Ma'had Aly An-Nur II Malang

Seminar Ilmu Arudh: Upaya Menjadi Penyair Muda Modern Yang Ulung
Bagikan
Facebook
Telegram
WhatsApp
Twitter

Jumat, 30 Oktober-2020, tepatnya bada Asar, mahasantri Ma’had Aly An-Nur II berbondong-bondong menuju ruang seminar untuk mengikuti kuliah tamu yang mengahadirkan dua pemateri; Gus Anwar Muhammad dari An-Nur 5 Pasuruan (cucu KH. Anwar Nur), dan Gus Ahmad Nawawi Bin Amir (Cucu KH. Abdul Jalil) Sidogiri Pasuruan.

Mukadimah disampaikan oleh beliau kiai Ahmad Zainuddin bin Badruddin, selaku Mudir Am Ma’had Aly An-Nur II. Dari pengantarnya beliau tampak pandai bersyi’ir Arab, terbukti dengan menyebut (baca: membacakan) beberapa syair yang telah rampung disusun.

Kemudian disambung Gus Anwar Muhammad sebagai pemateri pertama. Beliau pernah menulis cerpen yang kemudian terbit sebagai antologi Santri Bejo Menantu Kiai. Acara inti dimulai setelah Gus Anwar menyampaikan pengantar sekilas terkait ilmu ‘arudh yang kemudian diurai lengkap oleh Gus Ahmad Nawawi bin Amir. Beberapa titik penting yang beliau ungkap adalah kiat-kiat mudah membuat syi’ir. Di umur masih muda, Gus Nawawi sudah menerbitkan satu kitab pedoman mengarang syair bagi pemula dengan judul; Kun Sya’iran Mufliqan (Jadilah Penyair Ulung). Kitab ini ditulis dengan bahasa arab yang lugas dan menjangkau kaum milenial utamanya muda-mudi pesantren.

Kata Gus Anwar (mengutip maqalah habib Abdullah bin Alawi l\Al-Haddad; Ilmu arudh itu ilmu satu jam (‘ilmu as-Sa’ah). Isyarat bahwa sebenarnya belajar dan mengerti ilmu arudh itu mudah. Dan (barangkali) itu tercermin pada Gus Nawawi yang di masa belia sudah cakap perihal syair-menyair. Agaknya, kata Gus Nawawi, kunci memahami Ilmu arudh adalah memahami definisi serta komponen yang menyusunnya. Ilmu arudh diartikan; kalimat berbahasa arab yang ditulis dengan tata wazan (pola dasar) dan sengaja dijadikan syair.

[transitionslider id=’3′]

Hanya dengan mengetahui dua hal itu, kiranya, untuk memahami yang lain akan mudah. “Yang buat pusing sebenarnya bukan memahami ‘arudh, tetapi menghafal istilah-istilahnya.” Kata Gus Nawawi yang disusul kekehan Mahasantri. Ada berbagai macam istilah dalam ilmu arudh antara lain; Shadr (bagian teerdepan syair), bait (satu susunan syair) ‘arudh (bagian terakhir bait pertama), dharb (bagian akhir syair), mathla‘ (bagian paling awal dari bait pertama), ‘ajuz (bagian kedua dari kontruksi bait) dan sebagainya.

Acara berlangsung dengan lancar. Para mahasantri juga mengikutinya dengan semangat dan menunjukkan besar rasa ingin tahunya terhadap syair. Tampak waktu Gus Nawawi membuka sesi pertanyaan, mereka pun dengan cepat mengacungkan tangan untuk mengajukan sebuah pertanyaan. Pertanyaan itu pun dijawab dengan gamblang oleh Gus Nawawi yang juga masih mondok di Dalwah (Dar al-Lugah wa Al-Da’wah) Pasuruan. Beliau masih muda, bahkan kata kiai Zainuddin, “Saya melihat Gus Nawawi ini seperti melihat kalian (Mahasantri).” Dengan umurnya yang masih sangat muda, namun sudah sangat berbakat dalam bersyi’ir Arabi.

Kegiatan kuliah tamu ini berlanjut pada halaqah kedua dan dimulai setelah isya. Hawa malam dengan suguhan kopi, mahasantri tetap antusias mengikuti kegiatan ini dengan sempurna. Pemateri mulai memberi waktu prakiek membuat syair saat itu juga. Banyak sekali di antara mereka membacakan syairnya langsung di hadapan pemateri sekaligus mentashih kesesuaian syair yang dikarang dengan kaidah dalam bersyair. Acara malam itu berakhir sekitar 22.00 WIB.

Sabtu pagi hari halaqah ketiga berlanjut. Mahasantri sudah siap di tempat beberapa menit sebelum seminar dilanjut. Di lokasi, mereka mengulang apa yang telah dipelajari kemarin malam.

Pagi itu, tampaknya pemateri lebih bersemangat dari dua pertemuan sebelumnya lebih karena melihat mahasantri cukup memahami esensi dengan waktu singkat sekaligus mampu mempraktikkan ilmu syair. Contoh-contoh syair seperti burdah, nadhoman Alfiyah, dan syair-syair lain seperti burdah Ka’ab bin Zuhair dan syair konteporer Ahmad Syauqi (amiru al-Syuara) diurai bersama sesuai dengan kaidah yang telah disampaikan. Acara berakhir sekitar pukul 11.30 WIS kemudian berlanjut dokumentasi foto bersama pemateri.

Syaichu Rizal, Mahasantri Semester I 

#ngajisakkuliahe #fikihindustri #kampuspojok

Nilai Kami
5/5

Komentar