan saya tidak terasa sia-sia, hehe).

إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَإِنِّى أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَأَنَّكَ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَبَّلَكَ مَا قَبَّلْتُكَ

Abbas bin Rabiah menceritakan pengalaman uniknya saat melihat Sayyidina Umar bin Khattab mencium Hajar Aswad. Lucu sebenarnya Umar ini, batu yang mati ia ajak bicara bak orang hidup. Beliau berkata, “Sungguh, aku menciummu dan kamu batu yang tak membahayakan dan tak pula memberi manfaat. Kalau saja aku tak melihat rasulullah SAW menciummu, tak bakal aku menciummu.”

Meski kesannya mengajak bicara batu, itu malah menunjukkan betapa kuatnya ideologi keislaman Sayyidina Umar. Bagaimana tidak, Islam sendiri melarang untuk menyembah batu, sementara Hajar Aswad adalah batu. Sehingga muncul kesalahpahaman orang kafir saat itu kalau umat Islam juga menyembah batu. Maka, Umar hadir dengan perkataannya tersebut untuk menghalau pikiran nakal macam itu. Ia sadar Hajar Aswad hanya batu biasa. Menciumnya bukan sebab apa-apa selain ittiba’, mengikuti Nabi.

Walhasil, Sahabat Umar adalah sosok yang cukup menarik. Bukan hanya terkenal kesangarannya saja, beliau juga cukup lucu jika dipandang dari sudut kelucuan juga pikirannya begitu ideologis. Oh iya, sebenarnya ada lagi sisi lain beliau yang lumayan menyentuh: Sesangar-sangarnya Umar masih bisa menangis, lho.

*disarikan dari website Umma dan ceramah Gus Baha’

Penulis: M. Miqdadul Anam.

Penyunting: Muhammad Az-Zamami.

#fikihindustri #ngajisakkuliahe

Nilai Kami
5/5

Komentar